Guru Besar UNY: Iman dan Takwa Itu Amanat Konstitusi


TintaSiyasi.com-- Menanggapi draf Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2020-2035, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Suyatno, Ph.D menyatakan, iman dan takwa itu mandat konstitusi.

“Ingat bahwa frasa-frasa itu baik secara implisit iman takwa itu tetap mestinya diperlukan, karena itu mandat konstitusi dan undang-undang,” tuturnya dalam acara Focus Group Discussion #10: Peta Jalan Pendidikan Indonesia, Sabtu (13/3/2021) di YouTube Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa Channel.

Pada dimensi sejarah perjuangan bangsa Indonesia, menurutnya, visi menteri pendidikan yang tertulis itu membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera, dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila.

Pada waktu berbicara mengenai profil Pancasila, menurutnya, itu identik dengan pendidikan karakter, padahal pengembangan nilai karakter itu sudah ada di Perpres nomor 87 tahun 2017 namanya pendidikan penguatan karakter (PPK). "Di situ sudah ada nilai-nilai karakter, tapi diabaikan, tidak satu pun diakomodasi padahal Perpresnya masih berlaku," imbuhnya.

“Ini menunjukkan bahwa timnya Nadiem Makarim (Menteri Pendidikan) tidak paham mengenai birokrasi, mengenai tatanan hukum. Memang mereka itu anak-anak yang cerdas, tapi tidak paham di mana kecerdasan itu harus diperlakukan dalam konteks hukum budaya dan sejarah Indonesia. Yang agama tadi sudah jelas mengingatkan pasal 31 undang-undang RI 1945 amandemen yang ketiga adalah bahwa agama sah di situ dan kuat,” tegasnya

Menurutnya, dalam profil pembelajaran Pancasila di dalam dokumen peta jalan pendidikan Indonesia yang di sebelah kanan itu ditulis kata 'rahasia', "itu di dalamnya tidak ada iman dan takwa, namun isinya adalah berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, gotong royong dan kebhinekaan."

"Ketika ada rapat kerja dengan DPR itu sudah di kritik setengah mati akhirnya diberi iman dan takwa dan sekarang Pak Menteri meyakinkan, bahwa agama itu dijamin untuk tidak dihapus dari kurikulum itu setelah ada gado-gado,” ujarnya.

“Oleh karenanya, saya kira kita sebagai umat Muslim harus tetap memberi amunisi kepada Komisi X DPR. Komisi X DPR Kalau kita beri amunisi itu lebih percaya diri dan lebih bisa memperjuangkan, karena alasannya itu adalah aspirasi dan cocok, kita memang harus aktif mengawal kalau tidak dan hanya berkeluh kesah misalnya saja itu saya kira kita akan ketinggalan,” tandasnya.[] Aslan La Aslamu

Posting Komentar

0 Komentar