Sikapi Bom Makassar, Analis Politik Islam: Jangan Kaitkan dengan Islam



TintaSiyasi.com-- Merespons pernyataan Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono terkait ledakan bom di Makassar (28/3/2021), Analis Politik Islam Dr. Riyan, M.Ag. tegaskan, ada tiga poin, salah satunya jangan kaitkan dengan Islam. 

“Ada tiga poin yang ingin saya tegaskan (sebagai) kata kunci awal. Pertama, dalam kaitannya dengan peritiwa semacam bom ini, penting kita ingatkan agar jangan sampai kemudian seolah-olah ada pengaitan peristiwa ini dengan Islam,“ ungkapnya dalam Kajian Siyasi: Ada Apa di Balik Bom Makasar? Senin (29/03/2021) di kanal YouTube Ngaji Shubuh.

Ia menegaskan kepada publik untuk tidak mengaitkan peristiwa tersebut dengan Islam dan isu radikalisme. "Kemudian sisi lain Islamnya sendiri  dikaitkan dengan radikalisme. Karena ini adalah bagian daripada opini yang harus dikritisi. Sehingga seolah-olah kemudian isu radikalisme itu adalah lekat dengan islam. Dan simbolisasinya dengan bom tersebut," jelasnya

Kedua, ia prihatin dan mengutuk keberadaan bom Makassar tersebut, di tengah kondisi wabah yang belum selesai dan berbagai persoalan negeri lainnya begitu luar biasa terjadi. "Tapi poin pentingnya adalah, tentu kita sangat prihatin terhadap peristiwa ini dan jatuhnya korban, termasuk di dalamnya adalah pelakunya. Ini seharusnya tidak terjadi," ujarnya.

Ketiga, ia memberi dorongan kepada pemerintah agar tetap fokus kepada problematika utama yang terjadi. "Sehingga jangan sampai bom ini mengalihkan pada upaya untuk mengatasi persoalan tentang masalah sekulerisme radikal dan kapitalisme yang berdampak buruk. Karena nanti akan menimbulkan dampak yang disebut public distrust," bebernya. 

"Jangan sampai peristiwa tadi sudah diselesaikan (peristiwa bom) tadi sudah diselesaikan, tapi jangan melupakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di masyarakat sebelumnya," imbuhnya.

Ia mengatakan, misalnya, ketika mendengar secara langsung dan mengamati, bagaimana kaitan rencana impor beras, penyelesaian kasus KM 50, wabah pandemo, utang luar negeri yang semakin meroket, dan ketidakadilan hukum di tengah-tengah masyarakat. "Itu juga belum dituntaskan," tegasnya.

"Peristiwa ini jangan sampai membuat kita kehilangan fokus, khususnya pemerintah, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang kemudian itu adalah akibat daripada penerapan sekulerisme radikal dan kapitalisme tadi yang berdampak di semua aspek kehidupan,” pungkasnya.[] Reni Tri Yuli Setiawati

Posting Komentar

0 Komentar