Perempuan Butuh Sistem Islam Kaffah, Bukan Kesetaraan Gender


Saat ini tema seputar kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan selalu menghiasi perayaan International Women’s Day di setiap tahunnya. Adakah peringatan ini berpengaruh bagi penyelesaian masalah bagi kaum perempuan?

Seperti yang kita ketahui tanggal 8 maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional. Pada momen ini para pegiat gender mengevaluasi hasil kerja mereka dalam menyelesaikan problem yang dihadapi perempuan. Kerena sejatinya peringatan ini adalah hari memperingati penderitaan perempuan yang menyedihkan dalam sistem demokrasi liberal ini. 

Karena sistem yang tidak berpihak kepada kaum perempuan, akhirnya timbul nestapa yang tak kunjung berkesudahan bagi kaum perempuan. Perempuan kehilangan pedoman bagaimana menjaga fitrah dirinya dan menjalankan perannya secara adil yang sesuai syariat.

Semua itu tidak lepas dari sistem kapitalis sekuler yang menilai segala sesuatu dari materi dan menafikan agama dari kehidupan. Sehingga muncul pandangan sekuler tentang kedudukan perempuan dan laki-laki adalah sama, yang lebih populer dengan sebutan kesetaraan gender.

Dalam pandangan kapitalis, perempuan yang berada di rumah menjalankan tugas sebagai ibu pengurus rumah tangga, dianggap menganggur dan tidak produktif. Karena dalam pandangan kapitalis, semua dinilai dengan materi semata.

Mereka ingin perempuan pergi keluar rumah mencari kerja atau bekerja, yang penting perempuan tidak sekadar di rumah mengerjakan urusan rumah tangga dan mendidik anak-anak mereka saja.

Karena itu, muncul pendapat jika seorang laki-laki bebas beraktivitas di ruang publik, maka perempuan pun juga harus sama. Demikian juga dalam mengambil keputusan di ranah publik, perempuan juga bisa dijadikan sebagai pimpinan yang bisa menentukan keputusan dalam suatu pemerintahan.

Padahal Islam memberi aturan yang jelas tentang hal ini, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadist: “Tidak akan beruntung suatu kaum yang urusan (pemerintahan) mereka dipimpin oleh seorang perempuan.” (HR Bukhari No. 4013).

Padahal ide kesetaraan gender yang menyasar kaum perempuan mengharuskannya setara dengan laki-laki dalam hal penghasilan, pendidikan dan karir politik  mendorong Muslimah untuk jauh dari syariah bahkan menentang agamanya sendiri. Muslimah tanpa sadar telah dipaksa mengambil beban ganda, yakni peran laki-laki sekaligus tetap memikul peran sebagai perempuan. Dari sini justru perempuan jauh dari pemenuhan haknya, karena sesuai fitrahnya seorang perempuan bukanlah punya peran seperti laki-laki yang bertanggung jawab akan penafkahan keluarga.

Maka, perempuan butuh perubahan sistem masyarakat dari sistem sekuler menjadi Islam, dari sistem liberal yang menuhankan kebebasan menjadi syariat Islam yang serba taat. Karena Allah SWT menciptakan manusia dalam dua jenis yang mempunyai potensi dasar yang sama sebagai manusia, namun laki-laki dan perempuan punya karakteristik yang berbeda sesuai jenis kelaminnya.

Laki-laki dan perempuan sama-sama hamba Allah, punya kewajiban yang sama dalam hal kewajiban ketakwaan kepada Allah. Namun ada peran dan tanggung jawab yang berbeda dengan memperhatikan fitrah masing-masing. Dan ini bukanlah bentuk diskriminasi, peran mereka saling melengkapi, ada kerja sama dan hubungan yang saling membutuhkan antara laki-laki dan perempuan yang sesuai syariat. 

Dalam sistem Islam, seorang perempuan boleh saja bekerja, boleh menjadi dokter, guru, peneliti, perawat, ilmuwan, peneliti, pengusaha dan lain sebagainya dengan tidak mengabaikan tugas domestik dan fitrahnya sebagai seorang perempuan.

Peran utama seorang perempuan bukanlah peran yang bisa dianggap remeh, ada tugas sebagai pendidik, ulama, manajer rumah tangga, pengatur keuangan, menghadanah putra-putrinya yang kadang juga bisa berperan menjadi koki, dokter hingga psikolog bagi anak-anak calon penerus peradaban.

Sistem Islam akan mengurangi dampak negatif akibat kehadiran perempuan di ruang publik, perempuan terjaga dari pergaulan bebas, campur baur laki-laki dan perempuan yang bisa berakibat pada terjadinya pelecehan terhadap perempuan.

Oleh karena itu, perempuan tidak selayaknya berharap pada sistem sekuler kapitalis, apa lagi menelan mentah-mentah ide kesetaraan gender yang merupakan racun yang disebar oleh para pengusung leberalisme.

Sudah saatnya kaum perempuan menggunakan eksistensinya untuk memperjuangkan syariah Islam kaffah, agar bisa menghadirkan  keadilan dan kesetaraan yang sesuai dengan syariat Allah SWT. Karena kemuliaan perempuan akan terjaga jika didukung oleh sistem yang shahih, yaitu sistem Islam kaffah dalam naungan daulah. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Isty Da'iyah

Posting Komentar

0 Komentar