Ketua Departemen Advokasi Kebijakan KPA: Impor Beras Belum Dibutuhkan



TintaSiyasi.com-- Menanggapi rencana pemerintah yang akan melakukan impor beras, Ketua Departemen Advokasi Kebijakan Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA) Joshua Rian Martin  Situmorang mengatakan, saat ini impor beras belum dibutuhkan.

“Impor beras ini sesuatu yang mungkin belum menjadi kebutuhan kita saat ini, banyak daerah akan panen raya di bulan April dan Mei” tuturnya dalam acara Focus Group Discussion: Kebijakan Impor Beras; Demi Apa & Untuk Siapa? Kamis (18/03/2021) di kanal YouTube PKAD.

Ia mempertanyakan kebijakan impor tersebut, mengingat dalam  undang-undang pangan seharusnya pemerintah daerah menetapkan kebijakan yang tidak berdampak negatif.

“Karena tidak harus menjadi pakar untuk memahami logikanya,  bahwa di saat kita panen raya punya banyak stok pangan atau padi kemudian kita harus mengimpor," tambahnya.

Bang Joshua, sapaan akrabnya, mengatakan, sumbangsih pertanian nasional terhadap perekonomian cukup meningkat.

“Peningkatannya itu sangat signifikan jadi tahun 2018 ke 2019, itu saya rasa kontribusinya terhadap PDB nasional meningkat sampai 1900 triliun dalam satu tahun,” imbuhnya.

Ia menambahkan, selama masa pandemi ini  Kinsorsium Pembaruan Agraria (KPA) membangun gerakan rakyat bantu rakyat yang di beri nama solidaritas lumbung agrarian. 

“Dampak  dari pandemi ini sangat begitu luas dimana tidak hanya di pedesaan tapi juga di perkotaan. Sangat banyak kaum buruh yang harus di PHK,” imbuhnya. 

Bang Joshua mengatakan, ada paradoks kebijakan yang di kritisi oleh KPA mengingat pada awal pandemi presiden meminta petani bahwa harus tetap  berproduksi.

“Ini juga menjadi pegangan di KPA,  ada satu momentum bahwa kita harus kembali lagi menjadi negara agraris, kita harus mengandalkan petani kita dalam memenuhi kebutuhan pangan kita,” jelasnya. 

Ia menuturkan, petani yang memiliki  tanah yang kecil, berlahan sempit di bawah 0,5 ha itu mampu bertahan di tengah krisis pandemi.

“Itu menunjukan bahwa memang sangat luar biasa meresiliensi petani-petani kecil kita. Tinggal apakah  pemerintah mau mengkapitalisasi menjadi satu kekuatan besar sebagai negara agraris, ini satu contoh bahwa memang kita harus kembali ke cita-cita awal kita  bahwa pertanian kita harus di utamakan dan produksinya juga harus di utamakan," pungkasnya.[] Sri Purwanti

Posting Komentar

0 Komentar