Kemunculan Aliran Menyimpang Hakekok Dampak Nalar dan Iman yang Mentok dalam Kehidupan Sekuler


Publik terkejut dengan berita adanya sekelompok orang yang melakukan ritual mandi dengan bugil bareng di sebuah rawa yang ada di Desa Karang Bolong, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten pada Kamis (11/3) siang. Sekelompok orang yang melakoni ritual tersebut ternyata para pengikut kelompok Hakekok Balakasuta.

Berdasarkan pemeriksaan sementara, pengikut kelompok ini tergiur ajakan pemimpin Hakekok yakni Aryani atau Arya (52) yang menjanjikan keselamatan dunia akhirat. Dia menjanjikan kelompoknya bisa hidup layak kalau ikut keyakinan ini. Sejumlah azimat mulai dari keris hingga barang-barang klenik lain selalu ditunjukkan untuk memuluskan aksinya saat menyebarkan ajaran Hakekok. Pengikutnya menganggap barang-barang tersebut punya kemampuan lebih sehingga pemimpinnya bisa mempengaruhi yang lain. 

Selain itu, Hakekok diketahui menggunakan alat-alat aneh saat ritualnya. Ada beberapa barang yang ditemukan polisi pada saat pengamanan, di antaranya alat kontrasepsi. Ada juga keris hingga kemenyan yang digunakan oleh mereka selama melakukan ritual. Polisi masih melakukan pendalaman terkait penemuan kondom dan barang lainnya sebab di antara 16 pengikut ritual bugil ini ada yang sudah berstatus suami-istri.

Kehebohan Hakekok dengan melakoni ritual nyeleneh bukan yang pertama di negeri ini. Aliran-aliran menyimpang lainnya yang pernah menghebohkan masyarakat sudah pernah muncul sebelumnya. Pada 2005, Indonesia pernah digegerkan oleh kemunculan Lia Aminudin alias Lia Eden, yang mengaku mendapatkan wahyu dari Jibril. Dia pun mendapatkan sejumlah pengikut lewat Takhta Suci Kerajaan Tuhan. Selanjutnya, pada 2009 ada Agus Imam Solichin warga Bekasi yang kerap berceramah dengan celana dalam saja. Dia memiliki pengikut 30-40 orang dengan mendirikan ajaran Satria Piningit Weteng Buwono. Pada 2018, Aisyah Tusalamah pernah mengegerkan Banten dengan memunculkan kerajaan bernama Kerajaan Ubur-ubur. Ia mengaku titisan Nyi Roro Kidul dan mendapatkan berbagai mandat pencairan harta karun Indonesia di Swiss. Ia adalah yang diutus seseorang yang gaib dan tidak semua orang paham.

Kemunculan Hakekok menambah daftar panjang persoalan aliran menyimpang di Indonesia. Jika negeri ini menyatakan diri berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa kemudian ada Kementerian Agama yang bertugas membina kualitas pendidikan umat beragama lalu kenapa nalar dan iman masyarakat masih ada yang mentok? 

Islam memerintahkan umatnya untuk senantiasa berada dalam ketaatan terhadap syariat. Allah Swt. berfirman:

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ


"Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui." (QS. Al-Jasiah: 18)

Jika perintah untuk mengikuti syariat dan jangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui dilaksanakan secara konsekuen maka aliran yang menyimpang dari agama tidak akan menemukan tempatnya. Namun tidak semua manusia senantiasa berada dalam ketaatan beragama, maka ada beberapa strategi dari ajaran Islam dalam mengatasi kemunculan aliran agama yang menyimpang antara lain:

Pertama. Membangun ketakwaan individu berdasarkan pembuktian keimanan dan menggunakan nalar dalam beragama. 

Islam mewajibkan setiap umatnya untuk menggunakan akal dalam beriman kepada Allah Swt., serta melarang bertaklid dalam masalah akidah. 

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

"Katakanlah: 'Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar'." (QS. Al-Baqarah: 111)

Dengan demikian setiap muslim wajib menjadikan imannya betul-betul muncul dari proses berpikir. 

Setiap muslim dalam menjalankan agama senantiasa berdasarkan dalil berupa dalil akli dan dalil naqli. Perkara agama yang bisa dijangkau oleh akal didasarkan pada dalil akli. Jika perkara agama berada di luar jangkauan akal maka dibuktikan dengan dalil naqli. Setiap muslim dalam menjalankan syariat juga harus mengambil dari sumber Alquran, hadis, ijmak sahabat dan qiyas

Kedua. Masyarakat melakukan kontrol dengan melakukan amar makruf nahi mungkar sehingga tidak memberi peluang munculnya aliran agama yang menyimpang. 

Masyarakat tidak boleh abai terhadap persoalan keumatan. Masyarakat harus senantiasa responsif terhadap fenomena yang berkembang di tengah mereka dengan menjunjung tinggi prinsip amar makruf nahi mungkar. 

Masyarakat menyadari setiap pembiaran kemungkaran akan membawa dampak kerusakan yang merata. Kontrol masyarakat yang demikian tidak akan memberikan peluang munculnya aliran agama yang menyimpang. 

Dari An Nu’man bin Basyir, ia berkata bahwa Nabi saw. bersabda:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا ، فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِى نَصِيبِنَا خَرْقًا ، وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا . فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا ، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا

Perumpamaan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang terjerumus dalam kemungkaran adalah bagaikan suatu kaum yang berundi dalam sebuah kapal. Nantinya ada sebagian berada di bagian atas dan sebagiannya lagi di bagian bawah kapal tersebut. Yang berada di bagian bawah kala ingin mengambil air, tentu ia harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka berkata, “Andaikata kita membuat lubang saja sehingga tidak mengganggu orang yang berada di atas kita.” Seandainya yang berada di bagian atas membiarkan orang-orang bawah menuruti kehendaknya, niscaya semuanya akan binasa. Namun, jika orang bagian atas melarang orang bagian bawah berbuat demikian, niscaya mereka selamat dan selamat pula semua penumpang kapal itu.” (HR. Bukhari).

Ketiga. Negara melaksanakan tugas mewujudkan tujuan syariat berupa menjaga agama. 

Hifdz ad-din (memelihara agama) menjadi tugas negara yang menjadi hak masyarakat dalam hal haq attadayyun (hak beragama) yaitu 
hak untuk beribadah dan menjalankan ajaran-ajaran agama. Hak ini termasuk  menjaga kesucian agama dari aliran yang menyimpang. Negara wajib melindungi akidah umat Islam dari berbagai hal yang bisa menyesatkannya.

Negara wajib menjaga agama dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan dan dakwah untuk menjaga akidah Islam dari penyimpangan. Media massa dalam publikasinya tidak boleh mengandung hal-hal yang bisa merusak akidah Islam, misal jurnal dan majalah yang mengandung ajaran sesat dan menyimpang seperti sekularisme, liberalisme atau tayangan televisi yang mengandung takhayul bidah dan khurafat. 

Masyarakat juga dilarang mendirikan kelompok atau bergabung dengan kelompok yang menyimpang dari agama seperti persatuan dukun, jamaah yang melakoni ritual yang nyeleneh. Kelompok atau jamaah yang ada di dalam negara wajib berdasarkan akidah Islam dengan menjalankan syariat secara benar. 

Negara akan menjatuhkan sanksi tegas bagi pelaku kemurtadan. Rasul saw bersabda: 

مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ

Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah dia.” (HR. Bukhari, Nasai, dan yang lainnya)

Islam melarang seorang Muslim murtad dan menghukum pelakunya dengan hukuman mati. Ini dilakukan setelah melalui proses peradilan dan pelakunya diberikan kesempatan waktu untuk bertobat. Sanksi tegas pun dilakukan terhadap mereka yang menghina dan menistakan Islam serta melakukan penyimpangan dari ajaran Islam.

Keempat. Menjauhkan sekularisme dari kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara. 

Aliran agama yang menyimpang berpeluang muncul di tengah kehidupan yang jauh dari praktik agama yang baik dan benar. Kita akan menemui kondisi tersebut dalam kehidupan sekuler. 

Esensi sekularisme adalah pemisahan agama dengan kehidupan. Semua aturan kehidupan menjadi urusan manusia semata dan bukan urusan Tuhan. Manusia tidak boleh membawa agama dalam mengatur kehidupannya. 

Sekularisme ini meniscayakan adanya kebebasan manusia yang terdiri dari kebebasan berakidah, berpendapat, hak milik dan kebebasan pribadi. Dampak kebebasan berakidah dan kebebasan pribadi setiap orang bebas melakukan apapun terhadap agamanya. Setiap orang bebas memilih agamanya termasuk bebas untuk murtad bahkan bebas untuk tidak beragama atau membuat ajaran agama menurut khayalannya. Penistaan dan membuat ritual nyeleneh dari ajaran agama menjadi sesuatu yang logis muncul dalam kehidupan sekuler sebagai dampak kebebasan pribadi dalam bertingkah laku. 

Oleh karena itu selama sekularisme masih digunakan dan masih menjiwai sendi-sendi kehidupan negeri ini, permasalahan aliran sesat tidak akan pernah selesai, bahkan mungkin semakin menjadi-jadi. Maka untuk mencegah kemunculan aliran agama yang dengan menjauhkan sekularisme dari kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Tri Widodo

Posting Komentar

0 Komentar