Kala Indo-Pasifik Diperebutkan si Angkara, di Manakah Sang Penjaga?

Tensi politik di Indo-Pasifik belum akan mereda. Di tengah upaya China untuk tampil sebagai pemimpin kawasan, AS terus berkonsolidasi dengan sekutu strategisnya. Secara virtual, KTT Quad telah digelar pada 12 Maret lalu. Pertemuan empat arah yang melibatkan AS, Australia, Jepang dan India ini, dimaksudkan untuk memperkuat aliansi menghadapi kebangkitan China (Liputan6.com, 12/3/2021). 

Meski di bawah Biden, KTT ini tidak secara eksplisit dihubungkan dengan China, namun atmosfer penolakan terhadap sepak terjang China tetap terasa. Hal ini tampak dari ujaran para petinggi empat pihak ini. Menlu AS Anthony Blinken menekankan keprihatinannya pada praktek perdagangan dan hak asasi manusia, termasuk penahanan massal warga Uighur. 

Sementara itu, Perdana Menteri India, Narendra Modi akan mempromosikan "kawasan Indo-Pasifik yang bebas, terbuka dan inklusif". Hal ini tentu berkorelasi dengan kekhawatiran sejawatnya, Yoshihide Suga, terhadap "upaya sepihak China untuk mengubah status quo di Timur dan Laut China" (Liputan6.com, 10/3/2021). 

China tak tinggal diam. Global Times, surat kabar milik pemerintah China, mengkritik KTT Quad sebagai plot AS melawan Beijing. Sebelumnya, China bahkan telah menyerukan India agar mengakhiri Quad.

Indo-Pasifik memang menyimpan berjuta potensi sekaligus titik kritis. Jusuf Kalla pernah menyifatinya sebagai kawasan yang kaya akan sumber daya. Dari ikan yang melimpah hingga gunung berapi. Namun juga berpotensi memunculkan kejahatan trans-nasional. Wajar jika banyak negara berkepentingan untuk mencegah hegemoni satu atau beberapa kekuatan yang akan mengganggu stabilitas dan kedaulatannya. 

Namun sayang, upaya mencegah ancaman di atas, saat ini justru terperangkap dalam kepentingan dan kendali negara-negara besar. Begitu pula yang dialami negeri-negeri Muslim.

Tengok saja para pemimpin di ASEAN. Ibarat paduan suara, mereka senada menyuarakan harapan terciptanya keamanan dan kestabilan di kawasan ini, dalam bingkai apa yang dinarasikan sebagai nilai-nilai universal, netralitas, kebebasan, keterbukaan dan inklusivisme. Semuanya terdengar menjanjikan, meski tak benar-benar sejalan dengan kepentingan internal dan kedaulatan negara-negara tersebut. 

Nilai dan tatanan tersebut, yang disakralkan dewasa ini, justru senyatanya adalah senjata andalan AS. William Blum, dalam "America's Deadliest Export Democracy', menyatakan untuk memahami kebijakan luar negeri AS, orang harus memahami prinsip bahwa AS berupaya mendominasi dunia. Untuk itu, ia akan menempuh apa saja yang diperlukan. Jadi langkah AS dalam KTT Quad, bukan benar-benar dalam rangka mewujudkan perdamaian di Indo-Pasifik dan menghentikan hegemoni China yang mengancam kedaulatan banyak negara. 

Di sinilah hadirnya kekuatan adidaya alternatif, mendesak dibutuhkan dunia. Kekuatan yang akan menebar rahmat dan kesejahteraan. Bukan penebar teror atas nama demokrasi dan pemberantasan terorisme/ekstremisme. Bukan pula penghisap darah negara lain atas nama investasi, perdagangan internasional dan utang luar negeri. 

Kekuatan adidaya alternatif ini tegak atas prinsip dan kebijakan yang unik. Ia memaknai eksistensinya sebagai institusi negara yang  berkhidmat pada Sang Khaliq. Karena itu, negara ini tak akan menghegemoni bangsa atau negara lain demi angkara yang tak berujung.

Dia bergerak untuk membebaskan siapa pun di dunia ini dari penghambaan kepada sesama manusia, menuju penghambaan hanya kepada Allah. Dari dunia yang sempit menuju dunia yang luas, dan dari kesewenang-wenangan menuju keadilan Islam. Demikianlah jawaban lantang pemimpin pasukan Khilafah Islamiyah, Rabi' bin Amir pada panglima pasukan Persia dalam perang Qadisiyah. 

Khilafah Islamiyah bahkan tercatat dalam sejarah mampu mewujudkan keamanan dan kesejahteraan bagi dunia. Hal ini dengan jujur diakui Will Durant dalam buku "Story of Civilization".

Kembalinya Khilafah Islamiyah sebagai adidaya penjaga dunia akan terwujud dengan peran kaum Muslimin. Dengan kesungguhan dan keikhlasannya menapaki jalan perjuangan Nabi SAW ketika mewujudkan Daulah Madinah, pertolongan Allah akan diperoleh. Dalam Al-quran, Surat An Nur ayat 55 telah dinyatakan:

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik."

Masihkah kita meragukannya? []

Oleh: Riani Kurniawati

Posting Komentar

0 Komentar