Politik Islam Mewujudkan Anak Muda Cerdas dan Peduli Umat

Berdasarkan survey penduduk tahun 2020-2021, penduduk Indonesia didominasi oleh anak-anak muda. Tentu Indonesia patut berbangga dengan bertaburnya generasi Z dan generasi millenial. Pasalnya Indonesia tak bakal kekurangan generasi penerus bangsa ini. Saat ini jumlah mereka bahkan paling banyak dari seluruh populasi di Indonesia. Mereka akan menjadi calon pemimpin bangsa yang potensial bila sejak dini negara ini mendudukkan mereka di posisi yang strategis sebagai agent of change

Sebagai agent of change, anak muda dituntut untuk cerdas dan peduli rakyat. Anak-anak muda perlu diajak duduk bersama memikirkan persoalan bangsa dan penyelesaiannya.  Negara tidak boleh membiarkan anak muda tenggelam dalam hingar bingar gaya hidup hedonis dan materealistis yang menjauhkan mereka dari rasa empati dan peduli terhadap masalah rakyat. Oleh karena itu, mengajak anak-anak muda ini terlibat dalam aktivitas politik suatu hal yang niscaya.

Baru-baru ini Indikator Politik Indonesia melakukan survei ini pada 4-10 Maret 2021 kepada 1.200 responden anak-anak muda yang  berusia 17-21 tahun.  Salah satu hasilnya mayoritas atau lebih dari 50 persen anak muda netral (antara setuju dan tidak setuju) terhadap pernyataan keistimewaan untuk Islam sebagai kelompok agama mayoritas. Pernyataan yang dimaksud antara lain Indonesia harus diperintah sesuai hukum/syariat Islam, orang Islam di Indonesia harus mendapatkan perlakuan istimewa dibandingkan kelompok agama lain, serta etnis Tionghoa seharusnya punya hak atau keistimewaan yang lebih sedikit dibandingkan umat Islam. Berikutnya sebanyak 39 persen anak muda menyatakan keberatan jika orang non Muslim menjadi presiden, sedangkan anak muda yang tidak keberatan 27 persen, dan tergantung 28 persen. Selain itu mayoritas anak muda (49,4 persen) menilai persoalan radikalisme mendesak untuk segera ditangani pemerintah. Kemudian, sebesar 41,6 persen anak muda menyatakan persoalan radikalisme harus menjadi perhatian serius pemerintah karena sangat mengancam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Sementara, 24,1 persen anak muda menilai pemerintah tidak adil terhadap umat Islam, radikalisme hanya ditujukan kepada umat Islam saja.  Bagaimana dengan kepercayaan terhadap partai politik? Hasilnya sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Sebanyak 25,7 persen anak muda yang menilai para politisi sudah cukup baik mendengarkan aspirasi.

Hasil survey menunjukkan bahwa anak- anak muda masih memiliki kepedulian terhadap masalah bangsa dan antusias berbicara masalah politik. Hanya saja terlihat bahwa anak muda masih galau antara melihat perlunya perubahan politik dan ketidakfahaman terhadap sistem politik alternatif. Ini terlihat ketika mereka menilai bahwa issue radikalisme adalah persoalan mendesak yang harus segera ditangani oleh pemerintah. Padahal kenyataannya  persoalan yang menimpa negeri ini adalah persoalan  kesenjangan sosial (kemiskinan,  pengangguran dan kelaparan) yang diciptakan oleh sistem kapitalisme. Belum lagi persoalan kesehatan dengan kasus corona yang belum juga tertangani dengan baik sampai saat ini karena split orientation pemerintah yang lebih berpihak pada pemilik modal melalui kebijakan PSBB dan lain-lain dengan mengabaikan kesehatan rakyat.   

Lebih-lebih lagi hasil survei ini  memperlihatkan sikap tak percaya diri anak-anak muda dengan syariat Islam sebagai solusi alternatif. Tampaknya issue radikalisme yang diluncurkan oleh pemerintah telah berhasil menciptakan frame negative di kalangan anak-anak muda terhadap syariat Islam kaffah dan khilafah.  Padahal keduanya adalah solusi jitu terhadap semua problematika bangsa ini. 

Kegalauan anak-anak muda ini makin terlihat ketika mereka memiliki anggapan bahwa politisi dan partai politik saat ini tidak  mampu mengatasi persoalan. Namun, mereka  masih berharap penyempurnaan praktik demokrasi menjadi solusi. Terbukti banyaknya anak-anak muda yang terjun dalam dunia politik praktis entah sebagai politisi ataukah sebagai kepala daerah.

Kenyataan berbicara bahwa demokrasi dalam posisinya sebagai sistem kehidupan yang tengah diberlakukan di masyarakat, realitasnya adalah dalang dari berbagai permasalahan yang ada saat ini, include permasalahan anak-anak muda. Kebijakan yang dibuat dalam sistem demokrasi bersifat parsial sehingga tetap tidak mensejahterakan dan melindungi  umat. Dengan prinsip kebebasannya, suara mayoritas masyarakat telah dibeli oleh suara minoritas yang berkepentingan seperti para kapital (pemilik modal) sehingga sebesar apapun keterlibatan anak-anak muda yang kritis dalam demokrasi tetap tak akan menyelesaikan persoalan bangsa.  

Inilah bukti kegagalan sistem demokrasi. Demokrasi yang lahir dari asas sekularisme, telah merebut hak Allah SWT dalam membuat aturan/sistem kehidupan dan memberikannya pada akal manusia yang sifatnya terbatas. Demokrasi pun telah gagal dalam memenuhi aspirasi politik rakyat termasuk aspirasi anak-anak muda. 

Adalah hal yang penting mendudukkan peran politik anak-anak muda dalam konteks kekinian dalam upaya mengembalikan posisi sebagai umat terbaik. Sebelumnya perlu dipahami dahulu konteks politik dalam Islam. Berbeda dengan konsep politik ala demokrasi yang berkutat seputar kekuasaan dan legislasi saja, konsep politik Islam meliputi pemeliharaan urusan umat di dalam maupun di luar negeri baik menyangkut aspek negara maupun umat. Dalam hal ini, negara bertindak langsung sebagai pengatur dan pemelihara umat sedangkan umat bertugas  sebagai pengawas dan pengoreksi pelaksanaan  peraturan oleh negara. 

Oleh karena itu dalam Islam tidak masalah, apakah posisi seseorang menjadi penguasa ataupun menjadi rakyat biasa. Keduanya memiliki kewajiban yang sama  dalam memajukan Islam dan umat. Semuanya itu adalah problematika umat yang harus diselesaikan secara bersama-sama. Ketika anak-anak muda berupaya memfungsikan segenap potensi insaniyahnya untuk menyelesaikan problematika umat, hakekatnya dia sudah melakukan aktivitas politik.

Berpolitik bagi anak-anak muda merupakan tanggung jawab dalam menentukan arah, warna dan pola kehidupan suatu bangsa baik sekarang dan yang akan datang dalam koridor takwa. Bukan semata-mata untuk meraih posisi tertentu dalam kekuasaan  atau kehidupan publik. Namun esensi kiprah tersebut merupakan bagian dari kewajibannya yang datang dari Allah dan sebagai bentuk komitmen terhadap penyelesaian problem masyarakat manusia.  Tentu  saja tujuan ini searah dengan citra anak-anak muda sebagai agent of change.

Last but not least, menjadi politisi muda sejati meniscayakan dirinya memiliki kesadaran politik Islam. Kepekaan terhadap persoalan-persoalan umat harus dibarengi pembinaan pemikiran dengan wawasan keislaman skala global. Pembinaan dan pencerdasan politik ini penting demi kejernihan visi dan kejelasan misi. Dengan keduanya, lahir anak-anak muda sebagai  politisi cerdas sekaligus peduli umat yang menjadi inspirator dan motivator umat untuk berjuang meraih predikat umat terbaik dalam naungan institusi Khilafah Islamiyah.[]

Oleh: Indah Kartika Sari, SP
(Pegiat Opini Islam)

Posting Komentar

0 Komentar