Sambut Ramadhan, Ajengan YRT: Paling Utama Persiapkan Ruhiyah dan Ilmu



TintaSiyasi.com-- Menyambut datangnya bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, Mudir Khadimus Sunnah Bandung Ajengan Yuana Ryan Tresna mengingatkan, yang utama kaum Muslimin harus mempersiapkan ruhiyah atau spiritual dan ilmu agama.

“Persiapkan dari sekarang agar sukses menjalani ibadah Ramadhan, yaitu, paling utama persiapan ruhiyah dan ilmu,” tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Ahad (28/3/2021).

Ia mengatakan, kita bisa belajar dari Rasulullah Saw, sebelum bulan suci tiba, Rasulullah Saw telah mempersiapkan diri, termasuk jiwa baginda Saw guna menyongsong kehadiran bulan yang mulia ini. “Ramadhan di masa Rasulullah Saw bukan hanya suasana puasa, tarawih, kajian, tetapi juga peperangan dan jihad.” terangnya.

“Dengan pondasi keimanan yang kokoh, akan melahirkan sikap pasrah, berserah diri dan tidak ada keberatan sedikitpun dalam menjalankan perintah Allah SWT,” ungkapnya.

Selanjutnya ia mengatakan, ada hikmah dari kewajiban berpuasa yaitu takwa sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. al-Baqarah: 183, agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa. "Caranya dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah yang harus jadi fokus kita," terang Ajengan YRT.
 
Ia pun menjelaskan, arti dari sebuah ketaatan hakiki bagi seorang Muslim adalah saat kita tunduk, patuh dan tidak ada keberatan sedikitpun dalam menjalankan seluruh ketetapan Allah SWT. 

“Dimensi ketaatan bukan hanya individu. Ketaatan juga harus berwujud pada sisi kehidupan yang lain, yakni dalam kehidupan masyarakat dan negara. Hal itu diisyaratkan dalam beberapa ayat al-Quran, diantaranya QS. Saba’ ayat 15 dan QS. Al-A’raf ayat 96,” tambahnya.

Ia menerangkan, makna dari QS. Saba’ ayat 15 yaitu terdapat termbaldatun thayyibatun wa rabbun ghafur”. Ringkasnya, mengisahkan perihal bangsa Saba’ yang Allah anugerahkan sumber daya alam amat luas dan subur, kehidupannya sejahtera dengan bentangan kebun di kiri kanan mereka, sehingga tak kekurangan suplai bahan makanan dan buah-buahan. 

“Atas itu kemudian mereka diperintahkan supaya bersyukur kepada Allah. Sebab, kemakmuran negeri mereka berkat karunia Allah yang telah mencukupi kebutuhan hidup juga melindungi mereka dari segala malapetaka,” tegasnya.

"Kemudian dijelaskan pula dalam kitab Ma’alim al-Tanzil atau yang lebih dikenal dengan Tafsir al-Baghawi, bahwa maksud dari perintah bersyukur kepada Allah pada ayat di atas, yaitu hendaknya bangsa Saba’ berlaku taat kepada Allah," jelasnya.

Selain itu ia menjelaskan, terdapat juga dalam QS. Al-A’raf ayat 96, Allah Swt berfirman yang artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya,” paparnya.

“Jadi jelas sekali, sebab datangnya keberkahan adalah taat, dan sebab datangnya siksa adalah karena tidak taat (mendustakan ayat-ayat Allah SWT),” pungkasnya.[] Liza Burhan

Posting Komentar

0 Komentar