Model Perpolitikan Negeri Ini, FDMPB: Bagaikan Orang Dewasa Takut Terang



TintaSiyasi.com-- Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra, MM menanggapi model perpolitikan negeri ini, bagaikan orang dewasa yang takut terang (tidak jujur).

"Saya ambil satu kata dari Plato dan saya kaitkan dengan model perpolitikan di negeri ini. Bisa dimengerti, (jika) ada anak kecil takut gelap, namun, sulit dimengerti, (jika) ada banyak orang dewasa justru takut terang," tuturnya dalam Focus Group Discussion#10 bertajuk Peta Jalan Pendidikan Indonesia di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (13/3/2021). 

Menurutnya, ada model komunikasi yang tidak bagus antara pemerintah dengan masyarakat. "Enggak terus terang, diam-diam, gelap-gelap, pas ketahuan, baru ngomong bahwa itu tidak benar, hal ini berulang-ulang terjadi, Senada dengan pendapat Prof. Ary, lempar batu sembunyi tangan," ungkapnya.

Ia menyayangkan, sikap pemerintah yang terkesan diam-diam menghilangkan frasa agama dalam draf Peta Jalan Pendidikan Nasional Indonesia 2020-2035. Sekalipun, draf tersebut akan direvisi dengan memasukkan frasa agama lagi, karena banyaknya kritikan. 

Menurutnya, pendidikan itu berhubungan dengan kemajuan fundamental dan berkontribusi besar dalam pembangunan peradaban sebuah bangsa. "Jadi, pendidikan dan peradaban, dua hal yang erat kaitannya dalam menentukan wajah peradaban bangsa itu," bebernya.

"Pendidikan itu bagian dari pruduk politik dalam sebuah negara. Artinya bagian dari sebuah kebijakan politik terutama dari sistemnya. Peta jalan, kurikulum, metodologi, guru, siswa, dan seterusnya. Itu adalah hasil karya manusia," ujarnya.

Ia menjelaskan, kebijakan politik suatu negara di bidang pendidikan tidak bisa dilepaskan dari ideologi yang melatar belakangi negara itu.


Tiga Ideologi yang Melatarbelakangi Suatu Negara

Ideologi itu, sebuah tata nilai, kepercayaan, sistem yang melahirkan aturan-aturan. Ia membaca visi politik untuk basis ketiga ideologi tersebut. 

Pertama, ideologi sekulerisme kapitalisme, memisahkan agama dari politik. Faktanya, ia ungkap, saat ini agama mulai digeser, diabaikan, dihilangkan bahkan ahistoris. 

Kedua, ideologi komunisme, yaitu menolak eksistensi agama. "Tuhan tidak diakui. Terwujudnya kehidupan berbangsa yang sejalan dengan perkembangan alat-alat produksi yang berorientasi pada industrialisasi materialisme. Ujungnya adalah manusia pekerja," bebernya.

Ketiga, ideologi Islam, merupakan integrasi agama dan politik. "Terwujudnya kehidupan bangsa yang sejalan dengan tujuan Allah. Mengatur manusia dengan syariat, melahirkan manusia baik dan salih," pungkasnya.[] Witri Osman

Posting Komentar

0 Komentar