Harga Cabai Mengganas, Islam Memberi Solusi Tuntas


Harga cabai merah dan rawit kembali panas mengganas, membuat cemas para pedagang dan ibu rumah tangga. Tidak hanya di ibukota, beberapa wilayah di Indonesia juga mengalami hal yang sama. Bagaimana tidak, harga cabai yang biasanya hanya dikisaran 40ribu/kg, beberapa hari ini mengalami kenaikan signifikan hingga tembus ke angka 120ribu hingga 150ribu/kg.

Di Desa/Kecamatan Grabagan Tuban Jawa Tengah, para petani melakukan jaga malam dan patroli hingga ke tengah kebun untuk memastikan tanaman cabainya aman dari pencurian karena 2 pekan lagi waktu panen tiba dan tidak banyak petani yang bisa panen. Sebagaimana diketahui Surabaya, Jakarta dan luar kota mendapat pasokan cabai merah dan rawit dari Grabagan sebagai salah satu daerah penghasil cabai. 

"Cabai merah naik dua kali lipat, terutama pada cabai rawit merah yang terjadi bulan lalu. Lonjakan ini terjadi karena gagal panen di beberapa wilayah penghasil cabai. Di Tuban, Kediri, Blitar terjadi kerusakan panen hampir mencapai 40 persen bahkan di Sulawesi Selatan kerusakan hingga 70  persen," kata Menteri Perdagangan (Mendag), seperti dilansir Antara di Jakarta, senin (15/3/2021). 

Menurut Kementrian Pertanian (Kementan), cuaca ekstrem pemicu serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sehingga mengakibatkan kerusakan dan banjir di beberapa wilayah sentra produksi yang berimplikasi pada berkurangnya pasokan cabai dan menjadi pemicu kenaikan harga, namun produksi tetap ada dan diprediksi harga cabai akan kembali normal pada April. Beliau juga mengarahkan agar Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin ketersediaan komoditas pangan strategis dan Direktur Jenderal Hortikultura beserta jajarannya memantau kondisi cabai di perkebunan.

Sementara menurut Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri, kenaikan terus terjadi pada cabai merah selama satu bulan terakhir ini, sementara dari pemerintah belum ada upaya maksimal untuk mencari solusinya. 

Cerita kenaikan harga barang kebutuhan pokok kerap terjadi di negeri ini, terlebih menjelang datangnya bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri. Daging sapi, ayam,  telur, sayuran dan bumbu dapur mengalami kenaikan yang tak terkendali. Tingginya permintaan di saat bukan waktu panen yang disertai gagal panen dan cuaca ekstrem disinyalir menjadi pemicunya. 

Belum adanya upaya serius dari pemerintah untuk menekan gejolak harga di pasaran membuat harga barang dan komoditi lainnya mengalami kesulitan untuk kembali ke harga normal dan ini sangat merugikan rakyat, karena hal ini diduga hanya menguntungkan para pemain pasar. 

Jika masalahnya karena para petani gagal panen, seharusnya pemerintah mengkaji dan meneliti dengan menurunkan para ahli pertanian untuk menyelesaikan permasalahannya. Tentu, negara juga memperhatikan kesejahteraan dan kebutuhan petani, termasuk harga pupuk yang stabil. Seharusnya pemerintah juga memiliki strategi ketika terjadi gagal panen, serta ada kontrol harga pasar.

Dalam sistem Islam, kebutuhan sandang, papan dan pangan adalah hak warga yang menjadi kewajiban negara untuk memenuhinya. Negara akan memantau dan menindak apabila ada yang memainkan harga, mengutus aparat keamanan sampai hakim mengambil tindakan tegas bagi pelanggar aturan. 

Permintaan penentuan harga pernah terjadi pada zaman Rasulullah Saw, "Sesungguhnya banyak manusia datang pada Rasulullah dan berkata, "Tentukanlah harga bagi kami, harga-harga kami." Baginda bersabda, "Wahai manusia! Sesungguhnya mahal dan murahnya harga-harga kalian di tangan Allah Swt dan aku berharap ketika berjumpa dengan-Nya tidaklah aku memiliki kezaliman dalam harta dan darah pada salah satu orang."

Berdasarkan hadis di atas, maka penentuan harga dilarang secara keras karena mendatangkan kezaliman dan harga menjadi poin terpenting dalam perdagangan. Pemerintah dan otoritas ekonomi tidak berhak menentukan harga. Harga kebutuhan pokok hendaknya dibuat stabil sehingga pelaku pasar baik penjual maupun pembeli dapat merasakan manfaatnya, penjual mendapat keuntungan dan pembeli mendapatkan barang yang dibutuhkan. 

Cara sederhana untuk melihat profil masyarakat dan pemimpinnya adalah lihatlah perilaku orang saat bermuamalah jual beli di pasar, bersandar pada halal haram atau hanya untuk meraih keuntungan semata. 
Dalam Islam, pasar bukan hanya sebatas tempat urusan ekonomi, namun ada pembelajaran dan pendisiplinan pada masyarakat agar mereka tetap pada aturan syariat di mana pun berada. 

Saat daulah Islam dipimpin Khalifah Umar bin Khattab, beliau melakukan pengawasan ketat terhadap masyarakat yang melakukan transaksi jual beli di pasar untuk memastikan muamalah yang dilakukan sesuai aturan syariat. Beliau juga menunjuk beberapa petugas pengawas di pasar, salah satu di antaranya Saib bin Yazid. 

Khalifah juga melarang praktek monopoli terhadap barang kebutuhan pokok, hewan dan barang yang mendatangkan madarat apabila barang tersebut tidak ada di pasar-pasar kaum Muslim. 

Inilah perhatian syariat Islam kepada rakyatnya, urusan pemerintahan dilakukan begitu fokus, sehingga tidak ada satu pun permasalahan umat yang tidak tertangani dengan baik. Khalifah Umar menerapkan kaidah-kaidah perdagangan yang bisa memperbaiki kondisi pasar, mengatur peredaran barang dan menjamin stabilitas pasar. Dengan begitu tidak ada praktek monopoli, penipuan dan kezaliman. Sehingga dengan kebijakan yang dikeluarkannya dapat menghilangkan kerusakan dan mengatur segala urusan dalam dunia perdagangan. 

Kebijakan seperti itu saat ini hanyalah sebuah angan belaka karena sistem yang diterapkan adalah kapitalisme liberalisme di mana kebijakan pasar hanya bisa dikendalikan oleh pemilik modal yang tidak bersandar pada halal haram, namun hanya untuk mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin. 

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, sudah seharusnya manusia menerapkan sistem dari Sang Maha Pencipta semata-mata berharap keberkahan diturunkan dari-Nya. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Nurmilaty

Posting Komentar

0 Komentar