Marak Perkawinan Anak, UU Perkawinan Digugat


Persoalan dispensasi negara untuk pernikahan dini menyebabkan para aktifis sekuler menganggap menghentikan pernikahan anak harus sampai pada akar persoalan yaitu pemahaman tafsir agama, adat dan masalah struktural seperti kemiskinan.

Direktur Eksekutif Plan Indonesia Dini Widiastuti memaparkan data bahwa pada Januari-Juni 2020 setidaknya terdapat 33.664 dispensasi usia menikah yang dikabulkan di seluruh wilayah Indonesia. Angka itu, kata dia, merujuk pada data yang dihimpun Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung.

Dini mengatakan angka riil soal pernikahan di bawah umur mungkin lebih besar dari itu karena tak mencakup pernikahan secara agama atau siri dan adat. "Nah ini tidak ketahuan berapa banyaknya," ujar Dini. Persoalan dispensasi usia anak untuk menikah memang telah diatur dalam Undang-Undang Perkawinan nomor 16 tahun 2019. Pasal 7 ayat 2 undang-undang tersebut mengatur bahwa orang tua calon mempelai bisa mengajukan permohonan dispensasi usia perkawinan anaknya ke Pengadilan Agama setempat (CNNIndonesia, 13/02/2021).

Dengan permasalahan di atas sudah seharusnya dan kewajiban pemerintah untuk bekerja lebih keras dan mewaspadai legitimasi kebijakan yang lebih sekuler yang terbukti dapat menimbulkan beraneka ragam persoalan yang baru.

Islam menempatkan pernikahan sebagai sesuatu yang agung dan mulia. Pernikahan adalah sunnatullah yaitu ibadah yang ditandai dengan sebuah akad atau janji nikah yang dilaksanakan oleh laki-laki dan perempuan yang disebut dalam Al Qur’an Mitsaqan Ghalizan (Perjanjian berat) (QS an- Nisa’ [4]: 21) yang berbunyi:

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Rumah tangga adalah institusi terkecil dalam sebuah masyarakat. Dibentuk dengan tujuan untuk menggenapi agama, menyempurnakan agama. Berarti, target dan tujuannya adalah mencapai ridho Allah Swt dengan terwujudnya ketakwaan kepada seluruh anggota keluarga. Ketakwaan itu terwujud jika masing-masing anggota keluarga menjalankan perannya dengan sukses.

Menikah melahirkan sejumlah hak dan kewajiban. Menikah akan menjadi tidak harmonis ketika suami dan istri hanya menuntut hak dengan melupakan kewajiban. Hal tersebut bisa terjadi dalam sekularisme dengan paham-paham turunannya yang batil seperti liberalisasi dan materialisme yang memang meniscayakan kehidupan yang serba sempit dan jauh dari berkah. 


Tujuan Rumah Tangga Menurut Islam

Dalam Islam tidak ada istilah usia dini dalam pernikahan, dalil kebolehannya adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Allah Swt berfirman: "Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (menopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya) maka iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid." (QS Ath-Thalaq [65]: 4). 

Sedangkan menurut hadis Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menyatakan bahwa, yang dimaksud "perempuan-perempuan yang tidak haid" (lam yahidhna), adalah anak-anak perempuan kecil yang belum mencapai usia haid (ash-shighaar al-la`iy lam yablughna sinna al-haidh). Dan diperkuat dengan hadis dari 'Aisyah RA, dia berkata, "Bahwa Nabi SAW telah menikahi 'A`isyah RA sedang 'A`isyah berumur 6 tahun, dan berumah tangga dengannya pada saat 'Aisyah berumur 9 tahun, dan 'Aisyah tinggal bersama Nabi SAW selama 9 tahun." (HR Bukhari, hadits no 4738, Maktabah Syamilah).

Sehingga merujuk dari dalil di atas tentang kebolehan menikah maka menikah di usia dini menjadikan hukumnya sebatas mubah (boleh) hukum nikahnya sah dan tidak haram, tidak menjadikannya sebagai suatu anjuran atau keutamaan (sunnah), apalagi suatu keharusan (wajib).

Dan siapapun yang telah dan hendak melangsungkan pernikahan tentu menginginkan rumahtangga yang sakinah mawadah wa rahmah. Keluarga Muslim terutama ibu dan ayah harus berfungsi sebagai benteng umat yang kokoh dan bisa memberikan ketenangan, kedamaian dan kenyamanan dengan penuh kasih sayang yang dilandasi iman dan takwa, serta mampu menjalin kerja sama dengan penuh persahabatan. 

Mereka harus siap melahirkan generasi terbaik dan individu-individu yang bertakwa. Bersedia berjuang bersama berdua, bahu membahu mewujudkan visi dan misi keluarga hingga jannah serta mampu menjalankan syariat-Nya secara keseluruhan. Namun mewujudkan keluarga yang ideal ini dalam masyarakat yang jauh dari nilai-nilai Islam seperti saat ini, tentu tidaklah mudah dan hal yang harus diwujudkan agar pernikahan sukses mencapai tujuan adalah;

Pertama. Saling menerima diri dan pasangan. Menerima dan mencintai pasangan apa adanya. Menerima dia dengan segala karaktermya yang unik. Karena, karakter dasar dan kodrati itu tidaklah dapat diubah. Dan jika memaksa untuk mengubah pasangan kemudian tidak tercapai, pastilah hanya kekecewaan yang timbul sehingga muncul benih kebencian dan akhirnya merusak persahabatan keduanya.

Kedua. Persahabatan yang akrab. Suami dan istri adalah bukan majikan dan anak buah, tetapi persahabatan akrab antara dua jenis makhluk yang berbeda, namun setara sebagai manusia. Dalam kehidupan persahabatan, interaksi keduanya bukan semata-mata dalam rangka menjalankan hak dan kewajiban, seperti halnya buruh dan majikan. Jika bersahabat hanya menuntut soal hak dan kewajiban maka kebahagiaan akan tergerus. Kehidupan persahabatan suami dan istri adalah menjalankan kewajiban semampunya dan bila perlu menambah di luar kewajiban. Sehingga apabila kewajiban sudah dijalankan, maka secara otomatis hak akan diterima oleh pasangan.

Ketiga. Berjuang berdua. Pasangan suami istri harus sepakat untuk berjuang berdua dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Tidak berjuang masing-masing seolah hidup sendiri, dan tidak pula yang satu berjuang, yang lain santai, keduanya harus tumbuh secara bersama. Apabila ada permasalahan atau ujian dalam rumah tangga, maka suami istri haruslah bersepakat untuk berjuang mengatasi berdua.

Keempat. Saling percaya dan menjaga rahasia. Hubungan yang akrab dalam satu atap dalam jangka waktu yang panjang akan menciptakan rahasia dan keistimewaan yang hanya diketahui oleh suami dan istri secara rinci. Karena itu sebagai sahabat keduanya mempunyai kewajiban untuk saling menjaga rahasia pasangan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah pasti menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim).
Membuka rahasia pasangan menyebabkan runtuhnya kepercayaan dan inilah pangkal kehancuran rumah tangga sehingga pertengkaran dan kemarahan memicu terbukanya aib pasangan. Persahabatan harus diperjuangkan berdua demi keberhasilan rumah tangga mencapai tujuan.


Menikah Lebih Menyehatkan Dibanding Melajang 

Meskipun perjalanan pernikahan silih berganti antara suka dan duka, ternyata penelitian membuktikan bahwa menikah jauh lebih menyehatkan dan membahagiakan dibanding tidak menikah. Agama juga menganjurkan umatnya yang telah mampu untuk menikah karena terdapat keunggulan dalam menikah.

Pertama. Menyehatkan fisik. Orang yang sudah menikah biasanya memiliki gaya hidup yang lebih teratur dibanding saat masih sendiri, antara waktu istirahat, waktu kerja, waktu makan lebih terjadwal. Sebab harus menyelaraskan diri dengan pasangan. Memiliki pasangan juga menjadi motivasi tersendiri untuk memiliki gaya hidup yang lebih sehat.

Kedua. Meringankan stres. Pasangan yang berbagi dalam suka dan duka akan menjalani kehidupan lebih ringan dibanding saat sendiri, saling kerjasama dan tidak memendam masalah sendiri. Berbeda ketika masih sendiri yang menanggung stress sendiri. Pasangan yang mampu bersama-sama melawan stress akan jauh lebih sehat. Sehingga jika sudah menikah, maka pasangan adalah sahabat dalam memikul beban bersama.

Ketiga. Lebih kuat mental. Pernikahan menguji kesehatan mental, seberapa kuat menghadapi pasangan yang jauh berbeda karakter dengan kita. Juga menghadapi ujian demi ujian yang silih berganti berdatangan. Jika disikapi secara positif dan saling ada pengertian, justru akan menyehatkan mental. Karena itu pasangan harus memberikan dukungan satu sama lain agar terjaga kesehatan mentalnya.

Keempat. Kualitas hidup lebih baik. Berkumpulnya sepasang kekasih dalam ikatan pernikahan yang dilandasi kasih sayang dapat meningkatkan kualitas hidup keduanya. Baik secara ekonomi, pendidikan maupun moral. Keduanya lebih bisa menjaga diri dari pandangan. Mengerem diri dari perbuatan sia-sia karena mengingat mementingkan pasangan. Selalu berproses berdua dengan menambah ketrampilan dan pengetahuan. Saling berlomba dalam kebaikan. Belajar bersama setiap menghadapi persoalan.
 
Kelima. Kesehatan reproduksi terjaga. Kalangan generasi muda saat ini lebih memilih seks bebas, dan itu sangat merugikan dan membahayakan badan. Merusak organ reproduksi bahkan bisa mengundang penyakit menular seksual. Sedangkan yang memilih tidak melakukan hubungan seksual sama sekali, sesungguhnya itu menghilangkan peluang untuk meraih kenikmatan dan kebahagian batiniah serta menghilangkan peluang untuk mensyukuri organ reproduksi untuk melahirkan keturunan. Allah menciptakan naluri kasih sayang dan 
menganjurkan pemenuhan hubungan biologis melalui pernikahan, untuk mewujudkan ketenangan batin dan memupuk rasa kasih sayang pasangan suami istri. Dari keduanya dilahirkan keturunan yang sehat, yaitu melalui proses reproduksi yang benar. Sehingga pasangan yang telah menikah lebih terjaga kesehatan reproduksinya.

Keenam. Memperpanjang usia. Menikah menyebabkan pasangan memiliki komunitas pergaulan yang lebih luas. Bertambahnya kekerabatan dan pertemanan dari jalur pasangan, menambah sirahturahmi yang semakin mewarnai hidup. Dengan menikah kita telah membentuk keluarga yang memiliki tetangga, harus hidup bermasyarakat dan tidak individualis. Lebih bertanggungjawab dan peduli pada lingkungan sekitar. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Dewi Rahayu Cahyaningrum
(Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember)

Posting Komentar

0 Komentar