Retorika Slogan Benci Produk Asing


Beberapa waktu yang lalu, Presiden menggaungkan benci produk asing dan meminta rakyat untuk ikut serta menyukseskan slogan yang diyakini akan mampu menaikkan pamor produk lokal. Hal itu cukup membuat para pelaku industri dan pertanian sedikit tersenyum dan memiliki harapan baik untuk masa depan produk mereka. Namun tidak berselang lama pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk impor beras dengan alibi untuk mencukupi kebutuhan dan kesediaan pangan.

Pemerintah akan impor 1 juta-1,5 juta ton beras dalam waktu dekat ini.  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan itu dilakukan demi menjaga ketersediaannya di dalam negeri supaya harganya tetap terkendali (Cnnindonesia.com, 4/3/2021).

Sudah berulang kali pemerintah membuat kebijakan dan meminta rakyat untuk mengikuti apa yang telah dikeluarkan oleh penguasa dan di saat yang sama rakyat dibuat kecewa dengan fakta yang ada di lapangan tidak sesuai dengan apa yang pemerintah gaungkan. 

Padahal saat ini di beberapa wilayah sedang melakukan panen raya. Artinya secara otomatis kesediaan pangan akan mampu tercukupi jika pemerintah memberi akses pada petani untuk pendistribusian hasil panen mereka. 

Miris, saat ini petani menangis dengan membanjirnya produk-produk asing yang telah menguasai pasar lokal. Bagaimana mungkin para petani akan bersemangat untuk menggarap lahan pertaniannya jika biaya yang mereka keluarkan sangat besar tetapi ketika tiba waktunya panen, tiba-tiba harga hasil panennya jatuh. Pada akhirnya petani mengalami kerugian secara sistemik yang selalu terulang setiap kali mereka panen raya.

Rakyat dituntut untuk selalu patuh dengan kebijakan-kebijakan yang pemerintah keluarkan. Sedangkan pemerintah tidak memperhatikan kesulitan yang rakyat alami. Pemerintah saat ini lupa akan perannya sebagai wakil rakyat, padahal mereka dipilih oleh rakyat untuk mengurusi seluruh kebutuhan rakyat dan digaji menggunakan uang rakyat.

Berbeda sekali dengan Islam, seorang pemimpin akan sangat bertanggungjawab akan amanah yang mereka emban. Pemimpin dalam Islam sadar bahwa apa yang dibebankan di atas pundak mereka adalah tanggungjawab yang sangat besar di hadapan manusia terutama di hadapan Allah kelak karena mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka pimpin. 

Maka pantaslah jika kita memilih pemimpin harus sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan. Kewajiban kita adalah patuh dengan apa yang telah Allah perintahkan tanpa mencari alasan untuk menerapkan hukum yang lain.

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin; sebagian mereka adalah pemimpin-pemimpin dari yang sebagian. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka pemimpin di antara kamu, maka sesungguhnya dia itu telah tergolong dari mereka. Sesungguhnya Allah tidaklah akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS al-Maidah: 51).
Wallahu a'lam.[]

Oleh: Lutfiatul Khasanah

Posting Komentar

0 Komentar