Ketua FDMPB Nilai Visi Pendidikan Indonesia Dipengaruhi Sekulerisme



TintaSiyasi.com-- Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra, M.M mengatakan, visi pendidikan di Indonesia dipengaruhi sekularisme. 

"Menyorot latar belakang kebijakan politik pendidikan, itu dipengaruhi oleh materialisme, visi pendidikannya dipengaruhi oleh sekularisme," tuturnya dalam Focus Group Discussion ke-10 bertajuk Peta Jalan Pendidikan Indonesia di kanal YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa, Sabtu (13/3/2021).

Menurutnya, latar belakang kebijakan peta jalan menunjukkan orientasi duniawi, bahkan materialisme yang berbasis pengembangan industri untuk melahirkan para pekerja dan itu tentu minus adab, moral, serta nilai-nilai agama.

Ia menjelaskan, jika mencoba untuk menganalisis dari sisi latar belakang masalah yang mendasari lahirnya peta jalan pendidikan itu. Ia menemukan beberapa hal. Pertama, perubahan teknologi sosiokultural dan lingkungan. "Disrupsi teknologi akan berdampak pada semua sektor. Perubahan demografi, profit sosio ekonomi dan populasi dunia, habisnya bahan bakar fosil, krisis air, perubahan iklim dan naiknya permukaan laut," jelasnya.

Kedua, penguatan kepada ketersediaan tenaga kerja di dunia industri. Ia mempertanyakan, industri hari ini milik siapa? "Milik para kapitalis, milik para pemilik modal. Jadi, kasarnya hanya ingin menyediakan para pekerja untuk menjadi robot-robotnya para kapitalis, kira-kira seperti itu," ungkapnya.

Selanjutnya, ia menjelaskan analisis politik ideologi dari visinya. Jika melihat bunyi visi sebagai berikut, membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai- nilai budaya dan Pancasila. Ia menilai,  pertama, secara redaksional dan paradigma visi pendidikan Indonesia tahun 2020-2035 cenderung berpaham sekulerisme.

"Karena dalam Islam, hubungannya dengan landasan epistemologi syariat. Ini sama sekali tidak disinggung. Kalau pun menyebut agama, Pancasila, itu kan bagian dari konsensus itu," jelasnya.

Ia menambahkan, dalam sejarah rezim Soekarno dan seterusnya, ternyata Pancasila membutuhkan underliying system (sistem yang mendasari) juga. "Yang kemudian mana yang cenderung liberalistik, sekuleristik, komunistik dan semua mengatasnamakan Pancasilaistik. Saya Pancasila! Setelah itu ditangkap masuk penjara, itu kan aneh juga! Nah, visinya itu cenderung seperti itu, agama tidak ada di situ," pungkasnya.[] Witri Osman

Posting Komentar

0 Komentar