Polisi Ungkap 144,5 Ton dan 12 Hektare Ladang Ganja, Indonesia Justice Monitor: Masih Puncak Gunung Es



TintaSiyasi.com-- Menanggapi temuan 144,5 ton dan 12 hektare ladang ganja di Mandailing Natal, Sumatera Utara sebagaimana dirilis Polres Metro Jakarta Barat, Selasa (9/3), Dr. Riyan dari Indonesia Justice Monitor mengungkapkan bahwa hal itu sebenarnya masih puncak gunung es. 

“Kalau kita bicara dari sisi darurat, ini sebenarnya masih puncak gunung es,” ungkapnya dalam Kabar Malam: Darurat Narkoba: 144,5 Ton Dan 12 Hektar Ladang Ganja! di saluran Youtube News Khilafah Channel, Rabu (10/03/2021).

Menurutnya, itu artinya yang tampak baru aspek-aspek permukaan saja. Sementara yang lebih bawah, ia yakin dari fakta-fakta yang ada, penemuan ini mengindikasikan bahwa masih tersimpan banyak persoalan serius terkait peredaran dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Ia juga menduga, hal ini tidak mungkin berjalan secara individu.

“Kalau melihat fakta ini, saya kira kok, tidak mungkin berjalan secara individu atau hanya sekelompok kecil,” ujarnya.

Menurutnya, penemuan 144,5 ton ganja dan 12 hektare ladangnya ini baru di satu daerah. Sementara itu, ia menambahkan bahwa dalam beberapa data, banyak daerah lain yang ditemukan hal yang sama sehingga mengindikasikan Indonesia menjadi bagian jejaring narkoba.

“Artinya Indonesia bukan hanya sekadar itu. Banyak yang mengatakan hanya menjadi transit saja. Sekarang ini, sangat kuat bisa diduga bahwa Indonesia menjadi bagian jejaring, mulai dari produksi hingga sampai ke distribusi,” ungkapnya.

Dr. Riyan menduga, terdapat indikasi banyak pihak terlibat mengingat beberapa waktu lalu terdapat kasus oknum polisi kedapatan berpesta bersama 11 anak buahnya.

“Itu artinya apa? Sudah sangat terindikasi bahwa jaringan ini sudah ke mana-mana begitu. Walaupun, sekali lagi yang baru muncul, artinya yang terkena yang sifatnya masih bawah. Saya kira ini sudah sudah bisa dibaca sebagai sesuatu yang memang betul-betul sangat mengkhawatirkan karena aparat terlibat di dalam kasus-kasus ini,” ujarnya.

Menurutnya, penangkapan ini perlu diapresiasi. Namun, juga patut diwaspadai. “Artinya begini, satu sisi harus diapresiasi adanya penangkapan penangkapan tadi itu. Tapi, pada sisi yang lain, ternyata aparat juga memiliki titik-titik lemah yang kemudian dijadikan sebagai pintu untuk tetap eksisnya peredaran narkoba tadi,” pungkasnya.[] Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar