KH Hafidz Abdurrahman: Jika Zat Vaksin Haram dan Membahayakan, maka Haram Kuadrat



TintaSiyasi.com-- Menyoroti polemik pemberitaan haramnya vaksin jenis tertentu, Khadim Ma'had Syaraful Haramain KH Hafidz Abdurrahman, MA mengatakan, jika vaksin haram dan membahayakan kesehatan, maka haram kuadrat.

"Jika zatnya haram, karena memang tidak ada obat yang lain, tetapi bisa digunakan untuk pengobatan, maka hukum menggunakannya makruh. Tetapi, jika zatnya haram, dan membahayakan kesehatan, maka ini haram kuadrat," tuturnya pada Tintasiyasi.com Kamis (25/03/2021).

Menurutnya, mengenai status vaksin, misalnya yang disediakan oleh negara zatnya haram, itu adalah tanggung jawab penyelenggara negara. "Adapun rakyat yang menggunakannya, harus mengetahui," katanya. 

Ia menerangkan, hal itu berdasarkan Nabi Muhammad Saw melarang berobat dengan obat yang haram, tetapi membiarkan sahabat menggunakan barang najis untuk berobat. "Artinya, larangan tersebut tidak bersifat jazim (haram), tetapi ghaira jazim (makruh)," jelasnya.

Ia menjelaskan, vaksinasi adalah bagian dari pengobatan dan berobat hukumnya mandub, tidak wajib. "Dalilnya hadis Imam Bukhari dari jalur Abu Hurairah, yang menuturkan, bahwa Rasulullah Saw bersabda, Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Allah turunkan obat untuknya," ujarnya.

Ia memaparkan, dalam riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Abdullah dari Nabi Saw, baginda bersabda, Untuk setiap peyakit ada obatnya, dan jika obat itu mengenai penyakit, maka sembuh dengan izin Allah azza wa jalla. Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Allah turunkan obat untuknya, itu diketahui oleh orang yang berilmu dan tidak diketahui oleh orang yang tidak punya ilmunya.

Menurutnya, Islam mengharuskan negara menyediakan vaksin yang sehat. "Hanya saja, Islam mengharuskan negara untuk bertanggung jawab menyediakan vaksin yang sehat, bersih dan halal. Sabda Nabi Saw, Imam adalah pemelihara dan dia bertanggungjawab atas pemeliharaannya. HR. Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar," tandasnya.[] Witri Osman

Posting Komentar

0 Komentar