Marak Prostitusi Anak, Bukti Sistem Hidup Rusak

Kasus prostitusi anak seakan tak ada matinya, bahkan di tengah situasi pandemi. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 30 kamar hotel dipenuhi anak-anak dan pria hidung belang. Hotel milik artis Cynthiara Alona tersebut, dijadikan lokasi prostitusi online. Polisi turut mengamankan 15 anak di bawah umur saat penggerebekan. Rata-rata berumur 14 sampai 16 tahun (cnnindonesia.com 16/03/2021).

Alona juga mengakui prostitusi online ini terjadi untuk menutup biaya operasional hotel selama masa pandemi Covid-19. Sebelumnya, polisi telah menetapkan tiga tersangka dalam kasus prostitusi online ini. Ketiganya yakni Cynthiara Alona selaku pemilik hotel, DA selaku muncikari dan AA selaku pengelola hotel. 


Wabah Sekularisme Perusak Fitrah

Fitrahnya manusia saat dilanda musibah seperti wabah Covid-19, kembali mengingat Allah SWT. Memohon pertolongan-Nya agar keluar dari musibah. Namun, sekularisme kapitalisme menggerus tabiat kemanusiaan. Hingga terjadi bencana dahsyat, lenyapnya fitrah kemanusiaan. Saat agama dipisahkan dari kehidupan, halal haram tak lagi jadi acuan. Kebebasan diagungkan. Alhasil materi menjadi satu-satunya tujuan. Tak peduli masa depan anak-anak menjadi korban.

Manusia bebas melampiaskan nafsunya. Bahkan menjadi komoditas yang bernilai ekonomi. Syahwat diumbar tanpa ada batasan. Bisnis pornoaksi dan pornografi bertebaran. Baik lewat tayangan film, iklan, musik, budaya valentine day dan lainnya. Maka tak heran syahwat menjadi bisnis yang menggiurkan. Didorong tumbuh subur untuk menggerakkan roda ekonomi. 

Tragisnya nasib generasi dalam genggaman sekularisme, menjadi tumbal pemuja syahwat. Demi segenggam materi hancurkan masa depan mereka. Inilah potret rusaknya generasi akibat enggan berpaling dari sistem hidup fasad buatan manusia. Merusak fitrah, merusak generasi. Sementara aturan Islam dicampakkan. 

Sekalipun warga menolak dan marah atas kemaksiatan tersebut, tak akan sanggup menghentikan laju bisnis haram ini. Selama sistem hidup yang dipakai aturan buatan manusia yang abai terhadap hukum Tuhan. 


Islam Kembalikan Fitrah, Selamatkan Generasi

Hukum Allah sempurna dan paripurna. Mencegah sekaligus memberi efek jera. Naluri syahwat manusia hanya diizinkan dipenuhi melalui jalan suci pernikahan. Bahkan bernilai ibadah. Oleh karenanya, seluruh pintu yang mendorong munculnya naluri tersebut akan ditutup. Tak akan diizinkan produk-produk yang mengumbar syahwat. 

Melalui aturan ijtima'i (pergaulan). Suasana pergaulan yang melingkupi perempuan dan laki-laki pun adalah takwa. Kerjasama muamalah yang diridhai Allah SWT. Bukan budaya syahwati. Jika kehidupan telah aman dari cengkeraman syahwat. Bisnis prostitusi pasti mati. Apalagi melibatkan generasi. 

Adapun jika terjadi pelanggaran, berupa kemaksiatan zina baik praktik prostitusi maupun suka sama suka. Maka hukuman tegas akan diberlakukan bagi kedua pihak. Baligh adalah batasan seseorang terkena taklif hukum. Tak main-main, dijilid sebanyak 100 kali bagi yang belum menikah. Rajam bagi yang sudah pernah menikah. Inilah yang akan menghentikan kemaksiatan. 

Selain pemberlakuan hukum pergaulan. Sistem ekonomi Islam menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup manusia, satu persatu. Bukan hanya saat masa pandemi saja, tapi di sepanjang masa kehidupan. Mekanisme ini bisa berjalan dengan pengelolaan yang dilakukan oleh negara. Semua harta milik umat berupa kekayaan alam dikembalikan pada pemiliknya, yaitu umat. Dengan demikian, umat tak akan dibebani dengan biaya kehidupan yang memberatkan. Walhasil, tak ada alasan ekonomi sebagai jalan pintas berbuat kemaksiatan. 

Islam benar-benar memelihara kehormatan dan kemuliaan manusia. Aturannya yang sempurna membentuk masyarakat yang unik. Individu dibina ketakwaannya, tumbuh semangat amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat, serta negara yang bertugas menjalankan perannya sebagai pelindung sekaligus pelaksana syariat Islam. 

Sungguh bukan kebetulan, musibah pandemi yang terjadi merupakan ayat kauniyah bagi orang-orang yang mau berpikir. Allah SWT tampakkan betapa lemahnya sistem hidup buatan manusia. Bahkan musibah yang ada, tak mampu menyadarkan mereka dari praktik kemaksiatan. Saatnya kembali pada sistem Islam, yang akan menghentikan laju kemaksiatan sekaligus meninggikan kehormatan manusia. Selayaknya umat memperjuangkan, kehidupan yang berkah dengan syariah dan khilafah. []

Oleh: Dede Yulianti

Posting Komentar

0 Komentar