Tanggapi Kebijakan Impor Beras, Pakar Pertanian: Banyak Logika Dagangnya daripada Kepentingan Petani



TintaSiyasi.com-- Menanggapi kebijakan pemerintah yang akan mengimpor satu juta ton beras di tengah petani panen raya, Pakar Pertanian Dr. Ir. Hermanu Triwidodo, M.Sc., menyatakan, banyak logika-logika dagang yang dipakai daripada kepentingan untuk petani.

“Jadi banyak logika-logika dagang yang dipakai daripada kepentingan-kepentingan petani. Kalau cepat rusak kan cepat beli lagi,” ungkapnya dalam acara Focus Group Discussion Special Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD): Kebijakan Impor Beras; Demi Apa & Untuk Siapa? Kamis (18/03/2021) di kanal YouTube PKAD.

"Bagaimana kalau pedagang itu pikirannya duit duit melulu lah. Kalau petani kan enggak. Bagaimana menyelamatkan alamnya, menghidupi keluarganya, bagaimana hidup jujur. Kan beda dengan pedagang," tuturnya

Ia mengungkapkan, zaman dulu orang menyimpan dalam bentuk gabah, tidak ada dalam bentuk beras. Kalau mau makan baru digiling gabahnya. 

“Saya selalu mengeluarkan hot feeling, bagaimana menghadapi tahun depan. Panen pertama kita pasti berlimpah. Tetapi panen kedua dan ketiga mungkin kita akan banyak menghadapi kendala. Ini ilmu titen (analisis) nenek moyang dan diverifikasi dengan ilmu saya,” ujarnya. 

Ia mengatakan, pertama terbukti panennya berlimpah. Kondisi ini disarankan supaya petani menyimpan hasil panennya tiga kali dari biasanya, agar di pasar tidak melimpah dan harganya jatuh. Kedua, menyimpan untuk tiga kali musim panen karena biasanya ad halangan ke depan yaitu banyak gagal panen. 

Ia mengungkapkan, tidak ada yang memikirkan terobosan-terobosan supaya harga beras petani tidak anjlok. Bulog tak berani mengambil langkah untuk menyerap beras petani. Kementan juga tidak melakukan antisipasi.

“Selalu keluhannya petani tidak bisa masukkan ke Bulog, karena kualitas beras kadar airnya di atas 25 persen. (Padahal) itu kesempatan ngambil. (Karena Bulog tidak ambil) jadi saya ngambil. Saya ngomong agak keras. Kalau kita ngomong-ngomong gini, jangan-jangan kita pakai pikiran-pikiran, maaf kalau ada yang kecurian teriak maling-maling. Malingnya enggak akan berhenti,” katanya.

Ia mengungkapkan, catatan penting terkait defisit neraca pangan. Ada sekitar sebelas atau dua belas provinsi yang selalu defisit. Distribusinya perlu diatur. Indonesia luas, satu daerah panen, satunya tidak. Bulog bisa kerjasama dengan marinir (Angkatan Laut) bekerjasama dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) untuk mengambil gabah dari satu daerah di bawa ke daerah yang lain.

“Jadi, saya menganjurkan ada perlawanan tapi tidak pakai sistem politik lah. Jadi ada gerakan rakyat yang kita dorong untuk dihubungkan dengan konsumen. Jadi kalau mau membantu petani mungkin itu yang harus dilakukan,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar