Saat Wabah Menggurita di Zaman Penuh Fitnah


Ada sebuah hadis dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassalam, yang selayaknya kita renungkan kembali, terkhusus dalam kondisi seperti saat ini. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Setelah itu akan terjadi fitnah duhaima’, yang tidak membiarkan seorang pun dari umat ini kecuali akan ditamparnya dengan tamparan yang keras. Ketika orang-orang mengatakan, “fitnah telah selesai”, ternyata fitnah itu masih saja terjadi. 

Di waktu pagi seseorang dalam keadaan beriman, namun di waktu sore ia telah menjadi orang kafir. Akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: golongan beriman yang tidak ada kemunafikan sedikit pun di antara mereka, dan golongan munafik yang tidak ada keimanan sedikit pun di antara mereka... (HR. Abu Dawud no. 3704, Ahmad no. 5892, dan Al-Hakim no. 8574. Disahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi).

Sungguh menakutkan sekali hadis diatas bagi yang mau memikirkan. Dan tidakkah kita rasakan dahsyatnya fitnah dan tipu daya dimasa-masa sekarang ini? Di dunia nyata maupun dunia maya sungguh mudah tersebar berita maupun opini yang setelah ditelusuri ternyata bukanlah berita yang benar


Bagaimana dengan Wabah Covid-19?

Keberadaan wabah Covid-19 pun dikelilingi dengan beragam fakta kebenaran dan opini hoax. Munculnya varian baru Covid-19 memunculkan dua pendapat di masyarakat, ada yang mempercayainya ada yang tidak. Padahal berita terkait hal ini sudah banyak beredar di media massa. 

Sebagaimana diberitakan Liputan6.com, Jakarta - Indonesia telah dimasuki mutasi varian baru virus Corona B117 yang pertama kali sempat ditemukan dan merebak di Inggris. Kabar tersebut pada awalnya disampaikan Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono, Selasa, 2 Maret 2021. 

Tak berselang lama, sehari setelah pernyataan Dante, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil melaporkan temuan varian baru virus Corona B117 di wilayahnya, tepatnya di Karawang. Dia menyebut, mutasi dari SARS-CoV-2 itu sudah menjangkiti dua warga Karawang.

"Varian baru ternyata diberitakan sudah ada di Indonesia, sudah masuk di Karawang. Oleh karena itu, kami sudah melakukan pelacakan dan meminta kalau boleh tim dari Unpad untuk meneliti UK B117 ini," kata pria yang karib disapa Emil itu di RSP Unpad, Kota Bandung, Rabu, 3 Maret 2021.


Sebuah Babak Drama

Ada headline menarik yang penulis baca di instagram pandemictalks. Sebuah akun yang konsisten menyampaikan info seputar Covid-19. Dikutip dari ig pandemictalks 13 Maret 2021, artikel dengan judul Dracor (Drama Corona). Kondisi sosial yang terjadi pada saat pandemi ini menunjukkan kecenderungan masyarakat coba mensiasati dan mencari celah protokol kesehatan pandemi. Apa sajakah sikap-sikap Dracor tersebut? Diantaranya, pura-pura protokol kesehatan padahal hanya untuk pencitraan saja, pake face shield tanpa masker, di kantor patuh protokol kesehatan pulang kantor hang-out, berkerumun namun sengaja tidak diupload di media sosial agar tidak dibully, melarang anak sekolah tapi ajak anak pergi ke tempat ramai.

Diakui atau tidak, dracor-dracor semacam ini memang dilakukan sebagian kalangan masyarakat. Sebab-sebab munculnya drama corona ini, diantaranya pandemic fatigue (kelelahan fisik dan mental karena pandemi), tidak paham konteks pandemi, ingin kesenangan sesaat, tidak cerdas secara sosial dan sikap acuh tak acuh.


Iman kuat dan Cerdas Bersikap

Keimanan yang kuat dan kecerdasan dalam menyikapi setiap permasalahan merupakan modal berharga di tengah pandemi Covid-19. Keyakinan dalam menerima semua ketetapan Allah, termasuk yakin dengan semua syariatNya merupakan benteng yang kokoh untuk keluar dari pandemi. Disisi lain kepercayaan yang penuh pada pendapat para ahli yang mumpuni di bidangnya, merupakan ikhtiar yang seharusnya setiap Muslim lakukan dalam keseharian.

Salah satunya adalah terkait protokol kesehatan yang sudah berkali-kali disampaikan oleh para ahli sejak awal kemunculan wabah di negeri ini. Namun inilah namanya manusia, yang seringkali merasa paling tahu, hingga mengabaikan saran para ahli dalam protokol kesehatan. Terkhusus sebagai seorang Muslim yang beriman, selayaknya kita muhasabah diri, menundukkan ego dan ambisi kita agar pandemi ini segera berakhir. 

Dikutip dari (Republika.co.id) artikel dengan judul "Kebijakan Amr bin Ash Saat Terjadi Wabah di Wilayah Syam" -- Setelah Mu'adz wafat (karena menjadi korban wabah tha'un) maka diganti Amr bin Ash, sebagai Gubernur Syam. Ia kemudian berkhutbah: "Wahai manusia. Penyakit ini jika terjadi sama seperti berkobar-kobarnya api. Maka menjauhlah kalian ke gunung-gunung." Amr pergi dan orang-orang pun pergi. Mereka berpencar-pencar. Dan Allah menjauhkan penyakit itu dari mereka. Kabar itu sampai kepada Umar bin Khattab (selaku Amirul Mukminin, pemimpin umat Islam). Demi Allah, Umar tidak membencinya. (Musnad Ahmad).

Di hadis yang lain: "Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu." (HR Bukhari-Muslim)

Di atas adalah syariat yang sudah jelas dalam menyikapi pandemi. Dan solusi inipun harusnya dilakukan oleh semua pihak secara bersama-sama. Baik itu negara (sebagai pihak yang bertanggungjawab pada urusan rakyat), masyarakat, dan kita (individu yang hidup di negeri ini).

Sehingga ketika syariat diatas diterapkan, maka tidak akan ada solusi-solusi parsial semacam lockdown lokal (misal lockdown satu gang karena ada yang positif corona di tempat tersebut) dan lainnya, yang ternyata tidak menyelesaikan permasalahan.

Dan sikap kita sebagai masyarakat awam yang tidak tahu ilmunya, tentu patuh dengan solusi para ahli yang ternyata juga sejalan dengan solusi Islam yang pernah dikeluarkan di masa kepemimpinan Umar Bin Khattab. 

Wa ma tawfiqi illa billah, 'alayhi tawakkaltu wa ilayhi unib.[]

Oleh: Dahlia Kumalasari

Posting Komentar

0 Komentar