Karakter Partai Politik Sekuler dan Partai Politik Ideologis


Bola panas sedang dimainkan di kandang Demokrat, beberapa orang terlibat di dalamnya. Pengambilan kekuasaan secara tidak etis dilakukan demi mendampatkan apa yang diinginkan oleh beberapa orang. Dalam konferensi pers yang digelar senin (1/2/2021), AHY menyebutkan ada orang yang mau mengambil kursi Ketua Umum partainya. AHY mengimbuhkan ada 5 pelaku gerakan ini, yang terdiri dari seorang kader aktif, seorang kader yang sudah enam tahun tidak aktif, seorang mantan kader yang sudah diberhentikan secara tidak terhormat, seorang kader demokrat yang keluar sejak 3 tahun yang lalu dan juga salah satu anggota KSP. Demokrat beranggapan gerakan ini dilancarkan untuk kendaraan politik pada Pemilu 2024.

Pada tanggal yang sama Moeldoko selaku salah seorang yang dianggap akan mengkudeta kepemimpinan AHY angkat bicara pada konferensi pers, ia menyampaikan bahwa sebenarnya ia tak ingin reaktif menyikapi hal ini, ia mengungkapkan jangan sedikit-sedikit menyeret istana atau Presiden. Ia mengungkapkan jika pun ada kudeta hanya bisa dilakukan dari dalam partai bukan dari luar (Kompas.com, 2/2/2021).

Sejumlah elit politik mengeluarkan pendapatnya berkaitan peristiwa ini, pakar politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai peristiwa KLB di Serdang Sumatera Utara yang menjadikan Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Jenderal Purn) Moeldoko sebagai Ketua Umum tidak elok dan tidak etis. Siti Zuhroh mengimbuhkan bahwa peristiwa ini terjadi anomali politik dan demokrasi, apalagi yang dimunculkan menjadi Ketua Umum bukan dari kader Demokrat. Menurut Siti Zuhro, para elit politik hanya bersaing untuk kepentingan Pemilu 2024, sedangkan rakyat harus berjuang menanggung dampak virus Covid-19 (Warta Ekonomi.co.id, 11/3/20210).

Miris sekali yang terjadi dalam tubuh partai politik saat ini, hingga pakar politik menyebut peristiwa KLB Demokrat sebagai anomali politik. Mungkin bisa jadi apa yang terjadi pada partai demokrat sebagai anomali benar adanya.


Partai Politik

Partai politik dalam era modern dimaknai sebagai suatu kelompok terorganisir yang anggota-anggotanya memiliki orientasi, nilai-nilai, dan cita-cita yang sama. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka (Miriam Budiardjo, 1998, Dasar-Dasar Politik, Gramedia). Dilihat dari pengertian tersebut dapat disimpulkan sebuah partai politik terdiri dari orang-orang, ikatan diantara mereka, orientasi, cita-cita dan kebijakan yang akan diambil. 

Belajar dari realitas partai politik di Indonesia, setidaknya ada lima poin karakter yang harus kita fahami kenapa partai politik terlihat tidak sehat, antara lain: 

Pertama, parai-partai yang berkuasa lebih bercorak kepada sekuler dan kebangsaan, termasuk dalam hal ini Demokrat. Konskuensinya aturan-aturan yang dipakai adalah aturan sisa peninggalan penjajah Belanda. 

Kedua, jikapun ada partai-partai Islam yang berjuang di dalam perpolitikan praktis, mereka tidak memiliki konsepsi (fikrah) yang jelas dan tegas. Mereka masih merundingkan segala hukum yang sudah jelas hukumnya, sebagaimana hukum perempuan menjadi pemimpin di suatu wilayah, keharaman minuman alkohol, ekspor ganja dan lain sebagainya, semua diserahkan ke dalam forum untuk dibahas. Jika seperti ini apa bedanya dengan partai sekuler?

Ketiga, partai-partai secara umum hanya diperuntukkan untuk pertarungan politik semata, pada umumnya partai akan aktif ketika akan mendekati hajatan Pemilu atau Pilkada. Setelah hajatan selesai kegiatan partai politik, kantor-kantor partai akan terlihat sepi tidak ada aktivitas.

Keempat, tidak menjalankan metode yang jelas untuk melakukan perubahan yang hakiki. Untuk melakukan perubahan ditengah masyarakat ditempuh dengan membuat undang-undang, yang undang-undang itu hasil dari kompromi dengan parai-partai yang menolak Islam.

Kelima, tidak ada ikatan kuat di antara anggotanya. Ikatan yang mengikat mereka adalah ikatan yang lemah, yaitu ikatan kepentingan. Jika kepentingan sudah diraih, dengan mudah para anggotanya menghilang dari partai, ataupun anggota partai dapat dengan mudah disingkirkan oleh anggota lain.

Sebagai seorang Muslim kita selalu diingatkan untuk belajar dari sejarah, dan menjadikan Islam sebagai landasan dasar kehidupan, termasuk memilih berjuang dengan partai yang benar menurut Islam. 
Islam adalah agama yang sempurna dan paripurna, dengannya kehidupan sosial diatur di dalamnya dengan apik, termasuk tentang partai politik.

Partai politik di dalam Islam mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu tertuang dalam surat Al-Imran: 104 yang artinya “Dan hendaknya ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kewajiban, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Imam Qurthubi mendefinisikan kata umat dalam tafsir al-jami’ li Ahkam Al-Quran, sebagian orang yang terikat dalam satu akidah. Namun menurutnya kata umat dalam surat ini adalah sekelompok orang karena dengan adanya lafadz “minkum”. Imam Ath-Thabrani menjelaskan ayat ini dalam kitabnya Jami’ Al-Bayan yakni: “ (Wal takun minkum) Ayuhal mu’minum (Ummatun) jamaatun” artinya: “Hendaknya ada diantaramu (wahai orang-orang yang beriman) umat (jamaah yang mengajak kepada hukum-hukum Islam).

Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa partai politik mempunyai dua fungsi, yang pertama adalah dakwah ilal khair (menyeru kepada al-khair yaitu Islam) dan kedua, amal ma’ruf nahi munkar (memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar) yang ikatan di dalam partai ini adalah ikatan akidah Islamiah bukan berdasarkan ikatan manfaat sesaat.

Untuk membentuk partai politik Islam yang solid dan ideologis, membutuhkan beberapa karakter yang harus dimiliki, diantaranya:

Pertama, dasarnya adalah Islam. Hidup matinya sebuah partai politik hanya untuk Islam.

Kedua, orang-orang yang ada di dalam tubuh partai adalah orang-orang yang memiliki kepribadian Islam. Mereka berfikir dan bertindak berdasarkan Islam. Partai politik terus berupaya melakukan pembinaan kepada para anggotanya hingga mereka memiliki kepribadian Islam (memiliki pemikiran, perasaan, pendapat dan keyakinan yang sama yaitu Islam).

Ketiga, taat kepada pemimpin selama tidak menyimpang dari  Al-Quran dan As-Sunah.

Keempat, memiliki konsep (fikrah) yang dalam berbagai hal, dan juga mempunyai metode pelaksanaan (tharikah) dalam merealisasikan tujuan partai.

Kelima, mengikuti metode yang telah di contohkan oleh Rasulullah SAW. dari pembinaan, berineraksi dengan umat dan juga terakhir penerapan syariah secara total.

Dengan mengetahui karakter partai politik sekuler dan partai politik yang ideologis, penulis berharap kita semakin sadar dan menumbuhkan keinginan untuk berjuang bersama partai politik yang ideologis, menjadikan Islam sebagai landasan bergerak bukan berdasarkan hawa nafsu semata. Hadanallah wa iyyakun. Wallahu a'lam.[]

Oleh: Oktavia, S.Pt
(Member AMK)

Posting Komentar

0 Komentar