Pengamat Politik Internasional Beberkan Penyebab Tingginya Rasisme di AS



TintaSiyasi.com-- Menanggapi tingginya rasisme dan angka kekerasan di Amerika Serikat (AS), Pengamat Politik Internasional Budi Mulyana S.IP, M.Si mengungkapkan beberapa penyebabnya.

“Ada beberapa hal dalam pandangan saya menjadi penyebab kekerasan sipil ini terjadi di Amerika,” ungkapnya dalam acara Kabar Malam: AS Di Ujung Jalan Bernama Rasisme, Ahad (21/03/2021) di YouTube News Khilafah Channel.

Penyebab pertama menurutnya, secara fakta Amerika Serikat merupakan negara dengan penduduk yang multi etnis (plural). "Masyarakatnya terdiri dari pendatang Eropa yang dianggap sebagai benua harapan dan adanya perbudakan yang mendatangkan orang-orang Afrika," jelasnya.

“Akhirnya menjadikan tipologi demografi di Amerika ini menjadi sangat majemuk,” katanya.

Ia menilai, kondisi ini menciptakan adanya kecurigaan antara ras dan etnis di Amerika Serikat kemudian diperparah dengan nation building yang lebih mengedepankan etnis tertentu atau dikenal dengan White Anglo-saxon and Protestan (WASPs). “Sehingga seolah-olah ada diskriminasi sosial,” imbuhnya.

Kedua, menurutnya, tingginya kekerasan juga dipicu oleh longgarnya aturan kepemilikan bersenjata di Amerika Serikat. "Kelonggaran ini disebabkan oleh rasio dari aparat dan penduduk yang tidak memadai di daerah-daerah tertentu," paparnya.

“Sehingga kemudian di sinilah mendorong pemerintah Amerika memberikan keleluasaan untuk kepemilikan senjata di Amerika Serikat,” tuturnya.

Dalam catatannya, terdapat 89 dari 100 orang di Amerika Serikat memiliki senjata. “Artinya, hampir 100 persen penduduk Amerika itu memiliki senjata. Didukung adanya amandemen kedua konstitusi Amerika tahun 1791 dari bill of right untuk memiliki senjata di Amerika,” tegasnya.

Ia menjelaskan, Amerika Serikat menjadi negara maju dengan urutan pertama terkait kekerasan sipil. “Kalau saya baca ya, jadi memang secara statistik kekerasan di Amerika ini level negara maju itu sangat tinggi, dari 14 negara maju yang di telaah oleh para pakar tekait dengan kekerasan sipil yang terjadi, Amerika menempati urutan yang paling pertama yaitu sekitar 6 kekerasan atau 100 ribu penduduk itu paling tinggi,” urainya.

Dengan jumlah penduduk sekitar 400 juta orang, menurutnya terdapat puluhan ribu korban kekerasan fisik setiap tahunnya.

“Kita tau penduduk Amerika itu sekitar 400 juta, itu kalau kita hitung bisa sampai puluhan ribu per tahunnya terjadi kekerasan fisik,” pungkasnya. [] Aprilia Soga

Posting Komentar

0 Komentar