Kepala Tentara Pakistan: Waktunya Mengubur Masa Lalu dengan India



TintaSiyasi.com-- Kepala militer tertinggi Pakistan Qamar Javed Bajwa telah memanggil lawan lengkung teritorialnya India-Pakistan untuk mengubur masa lalu dan beralih menuju hubungan yang kooperatif. Tawaran yang diajukan terhadap New Delhi sebagai bentuk pengumuman genjatan senjata yang terjadi tiba-tiba dan ajakan bergabung antara militer kedua negara bulan lalu.  

Kepala Militer Qamar Javed Bajwa menekankan, agar India menciptakan lingkungan yang kondusif dan mengatakan bahwa Amerika akan turun tangan mengambil kebijakan dalam mengakhiri konflik regional keduanya. 

“Kami merasa ini adalah waktu untuk mengubur masa lalu dan harus berubah,” kata Bajwa pada saat menghadiri suatu pertemuan diskusi seminar tentang isu kemanan nasional di kalangan para ahli, di ibukota Islamabad.  

Dalam sebuah catatan perdamaian yang tergolong langka, Bajwa menyerukan resolusi damai untuk perselisihan Kashmir dan bicara dengan lawan lengkung teritorialnya, India.  

Bajwa menitikberatkan kepada India, bagaimana pun caranya agar  India mengambil beban dalam  menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berunding. “Tetapi, tetangga kita (India) harus menciptakan lingkungan yang kondusif, khususnya di wilayah pendudukan Kashmir,“ katanya mengacu pada bagian pegunungan Himalaya yang menjadi wilayah teritori India secara administratif. 

Perselisihan yang tidak pasti antara kedua negara nuklir Asia Selatan terus berlanjut. "Untuk menyeret wilayah ini kembali ke kubangan kemiskinan dan keterbelakangan,” kata Bajwa dalam konferensi yang ia maksudkan sebagai sorotan kebijakan keamanan baru di negara Pakistan. Tetapi, India belum memberikan respon dengan cepat.

Kekuatan militer Pakistan telah mengatur negara selama mendekati setengah dari 73 tahun eksistensinya, dan lembaga militer telah lama mengontrol kebijakan dan keamanan luar negeri. 

Persengketaan wilayah Himalaya yaitu konflik perbatasan Kashmir, adalah karena menjadi pemisah batas wilayah negara antara Pakistan dan India, tetapi keduanya mengklaim sebagai penguasa wilayah Kashmir seluruhnya. Kedua negara telah berperang sebanyak dua kali selama tiga kali letusan perang terhadap penguasaan wilayah Kashmir, yang dimulai sejak kemerdekaan yang diperoleh dari Inggris tahun 1947. 

Hubungan India-Pakistan memburuk ditahun 2019 setelah New Delhi melucuti bagian Kashmir dengan status khususnya selama berada di bawah konstitusi India.  Bajwa mengatakan, potensi ekonomi dari Selatan dan Pusat Asia telah 'selamanya memiliki jaminan' terhadap perselisihan India-Pakistan.  

“Hal ini sangat penting untuk dimengerti bahwa tanpa resolusi untuk persengketaan Kashmir yang mengarah pada perdamaian, maka proses untuk pendekatan secara sub-kontinental akan selalu rentan tergelincir,” bebernya.

Panggilan Bajwa datang setelah militer dari kedua negara merilis pernyataan bersama pada 25 Februari lalu, tentang pengumuman genjatan senjata secara de facto di perbatasan Kashmir, yang diketahui sebagai garis kontrol (LoC) pasca terjadinya  ratusan serangan api mematikan dalam waktu beberapa bulan belakangan ini.  

Amerika Serikat (AS) segera datang mengajak dan mendesak keduanya untuk terus membangun kemajuan ini. Bajwa mengatakan telah “berharap” dalam forum administrasi terbaru Joe Biden, yang akan mampu menjamin fasilitas kedamaian di wilayah tersebut. 

Juga ucapan dalam pertemuan tersebut, Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mahmood Qureaishi, mengatakan, “jika India mengambil selangkah menuju perdamaian, Pakistan akan mengambil dua langkah.”

Ia  mengklaim, India memilih langkah mundur ke belakang (dengan) Asia Selatan sekali lagi menuju ke tepi jurang. Pakistan ingin India memutar tahun di bawah 2019 dimana New Delhi melucuti semi-otonomi sebagai status Kashmir dan memberikan banyak perubahan administrasi sebagai aturan baru, sehingga mengundang kemarahan warga di wilayah perbatasan tersebut. 

India menuduh Pakistan memfasilitasi persenjataan dan melatih pemberontak anti-India di Kashmir dan juga membantu mereka untuk menciptakan serangan bersenjata dan menutupinya untuk melakukan serangan kedalam wilayah India. Suatu tuduhan yang disangkal oleh Pakistan. Menurut Pakistan, pemberontak yang ada di India di wilayah administratif Kashmir, telah memerangi kebijakan India sejak 1989.[] M. Siregar

Posting Komentar

0 Komentar