Khairu Ummah Wujudkan Islam Rahmatan Lil Alamin


Bagai anak ayam kehilangan induk. Ketika khilafah sebagai institusi pelindung dan pengriayah (pengurus) dihapus paksa, mulai menyebar penyakit menimpa umat Islam. 100 tahun berlalu, penyakit itu pun tak kunjung sembuh malah makin kronis. Mengapa? Ketiadaan institusi tersebut berimpak pada tidak diterapkannya syariat Islam sevara kaffah, tidak terjalinnya ukhuwah Islamiyah secara nyata, dan tidak diembannya dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia.

Hari ini, syariat Islam terkait pengaturan kehidupan publik (ekonomi, sosial, hukum, pemerintahan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya) diamputasi. Syariat terkait ritual dan pribadi diafirmasi tapi tak dipungkiri banyak yang dipolemikkan. Misalkan pelarangan kewajiban pemakaian jilbab di sekolah, pelarangan membuka warung makan di siang hari di bulan Ramadhan dianggap intoleransi, polemik volume suara azan dari masjid dimasalahkan, minuman keras yang haram dilegalkan, polemik pernikahan usia dini serta poligami dipermasalahkan dan sebagainya.

Ini menunjukkan bahwa umat semakin jauh dari syariat Islam baik ranah pribadi, keluarga, bermasyarakat maupun bernegara. Aturan kehidupan publik, mengambil dan menerapkan aturan dari akal manusia yang terbatas. Kecenderungannya didominasi nafsu serta kepentingan diri dan kelompok. Cara pikir dan pandang serta pengambilan keputusan, di luar aturan Allah Swt. Wajar akhirnya aturan tersebut membuahkan pertentangan dan kesengsaraan. 


Sejuta Masalah Tak Berujung

Kemiskinan sistemik hari ini, bukan hanya masalah kelangkaan barang dan jasa. Tapi karena distribusi kekayaan yang tak merata di tengah-tengah masyarakat. Dalam laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyatakan 1% orang kaya di Indonesia menguasai 50% aset nasional. Selaras juga dengan laporan lembaga Oxfam yang menyatakan kekayaan 4 orang, setara dengan gabungan kekayaan 100 juta orang miskin di negeri ini. BPS pun mencatat jurang ketimpangan antara kaya dan miskin di Indonesia lebar. Bahkan Indonesia negara tertimpang keempat di dunia (tempo.co, 10/10/2019).

Permasalahan di atas tak pelak lagi karena penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Pengelolaan kepemilikan umum seperti sumber daya alam diserahkan kepada individu/pihak swasta selama ada akses dan modal. Serta terbukanya sistem keuangan ribawi dan sektor non riil.

Masalah kehidupan sosial pun tak kalah peliknya. Negara darurat narkoba, angka bunuh diri tinggi, remaja hamil di luar nikah meningkat, korban miras sudah tak terhitung. Belum lagi masalah pembunuhan, perampokan, begal, korupsi dan sebagainya.

Tajam ke bawah tumpul ke atas. Begitulah gambaran penegakan hukum di negeri ini. Keadilan hukum hanya bagi yang berpunya dan berkuasa. Tapi bagi rakyat kecil jauh panggang dari api. Tak bisa dinafikkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum dan penegakannya sudah menguap. Bahkan yang ironis, pelaporan kasus hukum oleh rakyat kecil malah bisa saja menjadi delik hukum baginya. 

Pendidikan pun tak luput dari masalah. Covid-19 secara tak langsung mengungkap rapuhnya sistem pendidikan nasional. Baik dari sisi anggaran, infrastruktur maupun kurikulum. Infrastruktur pendidikan belum memadai. Sampai detik ini, kendala gawai belajar dan akses internet untuk pembelajaran daring belum mampu diatasi oleh pemerintah. Pun sama dengan kurikulum, pemberlakuan kurikulum darurat, ternyata tak mampu menyelesaikan masalah pendidikan. 

Karena diakui kurikulum yang diberlakukan sebelum dan setelah pandemi, tak memberi ruang yang cukup pembentukan kepribadian dan life skill. Kepribadian takwa dalam menjalani aturan agama belum menjadi prioritas utama. Bahkan visi peta jalan pendidikan yang digagas tahun ini menuai kontroversi. 

Apalagi melihat kepada sektor kesehatan. Pandemi belum jelas ujungnya. Korban kematian dari Covid-19 semakin tinggi. Ya Covid-19 juga menguak kelemahan infrastruktur dan SDM kesehatan. Apalagi biaya kesehatan semakin menguras kantong. Masyarakat selalu disajikan berita terkait kenaikan BPJS

Belum lagi bila menengok kondisi kaum Muslim di negeri seberang. Muslim Palestina penderitaannya tanpa henti, sudah setengah abad lebih dijajah Israel, Muslim Uighur disiksa, diperkosa, bahkan dipaksa murtad, Muslim Rohingya disiksa, terlunta-lunta mencari perlindungan tapi mirisnya diusir dari negeri saudara sendiri.

Nasib yang serupa juga dialami Muslim di Suriah, Pattani, Mali, Bosnia, Moro, Azerbaijan dan yang lainnya. Darah senantiasa mengalir. Nyawa kaum Muslim seakan tak ada harganya. Kaum Muslim menjadi bulan-bulanan. Terus menerus terhina dan dihinakan. Kerap kali dikorbankan untuk kepentingan politik. Mirisnya nation state menjadi penyekat bagi kaum Muslim di negeri lain untuk menolong saudara seakidahnya. Tak ada kekuatan institusi politik dan negara yang melindungi kaumnya. Ukhuwah Islamiyah pun makin ambyar. 
Ketika syariat Islam tak diterapkan secara kaffah, ukhuwah Islam tersekat, apa lagi dengan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tak ada lagi institusi politik dan negara yang merealisasikannya. Islam rahmatan lil ‘alamin pun kian tak terwujud. 


Mulianya Amar Ma’ruf Nahi Munkar 

Kondisi kaum Muslim seperti di atas, tak selaras dengan visi misi Islam yang diturunkan oleh Allah Swt. Islam itu tinggi, agung serta mulia, dan tak ada yang mampu mengalahkan ketinggian, keagungan dan kemuliaannya. Semua ini akan berlaku sama kepada kaum Muslim apabila memenuhi kriterianya, sesuai dengan firman Allah Swt.

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ ۗ 

Artinya: "Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah Swt." (QS.Ali 'Imran 110).

Berdasarkan ayat di atas, asas mendasar untuk menjadi khairu ummah adalah iman kepada Allah. Lalu memerintahkan pada kebaikan (beramar ma’ruf). Dengan menyeru ketaatan dan ketundukan kepada Allah Swt semata. Terikat pada syariat Allah secara kaffah. Baik dalam hablumminallah, hablum bin nafs dan hablum bin nas. Konsekuensinya adalah penerapan syariat Islam baik oleh individu Muslim, masyarakat maupun negara.

Individu Muslim menjalankan syariat Islam didorong rasa ketakwaan. Masyarakat turut serta membimbing dengan dakwah kelompok. Negara pun menerapkan hukum syariat terkait kehidupan publik. Disertai dengan pembimbingan dan pembinaan ketakwaan secara komunal. 
Kolaborasi ini akan semakin berpengaruh kuat, apabila di dalamnya ada aktivitas mencegah kemungkaran (nahi munkar). 

Individu melakukannya agar kemaksiatan tidak menjadi habituasi (kebiasaan). Masyarakat pun sama mengontrol pelaksanaannya. Negara memiliki kekuatan dalam penerapan sanksi/hukumnya. Khairu ummah tak hanya berlaku pada masa Rasulullah saw. saja, tapi untuk umat Beliau sampai kapan pun jua. Rasulullah saw pernah bersabda:

أُعْطِيتُ مَا لَمْ يُعْطَ أَحَدٌ مِنْ الأنْبِيَاءِ. فَقُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا هُوَ؟ قَالَ: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُعْطِيتُ مَفَاتِيحَ الأرْضِ، وَسُمِّيتُ أَحْمَدَ، وَجُعِلَ التُّرَابُ لِي طَهُورًا، وَجُعِلَتْ أُمَّتِي خَيْرَ الأمَمِ

Artinya: "Aku diberi apa yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku. Kami bertanya, "Apakah itu? Beliau bersabda: Aku ditolong dengan rasa takut, aku diberi kunci-kunci bumi, aku diberi nama Ahmad, tanah dijadikan suci untukku dan umatku dijadikan sebagai umat terbaik." (HR. Ahmad). 

Artinya kemuliaan dan kejayaan peradaban Islam di masa Rasulullah, juga akan bisa dialami kaum Muslim sekarang. Hanya dengan memenuhi kriterianya, yaitu amar makruf nahi munkar. Karena perubahan tak akan datang dengan sendirinya tapi dengan dakwah. Jika hari ini amar makruf nahi mungkar dan dakwah dipersoalkan oleh sistem sekuler, digelari radikal, intoleran, teroris, fundamentalis dan lain sebagainya; maka itulah ujian dan perjuangan di jalan Allah Swt.

وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ اِلَى اللّٰهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَّقَالَ اِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: "Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Swt dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?" (QS. Fussilat ayat 33). 
Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

Oleh: Meri Hastuti

Posting Komentar

0 Komentar