Kisruh Parpol dalam Demokrasi


Berita kisruh pada badan partai Demokrat menjadi topik hangat akhir-akhir ini. Pasalnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menganggap terdapat upaya pelengseran bangku kekuasaan terhadap dirinya. Upaya pelengseran tersebut disinyalir dari adanya Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara pada 5/3/2021 lalu yang dilakukan oleh beberapa kader dan mantan kader Partai Demokrat dengan mengusung nama Moeldoko sebagai Ketua Umum Partai Demokrat pengganti AHY (tempo.co).

Adanya konflik internal dalam tubuh partai nampaknya bukan hal baru di negeri ini. Sebelumnya, pernah terjadi kasus serupa pada PKB (tempo.co). Hal ini menunjukkan adanya problem parpol yang terjadi secara berulang pada demokrasi. Ini merupakan hal wajar dalam demokrasi, sebab konflik internal partai tak lebih disebabkan oleh adanya perbedaan pandangan dan kepentingan dalam mewujudkan manfaat yang lebih besar bagi kepentingan partai tersebut.

Merupakan kelaziman bahwa partai politik dalam demokrasi merupakan wadah untuk memperoleh manfaat dari setiap keputusan politik yang akan dihasilkan. Layaknya adagium "tidak ada kawan dan lawan yang abadi dalam politik, yang ada hanyalah kepentingan abadi", sering ditemui fenomena perpindahan kubu politik demi memperoleh kebermanfaatan yang lebih tinggi.

Berdasarkan kaca mata partai politik yang bersifat dinamis menjadikan partai politik dalam demokrasi belum dirasakan keberpihakannya terhadap rakyat. Banyak kasus, partai politik baru mulai bergandengan dengan rakyat ketika mendekati pesta demokrasi semata. Bahkan kader-kader partai politik justru belum memberi image dan peran positif di mata rakyat, adanya kasus korupsi kader-kader partai politik menjadi berita yang dikonsumsi sehari-hari oleh rakyat. 

Selain itu, berdasarkan definisi mengenai politik, partai politik sendiri banyak digunakan sebagai alat untuk mencapai atau mempertahankan kekuasaan setinggi mungkin. Kader-kader partai politik akan senantiasa berusaha meraih kekuasaan setinggi-tingginya, akibatnya rentan terjadi benturan kepentingan antar kader. Sehingga partai politik yang seharusnya memiliki peran sebagai pemberi kritik dan nasihat kepada penguasa justru menjadi tangan untuk mempertahankan kekuasaan.

Terlebih lagi, penguasa yang memiliki peran strategis sebagai penjaga dan pengatur umat justru tidak menjalankan fungsi tersebut. Bahkan disinyalir justru menjadikan konflik partai politik sebagai prospek keuntungan bagi kekuasaannya. Hal ini tentu miris sekali, negeri ini sedang kehilangan peran penguasa dan juga peran partai politik.

Islam dengan seperangkat aturannya, tentu mengatur bagaimana konsep berpolitik dan peran partai politik terhadap negara dan umat. Politik dalam Islam bermakna mengurus urusan rakyat, sehingga tujuan penguasa maupun partai politik bukanlah mencari kekuasaan setinggi-tingginya. Partai politik memiliki tujuan untuk menyeru kaum muslim agar memahami Islam dan mengembalikan kehidupan Islam secara kaffah. Partai politik akan berupaya menyadarkan akan kebutuhan umat terhadap Islam sehingga tercipta kesadaran umat akan pentingnya sistem kehidupan bernafaskan Islam, yaitu Khilafah.

Partai politik dalam Islam juga mengambil peran dalam memberi kritik dan nasihat kepada penguasa dan umat agar tetap melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hal ini bertujuan untuk tetap menjaga penerapan Islam secara kaffah. Partai politik Islam yang sahih berdiri atas dasar akidah Islam. Sehingga, penting untuk memperhatikan tujuan, ide, metode, dan aktivitas partai agar selaras dengan Islam.

Partai politik berperan sebagai penjaga penerapan hukum-hukum syariat yang dilakukan oleh negara agar tetap dalam koridor yang benar. Parpol Islam juga akan selalu menjadikan dakwah sebagai aktivitas utamanya untuk menjaga keberlangsungan sistem Islam. Sehingga, parpol tidak akan berperan sebagai pengaman kekuasaan atau penentang penguasa, akan tetapi menjadi wakil rakyat yang senantiasa melakukan kontrol atas kebijakan penguasa agar rahmatan lil 'alamin dapat diraih. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Fathimah A. S.

Posting Komentar

0 Komentar