Seolah Menegukkan Racun Kepada Masyarakat


Pencemaran lingkungan beriring dengan perjalanan peradaban manusia semakin meningkat. Meski peradaban semakin maju, nyatanya pencemaran lingkungan menjadi momok yang belum ditemukan titik tuntas penyelesaiannya. Segala cara telah ditempuh para ilmuwan, tetapi sia-sia, kerusakan lingkungan karena pencemaran ini semakin mengerikan. 

Dengan wacana ini, ibarat menegukkan racun kepada rakyat, pemerintah Indonesia masih berfikir untuk mengeluarkan dendrit untuk menghapus limbah batu bara dari kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Ketentuan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 

PP tersebut adalah aturan turunan dari Undang-undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Ciptaker). PP 22/2021 itu sendiri diteken Presiden RI Joko Widodo pada 2 Februari 2021 untuk menggantikan PP Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.

Dalam ketentuan baru, jenis limbah yang dikeluarkan dari kategori Limbah B3 itu adalah Fly Ash dan Bottom Ash (FABA). Limbah ini merupakan jenis limbah padat yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap PLTU, boiler, dan tungku industri untuk bahan baku atau keperluan sektor konstruksi. (katadata.co.id)

Ditengarai, dikeluarkannya UU ini berkaitan dengan desakan dari Asosiasi Pengusaha Indonesi (Apindo). Organisasi peduli energi dan lingkungan, Trend Asia, menyebutkan dalam akun Twitter-nya bahwa penghapusan itu tidak terlepas dari desakan simultan Apindo dan Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI-ICMA) yang menjadi bagian di dalamnya sejak pertengahan tahun 2020.

Aneh, jika ada yang menyatakan FABA tidak termasuk ke dalam limbah B3. Buktinya, analisis di lapangan berkata lain. Guru besar pulmonologi dan ilmu kedokteran respirasi dari Universitas Indonesia, Faisal Yunus, menjelaskan abu batu bara dapat menciptakan penyakit pernafasan yang disebut pneumokoniosis pekerja tambang (coal worker pneumoconiosis), karena terjadi endapan elemen dari abu batu bara yang bersifat anorganik (tidak hidup) dalam paru-paru.

Abu batu bara berbahaya jika memiliki konsentrasi yang tinggi, mengandung silikon bebas, masyarakat sekitar PLTU memiliki kesehatan yang rendah, dan memiliki penyakit tuberkolosisi. (www.google.com)

Selain itu limbah yang ada juga bisa merusak hasil pertanian. Belum lagi jika terjadi hujan debu yang akan mengganggu aktivitas masyarakat dan risiko kematian tinggi. 

Jika dicermati, UU ini sebatas kedok para pengusaha sebagai tindakan meminimalisir pengeluaran biaya untuk mengelola limbah batu bara. Limbah batu bara yang diklaim dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan dan tak berbahaya hanya alasan untuk memperlancar usaha mereka. Mereka ingin mengeluarkan biaya yang sedikit, tapi memiliki keuntungan tinggi. Tak peduli jika berisiko besar bagi masyarakat sekitar. Karena para pebisnis adalah orang yang individualistik dan materialistik. 

Lalu mengapa pemerintah tetap mengiyakan UU ini? Ini layak menjadi pertanyaan bagi kita semua. Apakah pemerintah tega melihat semakin banyak warga yang mengidap penyakit pernafasan berat yang berakhir pada kematian karena penyakit itu ataupun karena rentan terpapar Covid-19. 

Pemerintah tak peduli, itu yang pasti. Bukannya jajaran pejabat di pemerintahan adalah mereka yang terpilih untuk menjalankan keinginan partainya dan para cukong yang membiayai kampanye mereka? Semua dilakukan karena balas budi dan pembayaran utang yang diberikan para pengusaha agar para penguasa bisa duduk di kursi kekuasaan. Maka tak aneh, apapun yang diminta para pengusaha akan mereka kabulkan dengan segera. 

Bagi kita rakyat Indonesia, seakan tak ada gunanya lagi berharap pada pemerintahan seperti ini. Suara jerit rakyat tak terdengar oleh telinga-telinga penghuni istana. Sistem demokrasi kapitalistik semakin menyengsarakan rakyat. Hanya suara para kapitalis yang nyaring terdengar, negara seakan telah berubah menjadi pelayan para korporat.

Sudah saatnya umat terbebas dari sistem ini, satu-satunya solusi akhir untuk menghentikan kesengsaraan kita adalah mencampakkan sistem kufur buatan manusia ini menggantinya dengan sistem buatan Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta. Sistem itu ialah Islam, sistem yang telah terbukti menyejahterakan umatnya selama berabad-abad. 

Dalam hal limbah ini, Islam jelas-jelas melarang umatnya membuat kerusakan di muka bumi. Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surah al-A’raf ayat 56, ‘’Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik…’’

Rasulullah saw juga mengingatkan umatnya agar tak melakukan pencemaran dan kerusakan di muka bumi. Nabi saw bersabda, ‘’Terlaknat orang yang melakukan kerusakan terhadap sesama Muslim ataupun lainnya.’’ Sikap Rasulullah yang melaknat pelaku kerusakan lingkungan merupakan bukti bahwa Islam cinta kelestarian alam.

Islam pun menjelaskan adab bagi umat Muslim agar tak mengganggu tetangganya karena pencemaran. Mengutip kitab al-Ahkam al-Sulthaniyah Abi Ya’la 301. ‘’Apabila pemilik rumah membangun dapur api di rumahnya dan asapnya mengganggu tetangganya, maka hal itu tidak boleh".

Allah Swt. juga berfirman yang artinya:
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan. (QS al-Syuara’ [26]:183)

Dan juga firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Al-Rum [30]: 41)

Rasulullah juga bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُالصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَنْ قَتَلَ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا، أَوْ أَحْرَقَ نَخْلًا، أَوْ قَطَعَ شَجَرَةً مُثْمِرَةً، أَوْ ذَبَحَ شَاةً لِإِهَابِهَا لَمْ يَرْجِعْ كَفَافًا رواه أحمد.

Diriwayatkan dari Tsauban, khadim Rasulullah saw. yang mendengar Rasulullah saw. berpesan, “Orang yang membunuh anak kecil, orang tua renta, membakar perkebunan kurma, menebang pohon berbuah, memburu kambing untuk diambil kulitnya itu akan merugikan generasi berikutnya” (HR. Ahmad).

Dalam islam pula nyawa begitu dihargai. Satu nyawa setara dengan 1000 onta. Oleh karena itu, tidak mungkin seseorang berani dan dibiarkan membunuh orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

Penguasa pun tidak akan membiarkan pencemaran lingkungan terjadi. Ia tak mungkin membiarkan begitu saja orang-orang maupun kelompok manapun untuk menyengsarakan rakyatnya. Karena ia memiliki ketakwaan tinggi. Ia tau konsekuensi di hadapan Allah jika mengkhianati rakyat dan amanahnya sebagai pengayom umat. 

Jadi, masihkah berharap pada pemimpin di sistem demokrasi kapitalistik ini? Tidakkah ingin hidup sejahtera jika sistem Islam diterapkan di negeri ini? Dengan menerapkan syariat Islam secara kaffah di bawah naungan khilafah 'ala minhajin nubuwah. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Wafi Mu'tashimah 
(Siswi SMAIT Al-Amri)

Posting Komentar

0 Komentar