Tanggapi Masalah Pendidikan, Prof. Daniel: Pemerintah Sekarang sangat Sekuler dan Liberal


TintaSiyasi.com-- Menanggapi masalah pendidikan Islam di Indonesia Pakar Pendidikan dan Peradaban Islam Prof. Daniel M. Rosyid, Ph.D., MRINA menyatakan, pemerintah sekarang sangat sekuler dan liberal.

“Pemerintah sekarang dengan Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 memang sangat sekuler dan liberal, “ tegasnya dalam acara Diskusi Publik: Ancaman Sekulerisme Pendidikan Islam di Indonesia, Kamis(25/03/2021) di YouTube Pustaka Channel. 

Ia mengungkapkan, ancaman sekuler pendidikan Islam di Indonesia sudah terjadi sejak lama, terutama di masa Orde Baru. Upaya tersebut adalah instrumen teknokratis penyiapan tenaga kerja bagi kepentingan investasi, terutama investasi asing.

"Jadi saya kira kita memang sudah diarahkan ke sana secara sistematis, bagi saya ini sebenarnya kesempatan kita untuk tidak terlalu bergantung pada sekolahan lagi. Teutama sekolah-sekolah pemerintah," ujarnya. 

Ia mengatakan, umat harus menyadari bahwa sekolah-sekolah pemerintahan yang ada sekarang sebenarnya tidak dimaksudkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, apalagi meningkatkan kualitas umat Islam.

Lebih lanjut ia menilai, permintaan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) untuk mengubah materi agama kelas XI adalah permintaan terakhir dari proses sekulerisasi. Sekulerisasi besar-besaran di sekolah-sekolah pemerintah adalah kesempatan bagi keluarga untuk melakukan pendidikan Islam di rumah.

“Tujuan pendidikan itu supaya kita bisa mengatakan laa tusyrik billah (dilarang menyekutukan Allah ﷻ) dan asyhadualla ilaha illallah (pengesaan kepada Allah ﷻ), seperti nasihat Lukman pada anaknya. Itu tidak pernah terjadi pada konsep persekolahan. Persekolahan begitu memonopoli secara rapi cara pendidikan kita. Sehingga kita hampir kecanduan dengan persekolahan,“ paparnya. 

Ia mengatakan, perlunya penguatan pendidikan keluarga dan dibangunnya kurikulum sendiri oleh sekolah Islam. Menurutnya, umat Islam tidak perlu banyak mengeluh, karena memang skenario seperti itu. 

“Jadi, saya kira tendensinya sudah makin jelas. Kita bisa respons secara positif, progresif, dan partisipatif mengambil langkah-langkah menyelamatkan pendidikan anak-anak kita. Kalau dikasih tahu masih ngeyel ya kita habis tenaga nanti. Sebab, kalau kita tergantung pada pemerintahan yang sekuler ini, kita celaka,“ pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar