Maraknya Kelompok Separatis dalam Sistem Kapitalisme


Kepala Kepolisian Daerah Papua Inspektur Jenderal Polisi Mathius D Fakhiri menegaskan jajarannya tidak akan mundur selangkah pun untuk menghadapi pelaku bersenjata di Kabupaten Intan Jaya. Fakhiri mengatakan bahwa kehadiran aparat Polri dibantu TNI di Intan Jaya saat ini semata-mata untuk melakukan penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan bersenjata, dalam hal ini kelompok kriminal bersenjata (KKB) (Liputan6.com, 14/03/2021). 

Bukan berita baru lagi ketika kita mendengar tentang kejadian yang disebabkan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB). Hal ini bahkan sudah berulang kali terjadi dan mereka sudah melakukan tindakan yang sangat radikal karena menyebabkan warga sipil maupun dari kalangan TNI-Polri meninggal dunia. Seperti yang terjadi sekitar bulan November 2020 lalu mereka membunuh 1 orang anggota TNI. 

Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua ini benar-benar sudah meresahkan warga setempat karena berkali-kali mereka menjarah perkampungan warga dan mengancam nyawa serta harta mereka. Dan kali ini mereka berulah karena tidak mendapatkan bagian dari dana desa. Padahal dana desa itu jelas peruntukannya untuk insfrastruktur desa dan di masa pandemi ini juga untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19. 

Munculnya kelompok separatisme di tanah papua disebabkan oleh ketimpangan sosial, diskriminasi dan ketidakadilan yang terjadi dalam waktu yang lama. Pelanggaran HAM yang pernah terjadi juga tak kunjung selesai menambah pelik permasalahan ini. Tanah Papua yang kaya akan Sumber Daya Alam namun minim dinikmati oleh rakyat Papua. Mereka bahkan tidak merasakan hasil dari sumber daya alam yang melimpah di tanah mereka. Mereka masih mengalami kemiskinan, kekurangan gizi, pendidikan yang didapatkan juga sangat rendah bahkan fasilitas infrastruktur minim di tanah Papua. Mereka seolah bukan warga negara yang bisa menikmati fasilitas yang memadai dari Pemerintah. 

Mereka hanya dijadikan sebagai alat politik oleh para penguasa yang menginginkan kekuasaan, dan ketika mereka menjabat rakyat tetap tidak merasakan kesejahteraan dan pemerataan pembangunan. Bahkan di tanah Papua susah mendapatkan informasi dan pasokan listrik. Tentu hal ini menuai protes dari sebagian besar masyarakat Papua sehingga memicu munculnya kelompok separatis yang kecewa dengan kebijakan dan ketidakadilan dari Pemerintah. Inilah bentuk dari sistem kapitalistik dalam menangani kebutuhan hajat hidup warga negaranya. 

Peristiwa ini seharusnya mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah. Karena kenyamanan dan keselamatan tiap warga negara itu menjadi tanggung jawab penuh negara. Negara harus benar-benar hadir untuk menyelesaikan permasalahan dalam negeri, bukan malah terkesan membiarkan hal ini hingga terjadi berulang kali. Sejatinya kelompok separatis ini harus benar-benar dibasmi hingga ke akar-akarnya agar tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan di tengah-tengah masyarakat. 

Namun agaknya hal ini masih jauh dari harapan, sebagaimana kita lihat kelompok kriminal bersenjata ini bahkan sudah melakukan tindakan pembunuhan terhadap TNI-Polri dan masyarakat sipil tapi toh juga tak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah. Bahkan dianggap tidak berbahaya dan tidak ditetapkan sebagai gerakan teroris. 

Dalam Islam hal seperti ini tidak boleh terjadi di dalam negara, karena itu bisa merusak eksistensi negara bahkan juga bisa menghilangkan kewibawaan sebuah negara. Negara harus benar-benar hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memenuhi seluruh kebutuhan warganya, seperti sandang, pangan dan papan. Disamping juga Negara memberikan fasilitas pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum lainnya merata ke seluruh wilayah untuk menghindari diskriminasi. Jika kita kembali berkaca pada Sirah Nabawiyah maka kita akan mendapati bagaimana cara Rasulullah saw dalam membersihkan institusi politik yang ingin merebut kekuasaan yang sah dari tangan Rasulullah Saw. Seperti pembersihan institusi politik Yahudi Bani Qainuqo' dan siapa saja yang melakukan pemberontakan maka akan langsung ditangani secara cepat dan tanggap oleh Rasulullah Saw sebagai kepala negara.  

Berkali-kali Rasulullah mengirimkan ekspedisi kecil untuk menyisir seluruh wilayah negara untuk memastikan keamanan wilayah tersebut dan juga warga negaranya. Jika didapati ada kelompok-kelompok yang disinyalir dapat menghancurkan eksistensi negara maka akan langsung dibersihkan. Agar hal serupa tidak terjadi dalam negara karena kelalaian penguasa dalam menjaga wilayahnya. Diantara pimpinan ekspedisi yang dikirim oleh Rasulullah Saw adalah Ukkasyah ke Ghamir, Muhammad bin Maslamah ke Dzul Qishah, Abu Ubaidah Bin Jarrah ke Dzul Qishah, zaid Bin Haritsah ke beberapa wilayah. Dan masih banyak ekspedisi-ekspedisi lainnya. 

Bahkan hingga Kekhalifahan Turki Utsmani juga melakukan hal yang sama, senantiasa menjaga keutuhan wilayah negaranya. Karena disintegrasi dalam Islam tidak boleh terjadi karena itu bisa menghancurkan ukhuwah Islamiyah yang terjalin di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Diah Deridyna

Posting Komentar

0 Komentar