Memajukan Miras, Membanting Rakyat


Jagat Indonesia sempat gonjang-ganjing di akhir Februari kemarin. Sumbernya adalah wacana legalisasi miras bersyarat oleh peraturan Presiden. Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka izin investasi untuk industri minuman keras (miras) atau beralkohol dari skala besar hingga kecil. 

Syaratnya, investasi hanya dilakukan di daerah tertentu. Ketentuan ini tertuang di Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang diteken kepala negara pada 2 Februari 2021. Aturan itu merupakan turunan dari Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. 

Selanjutnya, lampiran bidang usaha yang boleh mendapat aliran investasi tertuang dalam tiga lampiran. Pada lampiran ketiga, tercantum industri minuman keras mengandung alkohol pada daftar urutan ke-31. "Persyaratan, untuk penanaman modal baru dapat dilakukan di provinsi Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat," tulis lampiran III perpres tersebut. 

Bila penanaman modal dilakukan di luar daerah tersebut, maka harus mendapat ketetapan dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berdasarkan usulan gubernur. Izin dan syarat yang sama juga berlaku untuk industri minuman mengandung alkohol anggur. Dengan izin tersebut, industri miras bisa memperoleh suntikan investasi dari investor asing, domestik, koperasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

Tak hanya mengatur soal investasi ke industri miras, Jokowi juga memberi restu investasi bagi perdagangan eceran miras atau beralkohol masuk daftar bidang usaha yang diperbolehkan dengan persyaratan tertentu (cnnindonesia.com).

Meskipun pada akhirnya perpres tersebut dicabut pada 2 Maret, awal bulan ini, namun ide legalisasi miras dari pucuk pimpinan negeri tercinta ini tidak bisa dianggap angin lalu saja. Apalagi, usaha legalisasi miras serupa bukan hanya kali ini saja terjadi. Belum lagi bila kita mau sejenak mau duduk melihat berita kriminalitas di TV, coba saja hitung berapa banyak kasus kriminal, mulai dari pelecehan hingga pembunuhan, terjadi karena mabuk miras. Ini penjualan miras yang bisa di-sweeping polisi karena dianggap tidak legal saja sudah menyumbang kejadian-kejadian kriminal yang begitu meresahkan, bagaimana lagi kalau miras sudah legal? Ngeri!

Karena itu, ide legalisasi miras ini harus selalu dianggap bahaya abadi oleh rakyat maupun negara pengayom rakyat. Memang begitu faktanya. Tapi, mengapa malah negara yang rajin sekali menggelindingkan ide ini? Apa yang bisa didapat dari legalisasi miras?

Sayang seribu sayang, ada saja segelintir orang yang menganggap bahwa pelarangan miras di Indonesia menjadi tanda bahwa negeri ini tidak akan bisa maju. Alasannya, semua negara barat yang dianggap maju, begitu pula Jepang, Korea Selatan, bahkan Cina yang jadi macan ekonomi Asia baru, melegalkan miras! Negara-negara maju itu melegalkan miras dan malah jadi maju. Sementara Indonesia yang tidak maju juga, malah pongah tidak mau melakukan legalisasi miras. Tambah jauh lah Indonesia dari harapan kemajuan kalau menerima investasi industri miras saja tidak mau!
Apa benar logika berpikir seperti ini?

Apa memang miras itu masuk standar kemajuan suatu negara? Atau justru negara-negara tersebut mengalami masalah menghadapi orang-orang mabuk mereka namun berusaha tackling heavily karena miras sudah jadi adat mereka? Atau justru apakah orang-orang yang berpendapat demikian tidak pernah mengikuti berita luar negeri tentang perilaku dan kriminalitas para pemabuk di negara-negara yang dijadikan contoh itu?

First thing first, negeri mayoritas Muslim ini memiliki komposisi Muslim hampir 90 persen. Bila mereka yang berpendapat seperti ini Muslim, saya sarankan segera minta ampun kepada Allah Swt. Kalau perlu ulang syahadat berkali-kali supaya ingat kewajibannya tunduk kepada perintah Allah. Lengkapi dengan memahami isi Al-Quran lewat kajian-kajian Islam terpercaya. 

Anda ini mengaku Muslim, mengapa berani menentang larangan Allah yang bisa menghentikan nafas Anda hari ini juga? Firman Allah dalam Al-Quran maupun lewat lisan Muhammad saw jelas-jelas mengharamkan miras, haram membuatnya, menjualnya, mendistribusikannya ataupun meminumnya. Jelas. Maka takutlah kepada Allah, pemilik dunia dan hari pembalasan!

Jikapun memakai logika kemajuan negara tidak ada sedikitpun berhubungan dengan miras. Kalau dikutip dari Encyclopaedia Britannica, negara maju itu mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, angka pengangguran yang rendah, kemajuan IPTEK, sistem kesehatan dan pendidikan yang baik dan pendapatan per kapita tinggi. Ini kemajuan dari sudut pandang kapitalisme. 

Bagi umat Islam, jadi umat berperadaban terbaik, terpandang, mempengaruhi politik internasional dan memimpin dalam kekuatan militer, menjadi poin penting yang Allah gariskan. Maju bukan hanya dari sisi pembangunan fisik, namun menjadikan rakyat semuanya hidup sejahtera, aman, cerdas dan berkepribadian mulia adalah kemajuan yang hanya bisa dicapai oleh Islam. Rahmatan lil ‘alamin.

Lalu bila dikembalikan kepada kemajuan ala legalisasi miras, apa yang bisa didapat negara ini. Saya tidak menolak bahwa investasi miras itu menggiurkan bagi mereka yang hanya peduli keuntungan ekonomi pribadi, tidak takut dosa dan tidak peduli keamanan rakyat. Itu jelas manfaat (untuk mereka). Tapi bila kita kembalikan kepada nasib rakyat banyak ketika miras dibebaskan, apa benar manfaat? 

Kriminalitas akibat mabuk makin banyak, otak generasi jadi rusak (silakan cari sendiri penelitian ilmiah tentang ini), moral tergerus, para pemabuk meresahkan tambaah banyak bermunculan. Kalau demikian, ini bukan namanya memajukan negara dengan miras, melainkan membanting rakyat demi ambisi miras. Ambisi kalian terpenuhi, rakyat banyak jadi tumbal. Betapa rusaknya.

Karena itu, sudah seharusnya kita membenci ide legalitas miras ini selama-lamanya. Haram dan berbahaya! Kita juga harus membenci mereka yang berusaha menggelindingkan ide haram dan berbahaya ini. Dan sudah seharusnya kita terlindung dari para pemimpin yang menggelindingkan kita ke pintu neraka dan kebinasaan. 

Mari selamatkan diri kita masing-masing dengan mengembalikan urusan pengaturan rakyat ini kepada aturan Allah Yang Maha Mencipta dan Maha Mengatur. Bukan aturan manusia ambisi dunia, tapi kepada manusia pemimpin yang berambisi akhirat. Siapa dia? Khalifah Amirul Mukminin. Hanya bila kekuasaan ini kembali sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah, kita bisa tenang hidup di negeri tercinta ini dan di seluruh penjuru bumi. Inilah yang harus diperjuangkan. Mari taubat bersama agar selamat dunia akhirat.[]

Oleh: Indah Shofiatin 
(Penulis Lepas, Alumnus Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair)

Posting Komentar

0 Komentar