Mengapa Impor Garam tak Kunjung Kendor?


Garam merupakan salah satu bumbu penting dalam masakan. Ibarat sayur tanpa garam, pastilah hambar. Memasak tanpa garam, bukanlah hal yang mudah. Dan Indonesia pun merupakan negara maritim penghasil garam yang tinggi. Tentunya mudah masyarakat memperolehnya. Namun kini, Pemerintah berencana kembali membuka impor garam di tahun 2021 ini, melanjutkan kebiasaan impor dari tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah mengklaim produksi garam lokal  memang bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sehari–hari. Namun kualitas garam lokal tidak bisa digunakan untuk kebutuhan garam industri. Dilansir dari Kompas.com (19/03/2021), Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengungkapkan alasan pemerintah membuka kembali impor garam sebanyak 3 juta ton pada tahun ini. Hal itu berkaitan dengan kuantitas dan kualitas garam lokal. Ia menjelaskan, pada dasarnya garam impor tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri. Menurut Mendag, kualitas garam lokal belum sesuai dengan yang dibutuhkan industri. "Garam itu kualitasnya berbeda. Di mana garam kita yang dikerjakan PT Garam dan petani rakyat ini belum bisa menyamai kualitas garam industri tersebut," ujar Lutfi dalam konferensi pers virtual, Jumat (19/3/2021). 

Apa yang dijadikan alasan pemerintah akan kebijakan impor garam ini masih serupa dengan tahun-tahun sebelumnya. Yakni, kebutuhan garam skala industri masih sulit dipenuhi oleh garam lokal. Garam industri mempunyai kandungan Natrium Klorida(NaCl) mencapai 97 persen. Sementara hasil produksi tambak petani garam lokal biasanya menghasilkan garam dengan kandungan NaCl mulai 88-94 persen sehingga diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sedangkan produksi di dalam negeri masih sedikit yang mengandung NaCl 97 persen sehingga kurang memenuhi kebutuhan industri.

Kebijakan impor garam ini memang masih saja terulang. Pemerintah rupanya tidak belajar dari pengalaman sebelumnya. Kebijakan ini bisa mempengaruhi kesejahteraan rakyat khususnya petani garam lokal. Apalagi di masa pandemi Covid-19 ini, proses ekspor dan impor lebih sulit. Semestinya menjadi momentum untuk meningkatkan produksi garam nasional bisa memenuhi kebutuhan industri. Tak sampai solusi berujung impor. Jika impor 2021 ini terealisasi, maka akan menjadi impor terbesar sepanjang sejarah Indonesia, yakni sebesar 3,07 ton atau naik 13,8 persen.

Inilah bagian dari kebijakan yang diambil berdasar atas untung rugi yakni sistem ekonomi kapitalis. Para penguasa mengambil kebijakan berdasar keuntungan materi. Dan dibalik kebijakan tersebut, tentunya akan menggandeng investor asing untuk bekerja sama dalam pengelolaannya. 

Pemerintah cenderung mengambil kebijakan impor dengan hanya merespons kecenderungan permintaan pasar bagi pemodal besar. Petani garam lokal yang terkendala modal besar tidak bisa mengimbangi sepak terjang pemodal asing.  Petani garam pun semakin terpuruk. Hai ini dikarenakan harga garam di tingkat petani akan semakin anjlok seiring membanjirnya pasokan garam impor.

Begitu pula, persoalan kurangnya ketersediaan garam kualitas industri. Seharusnya bisa diselesaikan dengan mekanisme peningkatan kualitas garam lokal agar bisa digunakan untuk industri. Mengingat Indonesia memiliki wilayah penghasil garam yang tinggi dan hasil panen garam lokal tinggi bisa diolah untuk garam konsumsi dan garam industri.

Tentu berbeda bila persoalan garam ini diselesaikan dengan sistem Islam. Sistem yang sempurna berasal dari Allah. Sistem ini memiliki solusi jitu dalam persoalan garam. Islam menggolongkan garam sebagai salah satu kekayaan alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Maka dari itu, pengelolaannya tidak boleh melibatkan atau diserahkan pihak swasta atau asing. Pihak yang mengelola adalah negara dan hasilnya diperuntukkan kesejahteraan rakyat.

Selain itu, dalam pengelolaan garam ini, Islam juga menggunakan sains dan teknologi yang tepat. Dalam hal ini, negara membuat upaya peningkatan kualitas pengolahan garam lokal. Salah satunya dengan Sistem Teknologi Ulir Filter (TUF) Geomembran. Cara ini diyakini bisa meningkatkn produksi gram dan meningkatkan kualitas garam lokal sehingga bisa menjadi garam industri. Dengan TUF Geomembran hasil produksi garam bisa mencapai 120-140 ton/hektar sekali panen dan kandungan NaCl Magnesium lebih dari 97,14 persen. 

Selama ini sebagian kualitas garam lokal yang dihasilkan para petani masih rendah, misalnya warnanya butek, masih tercampur tanah, hingga kadar NaCl yang rendah. Dengan TUF Geomembran, air laut dialirkan ke dalam kolam penampungan terlebih dahulu dilakukan filterisasi dengan menggunakan ijuk sapu, batok kelapa, dan batu zeolit. Setelah itu, air laut yang sudah disaring masuk ke dalam kolam penampungan yang sudah terlapisi plastik hitam. 

Sistem Islam sangat menjaga kedaulatan negara dalam pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Kebijakan yang diambil sesuai dengan aturan–aturan Allah dengan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Negara berperan sebagai pelindung dan penanggung jawab terhadap rakyat. Dengan menerapkan itu semua, maka petani garam tidak akan terpuruk dan kebutuhan akan garam terpenuhi tanpa harus impor.[]

Oleh: Alfiana Prima Rahardjo, S.P 

Posting Komentar

0 Komentar