Food Estate Singkong, Mampukah Wujudkan Ketahanan Pangan?


Rakyat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan makanan yang berasal dari singkong. Contoh olahan singkong adalah combro, misro, getuk lemet, dan masih banyak yang lainnya. Selain itu, singkong menjadi pendukung program cadangan strategis pangan nasional.

Dilansir dari iNews.id (12/03/2021), Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) H. Sugianto Sabran mendampingi Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Gunung Mas. Kunjungan Menhan Prabowo Subianto kali ini untuk meninjau Lokasi pengembangan Food Estate komoditi singkong yang berada di Desa Tewaibaru, Kecamatan Sepang, Kabupaten Gunung Mas.

Adapun maksud tujuan diadakannya food estate ini untuk mengatasi krisis pangan akibat pandemi. Komoditi singkong dipilih untuk mendukung program cadangan pangan strategis nasional, karena singkong bisa menghasilkan sekian banyak turunan salah satunya mie, tapioka dan mocaf.

Bila dibandingkan pada jaman dahulu kebutuhan pangan di Indonesia terpenuhi selama beberapa tahun ke depan. Hal ini dikarenakan Indonesia tercatat sebagai negara agraris penghasil padi berkualitas. Contohnya negara Vietnam yang mempelajari ilmu bercocok tanam padi Indonesia. 

Sekarang justru Vietnam menjadi negara pengekspor beras di kalangan Asia Tenggara.
Dibandingkan pada jaman sekarang, kondisinya sangat berbeda. Pemerintah tidak memaksimalkan lahan dan petani yang ada di Indonesia. Saat ini, Indonesia cenderung bergantung pada impor dalam memenuhi kebutuhan pangan nasionalnya. Hal ini dikarenakan negeri kita masih dalam cengkraman kapitalis sekuler. Kedaulatan pangan pun tidak bisa terealisasi.

Islam adalah agama paripurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Aturannya berasal dari Al-Khaliq, Sang Pembuat Hukum. Dalam Islam, pertanian adalah salah satu sektor utama. Kebutuhan pangan rakyat harus dipenuhi oleh negara secara optimal. Negara harus mempersiapkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi seperti bencana, paceklik atau pandemi seperti yang terjadi saat ini. 

Salah satunya dengan menciptakan teknologi modern untuk menjaga ketahanan pangan baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Seperti halnya kisah Nabi Yusuf yang berhasil melewati masa paceklik selama 7 tahun sebagaimana dalam QS. Yusuf ayat 47-49. Beliau menyusun rencana secara strategis khususnya di sektor pertanian dengan menyimpan gandum beserta tangkainya di lumbung-lumbung. 

Pembuatan lumbung pun didesain sedemikian rupa agar gandum bisa tahan lama selama bertahun-tahun. Begitu pula jika sistem Islam tegak dalam sebuah negara, maka akan dapat mewujudkan ketahanan pangan. Kebutuhan pangan semuanya akan tercukupi. Negara tidak akan bergantung pada impor dan mendukung para petani dalam bercocok tanam agar hasilnya melimpah. Kemiskinan dan kelaparan akan mampu dicegah dan diatasi. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Wulansari
(Ibu Rumah Tangga)

Posting Komentar

0 Komentar