PGI Minta Menag Revisi PAI, Pengamat: Ada Upaya Memarginalkan Agama di Dunia Pendidikan



TintaSiyasi.com-- Menanggapi usulan yang disampaikan oleh Gumar Gultom Pengurus Persatuan Gereja Indonesia (PGI) yang meminta agar melakukan revisi materi pelajaran Pendidikan Agama Islam, Pengamat Sosial dan Politik Ustaz Iwan Januar mengatakan, ada upaya memarginalkan agama di dunia pendidikan.

“Ada sebuah upaya yang tersirat kita bisa tangkap, ingin memarginalkan dan mengecilkan keberadaan agama di dunia pendidikan,“ ungkapnya dalam acara Kabar Malam: Menjaga Kemurnian Akidah Islam di Kanal Youtube Fokus Khilafah Channel, Jum’at (19/03/2021).

Menurutnya, masalah tersebut merupakan persoalan keyakinan, masuk dalam ranah akidah dan tidak bisa ditawar-tawar. “Tidak ada korelasi dengan masalah kerukunan umat beragama, karena kalau berbicara kerukunan umat beragama, di dalam ajaran Islam ini kategorinya adalah masalah muamalah, bukan masalah akidah,” jelasnya. 

“Di dalam masalah hubungan yang dimaksud dia sebagai kerukunan beragama, tempatnya bukan di sana, As Syariah ketika berbicara masalah hubungan sesama manusia, Al Qur’an mengajarkan kita untuk melakukan yang namanya tasamuh, (toleransi) dan juga taawun (tolong-menolong)," jelasnya. 

Serta ia kutip sebuah hadis, Nabi Saw mengatakan, siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tetangganya. Ia menjelaskan, yang dimaksud tetangga dalam hadis tersebut adalah umum, baik beragama Islam maupun di luar Islam. 

Menurutnya, Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terlalu cepat merespon permintaan dari PGI tanpa berkonsultasi dulu dengan ormas-ormas Islam maupun dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Kenapa kemudian enggak ada konsultasi? Apakah persoalan ini pantas untuk ditindaklanjuti atau kah ditolak. Nah, yang kita khawatirkan, ini kemudian ada sebuah upaya untuk memarginalkan peran agama Islam dalam dunia pendidikan,” tegasnya. 

Ia menjelaskan, persoalan akidah merupakan dalil yang qath’i (pasti). “Kalau Undang-undang (UU) buatan manusia itu direvisi wajar, tapi kalau masalah akidah mau direvisi, berarti ini kan menabrak semua hal-hal yang sudah sebagian besar itu qath'i," bebernya. 

"Apalagi kalau masalah kitab suci itu harus sudah qath'i, ini mau dibongkar, digantikan dengan bahasa revisi, mau dibongkar kemudian diajarkan kepada pelajar Muslim, bahwa apa yang disampaikan dalam Al Qur’an tidak benar ini kan jadi kacau, berbahaya, malah fatal,” imbuhnya.  

Ia khawatir akan terjadi yang namanya proses sekularisasi. Karena menurutnya, hal itu masalah akidah, jika semakin didangkalkan, akibatnya akan muncul sekularisasi, pluralisme, bahkan menganggap semua kitab suci sama-sama suci.

"Nah, ini yang berbahaya, dan lagi-lagi ini menyangkut akidah, yang di situ kalau ada kebocoran, ada cacat seorang Muslim dalam akidah ini bisa membuat batal keimanan,” pungkasnya. [] Ade Sunandar

Posting Komentar

0 Komentar