Lampiran Aturan Investasi Miras Dicabut, Akankah Bisa Bernafas Lega?


Sebagian masyarakat merasa lega karena adanya pengumuman dicabutnya lampiran Perpres Investasi Miras. Sebagaimana diberitakan detikfinance.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya membatalkan untuk membuka keran investasi pada bidang usaha minuman beralkohol alias minuman keras (miras). Aturan mengenai investasi miras dimuat dalam Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. Setelah didesak sejumlah pihak, Jokowi langsung mencabut lampiran Perpres yang mengatur pembukaan investasi miras. Padahal aturan itu baru diteken di lampiran III, tepatnya pada butir 31, 32 dan 33 (Rabu, 3/3/2021).

Namun sepertinya masyarakat harus lebih detail lagi mencermati fakta pencabutan lampiran Perpres Investasi Miras. Sehingga benar-benar mendapatkan kesimpulan yang benar dan tepat terkait pencabutan ini. Masih di laman harian detikfinance.com, secara terpisah, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan Perpres 10/2021 baru akan berlaku per 4 Maret 2021. Meskipun lampiran mengenai investasi miras dicabut Jokowi, Perpres tersebut akan tetap berlaku.

Dia kembali memastikan bahwa Perpres tersebut tidak dicabut atau dibatalkan. Pemerintah hanya menghilangkan miras dari golongan bidang usaha yang terbuka buat investasi. "Menyangkut dengan lampiran, Perpresnya nggak dicabut semua, yang dicabut itu hanya lampiran 3 nomor 31, 32, 33, yang lainnya berlaku. Sekali lagi saya jelaskan bahwa Perpres ini berlaku terkecuali lampiran di bagian ketiga nomor 31, 32, dan 33 karena itu yang berbicara tentang alkohol, itu yang dicabut, selebihnya nggak dicabut," tambah Bahlil.


Akankah Bisa Bernapas Lega?

Salah satu sikap yang harus mulai kita biasa lakukan adalah detail melihat fakta, sehingga bisa menyikapi dengan tepat. Info dari Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal  (BKPM) Bahlil Lahadalia diatas merupakan sumber info valid betapa ternyata Perpres tidak dicabut atau dibatalkan. Pemerintah hanya akan menghilangkan miras dari golongan bidang usaha yang terbuka untuk investasi.

Sehingga selayaknya sebagai seorang Muslim yang baik, kita harus bersama-sama bersuara agar syariahNya tidak dicampakkan sedemikian nyata. Karena apapun latarbelakang alasannya, kita tahu bahwa segala aktivitas yang terkait khamr (dan setiap jenisnya) merupakan pelanggaran hukum syara'. 

Sebagaimana panduan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Rasulullah telah melaknat terkait khamr sepuluh golongan: pemerasnya; yang minta diperaskan; peminumnya; pengantarnya, yang minta diantarkan khamr; penuangnya; penjualnya; yang menikmati harganya; pembelinya; dan yang minta dibelikan (HR at-Tirmidzi).

Sedemikian rinci syariah Islam melindungi masyarakat agar terjaga akal, jiwa dan agama. Pun sebelum pernyataan terkait miras ini ramai di masyarakat, kita disuguhkan dengan kejadian memilukan yang disinyalir kuat ada kaitannya dengan miras.

Dikutip dari JawaPos.com (11/2/2021), Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Cirebon Polda Jabar mengamankan tiga tersangka pencabulan. Para pelaku yang diamankan, yakni MS (32), RB (31) dan AS (16) yang merupakan warga Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon. Kapolresta Cirebon Kombes Pol M. Syahduddi mengatakan, korban yang merupakan anak di bawah umur dinyatakan meninggal dunia beberapa saat setelah kejadian. Kronologis kejadiannya, para tersangka mengajak korban pesta miras kemudian menggilir ABG tersebut.

Kasus pencabulan yang terkait dengan miras seperti di atas, bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi di negeri ini. Kemudian ada juga kasus lain yang menghebohkan. Sebagaimana yang diberitakan TribunJakarta.com,Bripka CS membunuh tiga orang, satu diantaranya adalah prajurit TNI serta melukai satu orang. Insiden itu terjadi di Kafe RM yang berada di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis (1/3/2021) sekitar pukul 04.00 WIB. Terungkap bahwa Bripka CS melakukan hal itu karena dalam pengaruh miras. Dia terlibat cekcok usai ditagih bill minuman sebesar Rp 3,3 juta.

Di atas merupakan dua kasus saja yang penulis cantumkan, untuk membuka mata kita bahwa betapa efek miras sungguh luarbiasa merusak dan membahayakan. Ini bukan saatnya untuk bernapas lega, hingga aturan yang diterapkan sesuai dengan aturan syariatNya.

Dan sebagai Muslim seharusnya kita mengimani  dengan keyakinan yang utuh, bahwa apapun itu syariahNya pasti yang terbaik untuk manusia. Seringkali karena keterbatasan akal manusia-lah sehingga menyebabkan belum bisa mengambil hikmah atas setiap aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Sehingga keimanan lah yang menjadi landasan untuk menjauhkan sejauh-jauhnya dari pelanggaran syariah. Dan tentunya pemangku kebijakan menjadi garda terdepan dalam kebaikan, dengan tidak lagi memakai panduan sekuler kapitalis saat menelurkan peraturan untuk rakyat. 

Sebagai penutup, cukuplah dialog antara seorang pedagang dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di bawah ini menjadi penguat hati dan pikiran kita untuk bersegera mengamalkan panduan Sang Pencipta.

Dikutip dari Republika.co.id (artikel dengan judul "Alasan Ilmiah Mengapa Allah SWT Larang Minum Khamar"), Seorang pedagang asal Yaman pada suatu hari bertanya kepada Rasulullah. Dia bertanya tentang kebiasaan masyarakat di tempat tinggalnya yang suka minum minuman keras terbuat dari bahan padi-padian yang disebutnya mizr. Rasul menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan pula, "Apakah minuman itu memabukkan?"
Dan setelah dijawab "ya" oleh pedagang tadi, maka Rasul pun bersabda, "Setiap yang memabukkan sangatlah dilarang. Allah sudah membuat ketentuan bahwa bagi mereka yang meminum minuman memabukkan, maka di dalam minumannya itu akan berisi tinat al-khabal."
Orang tadi kembali bertanya apa yang dimaksudkan tinat al-khabal dan Rasulullah menjawab. "Itu merupakan keringat yang berasal dari penghuni neraka."

Wa ma taufiqi illa bilLah, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi unib.[]

Oleh: Dahlia Kumalasari, Pendidik

Posting Komentar

0 Komentar