Impor Garam, Sistematis Menghalangi Swasembada


Satu lagi kebijakan yang patut menjadi perhatian publik, wacana impor garam. Dengan garis pantai terpanjang di Asia Tenggara sangat layak kalau Indonesia menjadi eksportir garam bukan sebaliknya. 
Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengungkapkan alasan pemerintah membuka kembali impor garam sebanyak 3 juta ton pada tahun ini. Hal itu berkaitan dengan kuantitas dan kualitas garam lokal.

Bapak Menteri menyampaikan dalam konferensi pers virtual, Jumat (19/3/2021) bahwa garam impor kualitasnya berbeda.  Di mana garam yang dikerjakan PT Garam dan petani rakyat belum bisa menandingi kualitas garam industri tersebut. Beliau mengatakan, Pemerintah membuka keran impor garam sebanyak 3,07 juta ton di tahun 2021. Keputusan ini diambil dalam rapat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 25 Januari 2021.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi, Safri Burhanuddin menjelaskan angka impor ini dihitung berdasarkan produksi 2021 yang diperkirakan hanya berkisar 2,1 juta ton, sementara kebutuhan terus naik tiap tahunnya dan mencapai 4,67 juta ton. 

Hitung-hitungan normal, sebenarnya Indonesia hanya memerlukan impor 2,57 juta ton sehingga keputusan jumlah impor menghasilkan surplus 500 ribu ton. Safri mengatakan bahwa impor garam berlebih itu bukan hanya untuk tahun berjalan, melainkan tahun yang akan datang, dengan dalih “menjaga kestabilan stok garam industri.”
Alasan klise yang selalu dikemukakan Pemerintah untuk menjaga stok dan kestabilan harga. Tapi alasan tersebut sangat bertolak belakang dengan nasib para petani garam. 

Dengan banjirnya impor nasib para petani dimutilasi, harga garam lokal tak mampu bersaing dengan kualitas yang lebih rendah. Stok garam di gudang para petani menumpuk karena tak ada pasar yang menampung produk mereka. Sungguh menyedihkan. Bukan mencarikan solusi pasar yang akan menampung produk garam lokal tapi justru pemerintah melakukan hal sebaliknya impor produk yang sama. Sehingga garam lokal menjadi tak laku dipasaran. 

Jika terealisasi seluruhnya, impor 2021 ini juga akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Menurut data UN Comtrade, impor garam terbesar RI pernah dicapai pada 2018 sebanyak 2,839 juta ton dan 2011 2,835 juta ton.

Ketua Asosiasi Petani Garam Indonesia (APGI) Jakfar Sodikin menyayangkan keputusan impor garam yang terus berlanjut, apalagi disertai pembatalan target swasembada. APGI menilai impor garam akan semakin membuat petambak terpuruk karena harga garam di tingkat petani akan semakin tertekan seiring membanjirnya pasokan garam impor.

Alih-alih membuat kebijakan sistematis memenuhi kebutuhan garam industry, melalui keputusan impor garam (sesuai UU Cipta Kerja) pemerintah justru membatalkan target swasembada dan mengabaikan jeritan petambak garam akibat panen melimpah dan tidak lakunya garam lokal.

Para Petani garam berharap kebijakan yang diambil Pemerintah akan berpihak kepada mereka. Tetapi harapan mereka hanya angan-angan, karena perekonomian di negeri ini bersandar kepada kaum oligarki dan para kapitalis. 

Para Kapitalis dalam pengambilan kebijakan standar yang dipakai adalah untung rugi. Mereka tidak akan berpikir dampak yang terjadi kepada rakyat kecil. Dan langkah mereka semakin mulus dengan diberlakukannya UU Ciptaker. 

Berbeda halnya dengan Islam. Sistem Islam membuat peta jalan mewujudkan kedaulatan dalam pemenuhan kebutuhan pokok rakyat.  Dalam Islam, apabila ketersediaan bahan baku di dalam negeri melimpah maka negara akan melarang impor. Apabila kualitas dan kuantitas belum mencukupi maka negara akan mengupayakan semaksimal mungkin agar kebutuhan dalam negeri tercukupi. 

Negara tidak akan mengambil langkah praktis yang justru akan memperburuk keadaan. Impor adalah langkah terakhir yang diambil negara, karena negara sangat menyadari ketergantungan kepada impor akan membuat negara lemah. 

Impor adalah salah satu celah dan akan menjadikan kedaulatan negara tergadai.  Daulah Islam sangat berhati-hati dalam bekerjasama dalam perdagangan luar negeri. Impor hanya akan dilakukan dengan negara-negara yang tidak memusuhi umat Islam. Kebutuhan pokok berupa garam saja negara mengandalkan negara asing, lalu apalagi yang tersisa? 

Salah satu perintah syariat yang saat ini sedang dilanggar dan telah nampak nyata kerusakan akibat pelanggarannya adalah perintah berkaitan dengan pengelolaan kepemilikan umum. Dari Ibnu al-Mutawakkil bin ‘Abdul-Madân, dari Abyadl bin Hammâl r.a, bahwasanya ia berkata:

أَنَّهُ وَفَدَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاسْتَقْطَعَهُ الْمِلْحَ قَالَ ابْنُ الْمُتَوَكِّلِ الَّذِي بِمَأْرِبَ فَقَطَعَهُ لَهُ فَلَمَّا أَنْ وَلَّى قَالَ رَجُلٌ مِنْ الْمَجْلِسِ أَتَدْرِي مَا قَطَعْتَ لَهُ إِنَّمَا قَطَعْتَ لَهُ الْمَاءَ الْعِدَّ قَالَ فَانْتَزَعَ مِنْهُ

“Sesungguhnya dia (Abyadl bin Hammâl) mendatangi Rasulullah saw, dan meminta beliau saw agar memberikan tambang garam kepadanya. Ibnu al-Mutawakkil berkata,”Yakni tambang garam yang ada di daerah Ma’rib.” Nabi saw pun memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikat kepadanya?Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyadl bin Hammâl).” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hibban).

Sangat disayangkan, negara yang kaya SDA dan SDM tetapi menggantungkan kedaulatan negerinya kepada asing. Wajar saja, karena  negeri ini begitu tergantung pada sistem ekonomi kapitalis. Hanya ada satu cara untuk keluar dari kekisruhan impor yaitu kembali kepada aturan Illahi Rabbi agar tercipta negeri yang rahmatan lil'alamin. Wallahu a'lam bishshawab.[]

Oleh: Deti Murni
(Pegiat Opini dan Literasi Islam)


Sumber:
- https://money.kompas.com/read/2021/03/19/210200526/ini-alasan-pemerintah-putuskan-impor-garam-3-juta-ton?page=all
- https://tirto.id/pemerintah-impor-garam-lagi-apa-ini-cara-membasmi-petambak-gbdq
- https://ekonomi.bisnis.com/read/20210321/12/1370370/susi-sebut-impor-garam-tak-boleh-lebih-dari-17-juta-ton-mengapa
- https://mtaufiknt.wordpress.com/2012/04/13/khutbah-jumat-pandangan-islam-dalam-pengelolaan-milik-umum/amp/#aoh=16165812074930&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s

Posting Komentar

0 Komentar