Genosida Muslim Uighur Dapat Perhatian Uni Eropa, Pengamat: Standar Ganda Barat Soal HAM



TintaSiyasi.com-- Menanggapi genosida Cina terhadap Muslim Uighur yang dapat perhatian Uni Eropa, Pengamat Politik Internasional Umar Syarifudin mengingatkan, Barat memiliki standar ganda soal HAM (hak asasi manusia).

"Jangan lupa, Barat memiliki standar ganda soal HAM," bebernya kepada Tintasiyasi.com, Jumat (19/03/2021).

Menurutnya, standar ganda Barat tampak jelas. Mereka hanya peduli dan simpati terhadap apapun sejalan dengan misi kapitalisme dan kolonialisme modern Barat.

Sebaliknya, ia menerangkan, mereka diam terhadap ribuan korban pembantaian oleh zionis Israel dan malah membela zionis Israel itu. "Barat juga diam terhadap pembunuhan jutaan orang di Irak, pembantaian ratusan ribu kaum Muslim oleh rezim Asad di Suriah serta pembunuhan umat Islam di Rohingya, Pakistan, Afrika dan tempat lainnya. Bahkan Barat menjadi pelakunya," ujarnya.

Ia mengatakan, Barat menyorot soal pelanggaran HAM Cina. "Memang betul, Cina melakukan kezaliman sistematis terhadap umat Islam Xinjiang," katanya. Namun, ia mengatakan, Barat juga harus bercermin tentang skor buruk toleransi terhadap umat Islam. 

"Islamofobia dan serangan-serangan opini itu terlihat meningkat di Eropa. Di Prancis dan beberapa negara Eropa lainnya, serangan dan pelecehan terhadap masjid dan fasilitas Islam lainnya dikabarkan meningkat. Kaum Muslimah berjilbab merasa takut keluar rumah. Mereka khawatir mendapat serangan di jalan," terangnya.

Ia menilai, Uni Eropa lebih mementingkan motif politik ingin mengalienasi Cina dari percaturan politik dunia daripada peduli nasib umat Islam yang tertindas di Uighur. Selain itu, pembelaan muslim Uighur hanya dalih untuk menekan Cina agar pada batas kemampuan Eropa.

"Sedangkan klaim HAM dan kebebasan berekspresi Barat hanya klaim kosong. Di mana klaim kebebasan itu ketika mereka saat ini mempersulit bahkan melarang Muslimah mengenakan jilbab di ruang publik. Hak mereka mendapat pendidikan dirampas, kecuali mereka menanggalkan jilbab?" tanyanya.

Menurutnya, memakai cadar dianggap bersalah secara hukum dan berpotensi dijatuhi sanksi. Ia menjelaskan, dalih kebebasan berekspresi mereka gunakan sesuai dengan kepentingan mereka. Kebebasan berekspresi tidak berlaku jika hal itu mengganggu Yahudi. Sebaliknya, jika menyerang dan menistakan Islam, Nabi Muhammad saw dan simbol-simbol Islam, maka itu dibenarkan sebagai bentuk kebebasan berekspresi.

"Menghina dan menistakan Islam dan Nabi Muhammad saw dibela dengan alasan kebebasan berekspresi. Sebaliknya, menyoal kejahatan dan pembantaian oleh Yahudi atas ribuan warga Palestina kerap dituding anti semit," pungkasnya. [] Munamah

Posting Komentar

0 Komentar