PGI Minta Menag Revisi Buku PAI, UIY Nilai Ada Upaya Pengarusutamaan Pruralisme



TintaSiyasi.com-- Merespons permintaan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom kepada Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas agar merevisi buku Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas XI  SMA, Cendikiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) mengatakan, ada yang sedang berupaya pengarusutamaan pluralisme.

"Saya melihat ini sedang dicoba diarusutamakan, di-mainstream-kan, apa yang disebut dengan paham sinkretisme atau pluralisme agama," tuturnya dalam Fokus Khilafah: PGI Offside? Senin (8/3/2021) di kanal Fokus Khilafah Channel.

Ia menjelaskan, pruralisme agama adalah suatu paham yang menyamaratakan semua agama atau biasa disebut sinkretisme (suatu proses perpaduan yang sangat beragam dari beberapa pemahaman kepercayaan atau aliran-aliran agama). Ia mengutip pendapat Hans Kung, seorang teolog pruralisme agama, kurang lebih mengatakan, agama hanya jalan lain menuju kepada kebenaran yang sama.

UIY mempertanyakan, kebenaran yang sama itu apa? Ia menjelaskan terkait yang dikatakan Hans Kung adalah kebenaran Tuhan. Hans Kung mengibaratkan agama seperti bangunan yang berbeda hanya pada aspek eksteriornya, seperti solat, puasa, zakat, haji, misa ke gereja. Sedangkan dalam aspek interiornya sama, yaitu sama-sama meyakini Tuhan. Wajar jika Hans Kung disebut teolog pluralisme agama. UIY menilai, paham seperti Hans Kung yang sengaja coba untuk dikembangkan sekarang.  

"(Dalam) paham pruralis agama itu, tidak boleh ada truth claim, tidak boleh ada klaim kebenaran. Semua agama harus dianggap benar, Hal-hal yang menunjukkan truth claim itu harus dibersihkan, termasuk false claim (klaim kesalahan)," bebernya.

"Nah! Apa yang ditulis dalam pelajaran agama kelas VIII dan kelas XI SMA itu, dianggap sebagai klaim kesalahan. Selain klaim kebenaran, klaim kesalahan. Itu yang tidak boleh. Kemudian selfish claim, klaim keselamatan, juga tidak boleh. Bahwa semua agama sama juga nanti, akan membawa kepada surga. Oleh karena itu, tidak perlu berkelahi, dan perlu ada kerukunan. Hal semacam ini yang kelihatannya ingin dituju," bebernya.

Menurutnya, inilah yang menjadi tanda-tanda berkembangnya pruralisme agama. Hal itu, tampaknya senada dengan apa yang ditangkap oleh PP Muhamadiyah di dalam press release-nya yang baru. "Mereka (PP Muhammadiyah) mengatakan, mereka kaget, di dalam peta jalan pendidikan itu kok sama sekali tidak ada disinggung sama sekali soal agama. Jadi, agama dianggap sebagai faktor disadvantage begitu. Bukan faktor advantage dari negara ini," bebernya.

Selanjutnya, ia menilai, ada upaya menyebarkan pluralisme agar agama dapat disamaratakan. Sehingga kebangkitan Islam dapat dibendung melalui pluralisme. 

"Jadi jelas sekali, jangan diharap ada kebangkitan Islam dan umatnya. Karena mereka tidak ingin dan merasa terancam. Sebab potensi besar kekuatan aktual dan itu harus mereka cegah sedini mungkin dengan cara menyebarkan pruralisme agama," pungkasnya.[] Witri Osman


Posting Komentar

0 Komentar