Polemik Peta Jalan Pendidikan Nasional, Prof. Syahidin: Kental Tujuan yang Bersifat Pragmatis



TintaSiyasi.com-- Menanggapi polemik hilangnya frasa agama dalam Peta Jalan Pendidikan Indonesia tahun 2023-2035, Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Syahidin, M.Pd. menilai, peta jalan tersebut lebih kental kepada tujuan yang sifatnya pragmatis.

“Aspek tujuan ini lebih kental kepada tujuan yang sifatnya pragmatis,” ungkapnya dalam Focus Group Discussion #10: Peta Jalan Pendidikan Indonesia di saluran Youtube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (13/3/2021).

Ia mengatakan, pendidikan mana pun jika tujuannya berbasis pada keimanan, maka akan mendapatkan kebahagiaan duni dan akhirat. "Kalau ini? Kental sekali mencapai kebahagiaan dunia. Jadi, akhirat seolah-olah dihilangkan. Makanya, frasa agama dianggap tidak perlu," tandasnya.

Prof. Syahidin, sapaan akrabnya, menuturkan bahwa peta jalan mestinya mengimplementasikan undang-undang sisdiknas (sistem pendidikan nasional) sehingga tujuannya merujuk pada Undang-Undang Sisdiknas, yaitu (mewujudkan) manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia dan hal itu adanya di pendidikan agama.

“Itu instrumen utama 3 kata itu (iman taqwa akhlak mulia ). Itu kan agama itu? Pendidikan agama,” tegasnya. 

Syahidin menampik alasan pengesampingan agama karena melihat di negara maju tidak ada agama dan tidak ada pelajaran agama. Menurutnya, tingkat kejahatan dan bunuh diri lebih besar terjadi di negara-negara yang dianggap maju. “Nah ini saya kira tidak serta merta negara maju itu bahagia hatinya dan juga segala macamnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, peta jalan pendidikan yang lebih menonjolkan budaya sementara menggerogoti nilai-nilai keimanan, tidak akan menjamin masyarakat Indonesia akan sejahtera di tahun 2035.

“Apakah dengan peta jalan ini dengan tujuan yang seperti disampaikan itu dijamin bahwa masyarakat Indonesia tahun 2035 itu akan sejahtera? Saya kira enggak juga. Sementara nilai-nilai keimanannya digerogoti bahkan cenderung diabaikan,” imbuhnya.

Karena itu, ia menilai timbulnya kecurigaan dan reaksi yang kuat dari masyarakat terkait hal ini merupakan sesuatu yang wajar.

“Saya kira ini, kecurigaan-kecurigaan ini dari masyarakat ya wajar. Karena upaya mereka yang menghendaki hal-hal semacam itu tidak pernah berhenti,” ungkapnya. 

Ia menduga hal ini mengindikasikan suatu hal yang mengarah pada ghazwul (perang) ideologi. “Kalau kita berbicara masalah ghazwul fikri, ini bukan ghazwul fikri lagi. Ghazwul ideologi itu, mah ya. Yang sekarang sudah ghazwul ideologi namanya. Sudah mengarah ke sini. Ketika ada reaksi di masyarakat, baru bersembunyi lagi,” pungkasnya. [] Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar