Konflik Parpol, Bukti Demokrasi Gagal Mewujudkan Partai Idealis


Drama perebutan kepengurusan Partai Demokrat yang dibumbui gelaran Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara, menjadi antiklimaks dengan memilih Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai ketua umum (merdeka.com, 8/3/21). 

Sejarah mencatat, KLB partai politik selalu menyisakan konflik internal tak berkesudahan yang penyelesaiannya bertahun-tahun. Drama selanjutnya adalah terjadi saling klaim dan saling gugat di pengadilan. Jika ini yang terjadi maka masa depan partai Demokrat menjadi suram.
Kasus Partai Demokrat bukan yang pertama walaupun sumber dan relasi konfliknya berbeda. Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Kupang Ahmad Atang menuturkan, kondisi ini memberikan gambaran bahwa manajemen pengelolaan partai politik di Indonesia masih sangat tradisional. Sehingga tidak ada mekanisme penyelesaian konflik. Menurutnya, konflik partai politik di Indonesia selalu diawali dengan konflik elite. Kenyataan ini menunjukkan bahwa elite politik di republik ini belum dewasa dan masih labil dalam berpolitik (merdeka.com, 8/3/21).

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa pengkaderan yang bagus, disiplin serta mencerdaskan intelektual itu penting. Juga menghindari adanya kasta, tahta, harta sebab terlihat sekali bahwa dari sisi pemikiran belum dewasa dan adanya senioritas serta ketidak adilan dalam politik ini yang bisa melanggar undang-undang yang buat dalam demokrasi itu sendiri. 

Kurang pahamnya meri’ayah (mengurus) partai politik ini serta pembinaan yang mendasar, kalau melihat permasalah ini banyak yang membuat akhirnya baku hantam akibat kekuasaan semata. Tidak dipungkiri ini di akibatkan hawa nafsu manusia itu sendiri yaitu gharizah baqa' (eksistensi diri). 
Semakin kelihatan bahwa dalam sistem kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan (sekuler) tidak mampu membuat partai politik atau orang-orangnya menjadi para intektual yang berjuang dalam politik dengan pemikiran cemerlang, tegas, tidak egois, anti korupsi, serta hukum-Nya di taati secara menyeluruh taka da nihil bahkan tidak ada sama sekali.

Semua penuh pencitraan atau rekayasa demi memperbaiki nama baik serta adanya asas manfaat dalam kubu partai politik untuk keselamatan per orang. Innnalillahi jadi sangat jelas ya bahwa ini semua adalah merupakan kehancuran dari sistemnya yang melahirkan para politikus yang tak idealis. 
Maka tidak heran bahwa ini merupakan pengalihan isu, serta permasalahan berputar sekitar masalah kursi kekuasaan, koalisi partai satu dengan yang lain. berdamai dikala ada kesamaan yang dituju dan sama-sama menguntungkan tetapi begitu menyengsarakan rakyat. 

Jadi wajar pada saat ini tidak bisa melahirkan partai politik idealis dan pastinya akhlak, akidah yang kuat tidak bisa. bahkan syarat-syaratnya, visi dan misi dari partai politik tersebut tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Padahal dalam Islam ada syarat-syarat yang harus dipenuhi partai yaitu: 

Pertama. Pemikiran atau landasannya harus Islam tidak yang lain jadi aqidah Islam adalah landasan berfikir yang kuat. karena berasal dari wahyu allah swt. dalam surah Ali-Imrah ayat 19 sebagai berikut:   

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali-Imran:19). 

Jelas agama yang diridhoi disisi-Nya hanya Islam. sehingga jelas tujuan partai tidak berhukum karena hawa nafsu dan hukum buatan manusia. 

Kedua. Metodenya harus benar sehingga mewujudkan pemikiran yang benar juga, bukan karena akal manusia semata. metode dakwah mengikuti rasulullah saw. Dalam surah Ali-imran ayat 31 sebagai berikut:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-imran:31). 

Ketiga. Para aktivisnya yang ikhlas. Jadi orang-orang di dalam partai tersebut harusnya orang-orang yang hanya mengharapkan ridho Allah swt. agar tercapailah visi dan misi satu lalu merekapun mudah diarahkan oleh partai, kalau berbelok arah, melakukan kesalahan, merekalah yang menasihati. Sehingga kualitas partai terus terjaga.

Keempat. Ikatan partainya yaitu yang benar adalah memiliki ikatan yang kuat. benar akidah Islam tidak bisa ditinggalkan, diabaikan, dicampakkan sebab kalau ikatannya nasionalisme itu tidak baik serta menimbulkan sikap apatis lalu ikatan yang sementara dan menimbulkan terpecah-pecah.

Inilah hal yang harus dicatat serta menjadi PR (pekerjaan rumah) besar bagi kaum Muslim teruntuk para pengemban dakwah.  Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

Oleh: Yafi’ah Nurul Salsabila S. Pd
(Alumni IPRIJA Dan Aktivis Dakwah)

Posting Komentar

0 Komentar