Pernikahan Dini Butuh Sistem yang Memadai sebagai Solusi


Ramainya kabar soal Aisha Wedding telah memicu fenomena gunung es di Indonesia soal perkawinan di bawah umur atau pernikahan dini. Sejatinya, pernikahan di Indonesia telah ditentukan batas bawah usianya baik perempuan dan laki-laki pada UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan. Namun, fenomena pernikahan dini itu masih terjadi dengan syarat ada dispensasi atau keringanan berkaitan dengan adat dan keyakinan atau agama. (CNN Indonesia)

Senada dengan hal tersebut Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin, menyatakan perkawinan bermakna ibadah dan melaksanakan sunah Rasulullah yang harus didasari keikhlasan, tanggung jawab, ketentuan dan hukum positif. Untuk itu perlu diselesaikan di hulunya yaitu memahami petunjuk agama dan negara agar memiliki bekal memadai dalam menjaga keturunan dan keluarga yang sejahtera. “Dibutuhkan konseling pranikah agar pasangan siap,” ungkapnya.

Terlihat bahwa Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti memaparkan data bahwa pada Januari-Juni 2020 setidaknya terdapat 33.664 dispensasi usia menikah yang dikabulkan di seluruh wilayah Indonesia. Angka itu, kata dia, merujuk pada data yang dihimpun Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung. Dini mengatakan angka riil soal pernikahan di bawah umur mungkin lebih besar dari itu karena tak mencakup perkawinan secara agama atau siri dan adat. "Nah ini tidak ketahuan berapa banyaknya," ujar Dini.

Sebagaimana Hal ini juga diungkap oleh Deputi Menteri PPPA, Lenny N. Rosalin, SE, M.Sc., M.Fin secara virtual pada Seminar Nasional dan Deklarasi Gerakan Nasional Pendewasaan Usia Perkawinan untuk Peningkatan Kualitas SDM Indonesia yang ditayangkan kanal TVMUI dan Kemen PPPA (18/3/2021).

Menurutnya, pernikahan dini atau perkawinan anak akan menurunkan derajat kesehatan ibu dan anak serta meningkatkan risiko kematian ibu dan anak saat persalinan, termasuk menghambat akses pendidikan dan meningkatkan kemiskinan. Sehingga, perlu ada tindakan pencegahan perkawinan anak dan meningkatkan batas usia pernikahan menjadi 19 tahun.

Dari kasus ini kita dapat melihat bahwa begitu dangkalnya metode pemerintah dalam menyelesesaikan permasalahan yang terjadi  di tengah masyarakat. Karena kondisi permasalahan ini tertuju pada generasi muda yang labelnya adalah sebagai penerus bangsa.  Tampaknya memang permasalahan pernikahn dini dari dulunya hingga saat ini ada tinggal jejak sebagai solusi nyata. Malahan Jika dilihat adalah semakin tingginya kasus perceraian, yang  penyebabnya adalah ketidakharmonisan, rasa tidak bertanggung jawab, masalah ekonomi, pihak ketiga dan lainnya. Paling tinggi perceraian disebabkan gugat cerai yaitu 70%. Dan korbannya adalah perempuan dan anak.

UU perkawinan baru juga memuat aturan dispensasi perkawinan, maupun konseling pranikah tidak bisa menjadi solusi untuk memadamkan permasalahan nikah dini yang berdampak negatif pada sistem kapitalisme ini. Karena pada dasarnya jika di sisi yang lain, sarana yang mengantarkan pergaulan bebas seperti film-film murahan, lagu-lagu picisan, dan berbagai tayangan yang mengumbar aurat dan membangkitkan syahwat, dibebaskan tanpa ada larangan.

Bahkan tidak pernah ada peraturan yang melarang pergaulan bebas, yang ada justru melegalkan aborsi untuk memberi solusi kehamilan akibat pergaulan bebas. Jelas semakin tidak bisa menyelesaikan permasalahan di sistem ini. Bagimana sebenarnya sistem Islam dalam menangani pernikahan dini?

Sebelumnya kita harus memahami bahwa pernikahan dini tidak dilarang dalam Islam.
Mengenai pernikahan dini dalam Islam, bahwa hukumnya boleh (mubah) secara syar’i dan sah seorang laki-laki dewasa menikahi anak perempuan yang masih kecil (termasuk yang belum haid). Dalil kebolehannya ada di dalam Al-Qur’an dan Sunah.

Dan upaya melarang pernikahan dini bisa dianggap salah satu bentuk kedurhakaan, karena apa yang telah dihalalkan Allah Swt., tidak boleh diharamkan manusia. Menurutnya pernikahan dini diperbolehkan (halal), selama tidak ada paksaan dan telah ada kesiapan dari kedua belah pihak yang akan menikah. Yaitu kesiapan ilmu, kesiapan materi atau kemampuan memberi nafkah, serta kesiapan fisik. Karena pada dasarnya  kedua belah pihak telah saling mempersiapkan diri untuk menikah dan menjalani kehidupan pernikahan menurut syariat Islam, sehingga terwujud rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Semua ini akan terwujud karena dalam Islam memiliki aturan preventif yakni aturan dalam pergaulan yang mencegah berbagai penyimpangan dan kerusakan; seperti pacaran, pergaulan bebas, hamil di luar nikah, aborsi, pemerkosaan, serta pencabulan. Jelas bahwa larangan pernikahan dini dengan pembatasan usia 19 tahun jelas bertentangan dengan syariat Islam.  Dalam Islam, pernikahan dini tidak dilarang, bahkan bisa menjadi solusi menjauhkan anak-anak muda dari keburukan zina dan menjaga kehormatan mereka. Karena konsep dalam sistem Islam menerapkan peraturan yang bersumber dari Al-Qur'an yakni sesuai dengan fitrah manusia memuaskan akal. Wallahua'lam.[]

Oleh: Siti Hajar

Posting Komentar

0 Komentar