Makin Sekuler, Peta Pendidikan Ancam Generasi


Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) saat ini tengah menyusun peta jalan pendidikan tahun 2020-2035 dan merevisi UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Meski masih dalam tahap penyusunan terdapat kejanggalan dalam draft peta jalan pendidikan ini, diantaranya tidak ditemukannya frasa agama dalam draft rumusan paling mutakhir pada 12 Desember 2020. Justru frasa budaya dijadikan acuan nilai pendamping Pancasila. Visi pendidikan tahun 2035 itu berbunyi, “Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya dan Pancasila.” 

Jika kita bandingkan dengan UU No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, di sana masih disebutkan tujuan pendidikan untuk menjadikan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun pada implementasinya, visi ini tidak dijalankan sesuai dengan visinya. Kata beriman dan bertakwa hanya dijadikan pemoles luar yang sebenarnya jauh dari isi di dalamnya. Artinya, sebelum direvisi pun, pelaksanaan undang-undang terkait Sisdiknas ini  telah nyata mensekulerkan generasi. Tidak benar-benar menjadikan mereka beriman dan bertakwa sebagaimana redaksi visinya.

Hal ini dapat kita tengok di lapangan. Nilai-nilai demokratis dan HAM lah yang dijadikan acuan dalam proses pendidikan, bukan nilai-nilai dasar agama. Bagaimana mungkin bisa menciptakan generasi yang beriman dan bertakwa jika hanya mengandalkan 2 jam dalam seminggu untuk guru menyampaikan pelajaran agama Islam secara teroritis di sekolah. Belum lagi kurikulum pendidikan saat ini berbasis moderasi, yaitu mengandung nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme. Alhasil semakin sekulerlah generasi saat ini. Apatah lagi ditambah dihilangkannya frasa agama dalam peta jalan pendidikan.


Kejanggalan Penyusunan 

Masyarakat secara umum menolak peta jalan pendidikan Indonesia tahun 2020-2035. Pada 12 Maret 2021 #CopotNadiem menjadi trending di jagat media sosial sebagai tanda bukti kemurkaan rakyat atas penyusunan peta jalan pendidikan ini. Sebenarnya jika kita tilik lebih dalam terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam penyusunannya.

Pertama, menurut PP Muhamadiyah, Abdul Mukti selama proses penyusunan peta jalan pendidikan ini berlangsung sembunyi-sembunyi. Tanpa melibatkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP Kemendikbud) dan juga partisipasi publik. Meskipun Nadiem Makarim mengatakan akan menerima usulan mulai dari Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP), organisasi masyarakat, organisasi profesi guru hingga perkumpulan terkait pendidikan.

Kedua, ada kepentingan asing dalam penyusunan peta jalan pendidikan ini. Hal ini terbukti dengan Kemendikbud yang menerima masukan dari organisasi dunia, yaitu Bank Dunia dan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Bukan hal baru, Amerika memang sudah sejak lama memiliki agenda besar dalam rangka mengsekulerkan generasi. Barat akan memberi bantuan berupa hibah, pinjaman atau yang semisalnya ke suatu negara dengan salah satu syaratnya harus mengubah kurikulum pendidikan di negara tersebut.


Bahaya Peta Jalan Sekuler

Melihat kondisi output pendidikan saat ini sudah sekuler, dengan adanya peta jalan pendidikan yang baru, hal ini tentu akan semakin mengancam generasi. Pemahaman pluralisme dan multikulturalisme akan melunturkan pemahaman mereka terhadap Islam.

Dalam nilai-nilai ini, agama tidak diperbolehkan mengklaim dirinya benar. Agama juga tidak boleh mengklaim kebenaran hanya miliknya dan menjadi satu-satunya jalan keselamatan. Hal ini tentu akan memicu terjadinya dialog-dialog antar agama dan memasuki persoalan teologis. Jelas hal ini akan mengancam generasi yang rapuh keimanannya.

Generasi yang ingin dicapai dari peta jalan ini adalah pribadi yang humanis, fleksibel, dapat bersaing di pasaran dunia. Sosok manusia yang juga bebas, yang menjadikan agama sebagai formalitas belaka. Sungguh hal ini sangat berbahaya. Akan terlahir generasi-generasi liberal. Generasi yang tidak berpegang teguh pada keyakinan agamanya serta justru berkompromi dengan kekufuran dan kebathilan. Produk pendidikan yang gagal yang menjadikan sosok pribadi liberal yang cenderung tidak terkendali. 


Kembali ke Sistem Pendidikan Islam

Konsekuensi keimanan seorang Muslim mewajibkan kita untuk menggunakan aturan Islam untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya aturan Islam terkait pendidikan. Mengapa kita harus mencari peta jalan yang lain, padahal Allah subhanahu wa ta’ala telah menyediakan aturan yang tinggal kita terapkan? Allah bahkan bertanya secara retoris dalam Q.S. Al Maidah ayat 50, “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik bagi orang-orang yang yakin”.

Dalam prespektif Islam, pendidikan merupakan upaya yang dilakukan secara sadar, terstuktur serta sistematis, untuk mensukseskan misi penciptaan manusia, yaitu sebagai hamba Allah swt dan khalifah, wakil Allah di muka bumi. Peta jalan pendidikan yang semestinya dirancang adalah peta jalan yang jelas yang mewujudkan pendidikan Islam dalam rangka mewujudkan kualitas generasi terbaik yang disebut sebagai khairu ummah, bukan generasi sekuler. Semoga sistem Islam yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala ini segera terwujud. Aamiin. Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

Oleh: Diana Septiani
(Pemerhati Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar