Masalah Virus tidak Akan Berakhir Akibat Masih Hidup dalam Sistem Kapitalisme


Dilansir dari detikNews, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan perkembangan yang baik mengenai hasil penanganan pandemi Covid-19. Tingkat kasus aktif virus Corona di RI lebih rendah ketimbang dunia. Juga, positivity rate Covid-19 di Indonesia menurun. Presiden menyampaikan grafik dalam paparan yang dia sampaikan lewat kanal YouTube resmi Sekretariat Presiden, Kamis (4/3/2021) malam.

Per 3 Maret 2021, rata-rata kasus aktif Covid-19 di Indonesia berada di angka 11,11%. Sedangkan rata-rata kasus aktif dunia berada pada angka 18,85%. Namun, untuk angka kematian, rata-rata tingkat kematian Covid-19, Indonesia lebih tinggi dibandingkan rata-rata tingkat kematian Covid-19 dunia. Di Indonesia, persentase kematian Covid-19 per 3 Maret 2021 adalah 2,71%. Angka kematian Covid-19 dunia adalah 2,22%.

Permasalahan pandemi ini tidak juga kunjung usai, banyaknya kebijakan yang dikeluarkan tidak menghasilkan solusi yang nyata. Penerapan 3M di tengah masyarakat pun tampak semakin hilang karena di masyarakat  muncul rasa menyepelekan terhadap virus yang ada. Tidak lain, akibat pemerintah tidak turut andil dalam mengurusi permasalahan yang ada di Indonesia.

Jakarta Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) menyebut, pemerintah memilih jalan yang berujung pada ledakan wabah Covid-19 yang tidak kunjung usai dan menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Salah satu indikator pernyataan tersebut adalah dibukanya kembali aktivitas perekonomian sebelum penilaian situasi wabah Covid-19 dilakukan dengan maksimal melalui test, trace, treat, isolations dan quarantine.

Padahal, wabah merupakan ancaman sangat serius sehingga dibutuhkan birokrasi, kerangka regulasi, dan anggaran yang kuat untuk menghadapinya. Pernyataan tersebut tercantum dalam Health Outlook 2021.

Setidaknya ada 10 poin kelemahan pemerintah menangani pandemi, yaitu: Tidak ditemukan strategi koheren pemerintah dari pusat hingga komunitas pengananan wabah, penambahan jumlah kasus terburuk se Asia Tenggara, Menyia-nyiakan periode emas penanganan wabah, keterbatasan sumber daya, kegagalan identifikasi orang terpapar/tidak terpapar covid 19. 

Kemudian tidak tersedia kurva epidemi covid 19, tumpang tindih sistem pendataan, ambang layanan kapasitas tidak tersedia, pelayanan terlalu fokus di RS, dan layanan kesehatan primer tidak pernah menjadi prioritas pelaksanaan surveilans berbasis masyarakat yang menjamin test, trace dan isolate berjalan atas dasar data yang solid (Liputan6.com) 

Hingga detik ini, pandemi Covid-19 belum berhenti. Biaya sudah banyak dihabiskan, jumlah korban sudah semakin banyak. Meski program vaksinasi tengah dilaksanakan, namun permasalahan juga banyak terjadi. Diantaranya pro kontra masyarakat karena keamanan vaksin, bahkan saat ini ada pasar gelap vaksin. 

Untuk itu, seharusnya negara fokus dan serius menangani wabah ini? Pandemi selesai bukan hanya dengan vaksinasi, tapi harus menyelesaikan semua komponen yang mendukungnya. 

Bagaimana solusi Islam dalam menangani pandemi? Sepanjang sejarahnya, khilafah merupakan sistem pemerintahan yang telah terbukti berdiri selama 1300 tahun dan selalu menerapkan konsep syariah islam dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya, bahkan dalam penyelesaian wabah pernah terjadi di dalam islam.

Ketika terjadi wabah di masa pemerintahan Khalifah Umar Bin Khathtab tepatnya pada tahun 18 Hijriyah. Wabah Tha’un terjadi di Amawas, yang kemudian menyebar cepat ke dataran rendah Yordania hingga terus menginfeksi orang-orang yang ada disana. Sang Khalifah memerintahkan untuk tidak memasuki kawasan yang terkena wabah atau menerapkan lockdown total. Karena berdasarkan sabda Nabi SAW:

“Apabila kalian mendengar ada suatu wabah di suatu daerah, maka janganlah kalian mendatanginya. Sebaliknya, kalau wabah tersebut berjangkit di suatu daerah sedangkan kalian berada disana, maka janganlah kalian keluar melarikan diri darinya.”

Inilah hukum syara’ dalam islam, mengunci daerah yang terdampak wabah untuk menghindari tersebarnya virus semakin besar. Dan kepada daerah yang dikunci akan dicukupkan kebutuhan pokoknya, sehingga mereka bisa fokus dalam upaya penyembuhan.

Khilafah merupakan ajaran Islam berasal dari Sang Pencipta. Oleh karena itu, tak pantas kita sebagai Muslim menghalang-halangi berdirinya khilafah. Karena tegaknya khilafah adalah sebuah keniscayaan bahkan tidak akan ada yang mampu menghalangi kembalinya sistem yang shahih ini. Maka, khilafah adalah solusi bagi dunia. Karena tatanan kehidupan yang benar dapat terwujud hanya jika sistem yang berdiri atasnya sesuai syariat Islam. Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

Oleh: Siti Hajar

Posting Komentar

0 Komentar