Menag Diminta Revisi Buku PAI, Prof. Suteki: PGI Sudah Lompat Pagar



TintaSiyasi.com-- Pakar Hukum dan Masyarakat Prof. Dr. Suteki, S.H., M.Hum. menilai langkah Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Gomar Gultom yang meminta kepada Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas agar merevisi buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti Kelas VIII (SMP) dan kelas XI (SMA) sudah lompat pagar (off side).

“Saya menilai apa yang dilakukan PGI ini sudah lompat pagar, off side,” tuturnya dalam diskusi Ancaman Sekularisme Pendidikan Islam di Indonesia di saluran Youtube Pustaka Channel, Kamis (24/03/2021).

Menurutnya langkah PGI off side dan lompat pagar karena pelajaran PAI dan Budi Pekerti Islam bukanlah untuk umat Kristiani, melainkan untuk umat Islam sendiri sehingga sah bagi Muslim memberikan materi sesuai pemahaman umat Islam.

“Tidak bisa (jika) ini harus disesuaikan dengan umat yang lain atau menurut pemahaman agama yang lain. Kita pun dalam hal ini harga mati, tidak bisa dilalui, diintervensi. Kalau sudah intervensi itu yang namanya tadi off side," jelasnya. 

Prof. Suteki menerangkan bahwa Pendeta Gultom memprotes agar pelajaran agama dogmatis tidak diberikan di ruang publik, termasuk sekolah, tetapi di ruang privat, yakni keluarga dan rumah ibadah. Ia menambahkan, yang dimaksud dengan pelajaran agama dogmatis tersebut termasuk masalah akidah dan menumbuhkan keimanan. Menurutnya, perkara akidah ini tidak dipisah-pisahkan antara ruang publik dan privat.

“Maksud saya, dalam arti ini tidak bisa kita pisah-pisahkan untuk membahas bahwa akidah itu hanya di ruang keluarga dan rumah ibadah, sementara di sekolah tidak boleh. Sementara kita tahu bahwa akidah ini adalah dasar dari kita membahas mengenai muamalah dan sebagainya,” terangnya.

Menurutnya, dalam hal ini, PGI telah melakukan in-hak (yang bukan haknya) dengan meminta pemerintah agar mengatur ajaran agama Islam sesuai kehendak pihak Kristen. Sebab menurutnya, negara harus memberikan fasilitas pelajaran agama yang forum internumnya itu diserahkan kepada masing-masing agama dan isinya tidak boleh diintervensi orang lain.

“Isinya tidak boleh dicampur-campur. ‘O, yang beragama Nasrani harus disetujui yang beragama lain’. Tidak bisa begitu. Forum internum itu tidak bisa diotak-atik oleh orang lain," pungkasnya.[] Saptaningtyas

Posting Komentar

0 Komentar