Rencana Impor Beras Satu Juta Ton, Researcher at Core Indonesia: Mestinya Dibatalkan, Sebab Rugikan Petani



TintaSiyasi.com-- Menanggapi rencana pemerintah impor 1 juta ton beras, Reaseacher at Core Indonesia Muhammad Ishak menilai, hal tersebut harusnya dibatalkan, sebab hanya akan merugikan petani.

"Pemerintah semestinya membatalkan rencana itu, sebab hanya akan merugikan petani," tuturnya kepada TintaSiyasi.com, Rabu (17/3/2021).

Menurutnya, tidak ada alasan yang kuat (untuk impor). Maka, jangan salahkan jika sebagian masyarakat berspekulasi bahwa impor itu hanya membuka peluang pencari rente yang dekat dengan kekuasaan untuk meraup untung dari impor tersebut. "Bukan rahasia lagi, impor pangan sering kali ditunggangi oleh pemburu rente para kapitalis yang berkolaborasi dengan kekuasaan," katanya.

Ia menjelaskan, stok Badan Urusan Logistik (Bulog) juga masih sangat besar sekitar 900 ribu ton. Selain itu, inflasi beras dalam dua tahun terakhir relatif stabil, artinya tidak ada problem penurunan suplai di pasar beras. "Kalau pun pemerintah mau meningkatkan cadangan wajib atau iron stock untuk mengantisipasi hal-hal yang di luar perkiraan, maka semestinya ia menyerap beras domestik yang naik tersebut, bukannya dari impor," ujarnya.

Ia menilai, pertama, kebijakan itu tidak benar-benar berbasis data yang akurat, padahal data-data itu dikeluarkan oleh lembaga pemerintah sendiri. Kedua, rencana impor dilakukan menjelang panen raya pada bulan Maret dan April. Hal itu, justru dimanfaatkan oleh tengkulak mempermainkan harga di tingkat petani.

"Tidak ada alasan teknis yang dapat menjadi pembenar untuk melakukan impor beras saat ini," tegasnya. 

Ia menjelaskan, pertama, produksi tahun ini tidak mengalami gangguan yang mengganggu produksi, seperti kekeringan, hama yang berdimensi luas, atau pun bencana alam. "BPS juga memperkirakan produksi tahun ini diperkirakan naik 5 persen, ditambah lagi produksi tahun lalu yang lebih tinggi, sehingga suplai di pasar domestik akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Pada Januari-April, BPS memproyeksikan produks beras naik 3 juta ton dari tahun lalu ke angka 14,5 juta ton," terangnya.

Kedua, impor tersebut mengakibatkan harga di beberapa sentral produksi turun akibat isu impor beras ini. Dengan demikian, ia menyimpulkan, yang dirugikan adalah petani domestik. Padahal, selama ini nilai tukar petani (NTP) cenderung turun. "Artinya tingkat kesejahteraan petani menurun. Nah, kebijakan ini pasti akan membuat mereka kembali gigit jari," tegasnya.

Ketiga, pada tahun 2018, pemerintah mengimpor beras sekitar 1,8 juta ton dengan alasan untuk kebutuhan stok. Tapi, ia melihat, kenyataannya menurut laporan Bulog sebagian beras teras tersebut telah rusak. "Ini artinya impor tersebut belum dibutuhkan," pungkasnya.[] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar