Perbankan Syariah, Panggilan Kapitalismekah?


Dikutip dari finance.detik.com (14/3/2021), Wakil Presiden K.H. Ma'ruf Amin dalam peresmian Shafiec -Sharia Finance and Digital Economy- dan Forum Nasional Keuangan Syariah menyebutkan untuk menjadi pusat ekonomi syariah global, Indonesia harus meningkatkan pengembangan produk halal, ekonomi syariah, dana sosial syariah dan pengembangan perbankan syariah.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Hery Gunardi mengatakan BSI -Bank Syariah Indonesia-  aktif melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi terkait implementasi kurikulum keuangan syariah, penelitian, pengembangan produk serta layanan bank syariah. BSI juga berkomitmen untuk melayani lebih dari 20 juta nasabah dan menjadi top 5 bank berdasarkan aset dan nilai buku menjadi Rp. 50 trilyun di tahun 2025. 


Munculnya Bank Syariah

Perbankan syariah muncul setidaknya didorong dua faktor. 

Pertama, panggilan iman kaum Muslimin untuk terbebas dari praktek ribawi dan keinginan ekonomi yang barakah. Baik Muslim dengan strata ekonomi atas, menengah, menengah ke bawah, selama ia  bertakwa pasti menginginkan keberkahan atas amal ekonomi mereka. Termasuk dalam bertransaksi diperbankkan. Inilah panggilan iman yang mendorong para ekonom Muslim mendirikan perbankan syariah. Tanpa iman, seseorang akan berat dengan hal yang berbau syariah.

Kedua, panggilan kapitalisme. Kapitalisme adalah ideologi dengan faktor kapital sebagai unsur  yang paling menonjol. Kapitalisme tidak mampu menjawab keinginan kaum Muslimin untuk bebas dari praktek ribawi kecuali dengan mengembalikan kepada ajaran ekonomi Islam. Maka diberikanlah ruang bagi umat Islam untuk mempraktekkan ekonomi syariah. 


Panggilan yang Menentukan

Dua panggilan -iman atau kapitalisme- tersebut akan menentukan muamalah perbankan syariah dan perjuangan umat Islam. 

Jika panggilan iman yang menggerakkan pelaku perbankan syariah, dari tataran penggelola, pekerja, hingga nasabah, maka yang terjadi berikutnya adalah pergerakan umat Islam mewujudkan penerapan Islam secara kaffah. 

Fakta perbankan syariah yang mampu bertahan di tengah pandemi, sebagaimana disampaikan oleh Menkeu Sri Mulyani (bisnis.tempo.co, 12/3/2021) akan menyadarkan umat Islam akan kebenaran konsep syariah dan Islam rahmatan lil'alamin. Sehingga tidak cukup dengan mengambil untung dari sebagian syariah, yakni ekonomi Islam saja, tetapi berlanjut pada penerapan syariah Islam lainnya.
 
Kuatnya sektor keuangan syariah karena berdiri mengikuti petunjuk Allah SWT. 

Allah SWT berfirman, " ... Supaya harta itu tidak hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu ..." (Qs. Al Hasyr: 7)

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Qs. Al Baqarah: 275)

Dengan demikian, jika aktivitas ekonomi syariah yang berjalan saat ini atas panggilan iman maka tidak akan berpijak pada kapital dan laba semata, akan tetapi  keridhaan Allah SWT, keberkahan dan terwujudnya kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Namun, jika panggilan kapitalisme yang mendasari perbankan syariah saat ini, maka walau mampu menduduki top 1 bank syariah global, maka setidaknya ada 5 resiko yang harus ditanggung umat Islam. 

Pertama, resiko kehilangan pahala yang melimpah karena kapitalisme menutup pintu merembetnya penerapan sistem Islam lainnya. 

Kedua, resiko umat Islam tidak terbebaskan dari kemiskinan. Karena perbankan syariah berada dalam lingkaran kapitalisme. Dimana kapitalisme inilah yang memiliki potensi mewujudkan kemiskinan struktural. Dan menjadikan harta menumpuk pada orang-orang kaya. 

Ketiga, resiko meningkatnya kepercayaan umat pada sistem kapitalisme dan terjinakkannya keinginan kaum Muslimin untuk melengserkan kapitalisme. Hal ini karena dibukanya kran ekonomi syariah oleh kapitalisme dan sedikit terselesaikannya persoalan ekonomi dengan hadirnya bank syariah.

Keempat, resiko perbankan syariah terninabobokan dengan konsep ekonomi kapitalisme. Semisal tidak bisa melepaskan diri dari konsep laba. Dengan kata lain perbankan syariah yang masuk BUMN tetaplah bukan usaha nirlaba. 

Kelima,  resiko tetap hidup dalam sistem kapitalisme. Padahal sistem ini telah menimbulkan kerusakan di seluruh sendi kehidupan. Tataran individu, asas kapitalisme yaitu sekulerisme merusak akidah dan keterikatan umat Islam pada syariahnya. Tataran masyarakat merusak sistem sosial dan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Tataran bernegara menjadikan negara ini terpasung pada kebijakan global, dikuasai asing dan aseng . 


Khatimah

Dari uraian di atas, umat Islam dituntut untuk cerdas. Dan sebagaimana qaul sahabat Abu Bakar ash Shidiq, "Ketahuilah bahwa cerdas yang paling cerdas adalah takwa. Bodoh yang paling bodoh adalah melakukan dosa". Dan tidaklah dikatakan seorang muslim itu bertakwa kecuali dengan mentaati seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya. Jadi, lanjutkan perjungan untuk menegakkan seluruh syariah Islam, tidak berhenti pada ekonomi syariah semata. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Puji Astutik
(Pelaku Dakwah Literasi)

Posting Komentar

0 Komentar