Gejolak Islamophobia di Sri Lanka


Setelah sebelumnya pada tahun 2020 lalu, Sri Lanka telah membuat murka kaum Muslimin di dunia atas kebijakannya mengkremasi paksa jenazah Muslim pasien Covid-19. Kini lagi-lagi Sri Lanka membuat ulah. Pemerintah Sri Lanka pada hari Sabtu lalu (13/3) mengatakan akan menutup lebih dari 1.000 sekolah Islam atau madrasah karena alasan keamanan nasional.

Bila dalih yang digunakan otoritas Sri Lanka untuk menutup 1.000 madrasah ini adalah karena keamanan nasional, sebegitu mengancamnya kah generasi Islam yang secara populasinya saja tidak lebih dari 10% dari jumlah keseluruhan rakyat di sana? 

Selain itu, Menteri Keamanan Publik Sri Lanka Sarath Weerasekara telah menandatangani dokumen untuk mendapatkan persetujuan kabinet menteri guna melarang burqa (pakaian Muslimah yang menutupi seluruh tubuh termasuk wajah, penutup bagian mata terbuat dari material yang tembus pandang atau ada juga yang terbuka bagian matanya). Padahal, pada saat yang sama pemerintah Sri Lanka menyerukan penggunaan masker demi tercegah dari virus corona. Lantas mengapa malah melarang penggunaan burqa yang bisa secara otomatis berfungsi sebagai masker dan tentunya tidak merugikan orang lain?

Mengenai hal ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam keras tindakan tersebut. Wakil MUI Anwar Abbas menilai, Sri Lanka telah melanggar Hak Asasi Manusia dan telah menyakiti hati umat Islam tidak hanya bagi umat Muslim di Sri Lanka namun juga umat Muslim di seluruh dunia. Oleh karenanya, MUI mendesak pemerintah Sri Lanka agar menghentikan kebijakan yang jelas-jelas mencerminkan sikap Islamophobia.


Virus Kebencian Anti-Islam 

Seorang penulis Sri Lanka mengatakan, “Pemerintah sedang berusaha keras untuk menyakiti sebagian besar sentimen inti dari komunitas Muslim”. Sebenarnya permusuhan terhadap Islam di Sri Lanka telah berlangsung lama. Virus kebencian ini secara terus menerus disebarkan di tengah masyarakat Sri Lanka oleh rezim komunal nasionalis, mendapatkan dukungan besar dari ekstrimis anti-Muslim Buddha. Seperti halnya Bodu Bala Sena (BBS) dan para biksu Buddha penghasut yang menjadikan rekan-rekan mereka di Myanmar sebagai inspirator dalam memusuhi umat Islam.

Dalam beberapa tahun terakhir, virus Islamophobia di Sri Lanka semakin meluas terutama setelah tragedi pemboman pasca Paskah 2019 yang menewaskan 250 orang dan membidik umat Muslim sebagai dalangnya. Pasca peristiwa itu kaum Muslimin Sri Lanka hidup di bawah atmosfer kecurigaan, caci maki, diterpa beragam fitnah dan penindasan yang semakin massif.

Para Muslimah dilecehkan dan disuruh untuk melepas hijab mereka saat memasuki toko atau gedung, atau saat menemani putri mereka wawancara masuk sekolah umum. Jauh sebelum mengumumkan pelarangan burqa, Sri Lanka telah dulu melarang penggunaan niqab. Selain itu kaum anti-Muslim juga mengampanyekan penentangan label halal pada makanan. Penangkapan yang sewenang-sewenang dan penggeledahan rumah oleh polisi karena materi-materi Islami. Banyak terjadi serangan massal di masjid, rumah dan lokasi bisnis kaum Muslim juga kebohongan massif yang tersebar secara luas tentang Islam dan kaum Muslimin.

Kemenangan telak partai nasionalis Sri Lanka saat ini yang dipimpin oleh Rajapaksa bersaudara yang juga memiliki hubungan dekat dengan Bodu Bala Sena (BBS) semakin meningkatkan gejolak sentimen anti-Islam di Sri Lanka. Hal ini menyebabkan banyak Muslim di sana yang khawatir nasibnya mungkin saja sama seperti saudara-saudara Muslim mereka di Myanmar.


Solusi Bagi Muslim Sri Lanka

Kaum Muslim di Sri Lanka telah mengalami berbagai kezaliman yang nyata. Realitas yang begitu memilukan. Pelajaran berharga bagi kita atas tragedi di Sri Lanka menunjukan betapa berbahaya dan implusifnya sistem pemerintahan buatan manusia yang sekuler. Merampas hak beragama dan hak-hak lainnya serta dengan sewenang-wenangnya menindas minoritas.

Pelajaran yang lebih dalam lagi atas peristiwa ini adalah tidak adanya pemerintahan, penguasa, negara atau badan internasional yang seringkali mengampanyekan HAM dan kebebasan yang mampu menolong kaum Muslim di Sri Lanka. Hal ini juga serupa dengan tragedi memilukan atas berbagai penindasan yang dialami kaum Muslimin yang menjadi minoritas di penjuru dunia lainnya. 

Maka dari itu, perlu bagi kita untuk menyerukan kaum Muslimin di Sri Lanka secara khusus dan umat Islam di dunia secara umum untuk mengakhiri berbagai penderitaan mereka dengan berjuang menghadirkan perisai untuk umat Islam di seluruh dunia. Menegakkan kembali Daulah Khilafah yang berdasarkan metode kenabian, yang merupakan satu-satunya negara yang akan berdiri menjadi penjaga sejati atas kaum Muslimin. Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

Oleh: Diana Septiani

Posting Komentar

0 Komentar