Direktur eLSEI: Impor Merupakan Bentuk Hegemoni Asing



TintaSiyasi.com-- Direktur Lingkar Studi Ekonomi Ideologis (eLSEI) Arif Firmansyah, S.E., M.M. mengatakan, kebijakan impor merupakan satu bentuk hegemoni asing terhadap suatu negara.

"Maka bisa dikatakan impor itu merupakan bentuk hegemoni negara asing terhadap suatu negara. Seperti Indonesia untuk memaksakan produknya harus bisa dimasukkan ke pasar domestik," ujarnya dalam Kabar Malam: Jokowi Benci Produk-Produk Luar Negeri, Serius? di kanal YouTube Fokus Khilafah, Selasa (09/03/2021).

Menurutnya, kebijakan impor yang dilakukan pemerintah memiliki efek 2 dimensi. Pertama, dimensi ekonomi. Artinya, apabila suatu negara memiliki tingkat impor yang tinggi terhadap produk-produk dari luar negeri, itu menunjukkan negara tersebut memiliki kelemahan dari sisi produksi. Bisa karena skill yang tidak memadai, ketiadaan modal, atau karena praktik-praktik kartel

Kedua, dimensi politik. Ia mengatakan impor memiliki dampak positif sekaligus negatif. Dampak positifnya berupa menjaga hubungan bilateral dan saling timbal balik. Adapun dampak negatifnya, ungkap dia, negara-negara kuat memiliki tekanan politik terhadap negara lemah, seperti Indonesia untuk memaksakan produknya.

Arif menambahkan, berdasar data statistik Kementerian Perdagangan, nilai impor Indonesia yang tertinggi ada pada raw materials (bahan baku), kemudian consumer goods, dan capital goods (barang-barang modal). Sehingga, menurutnya kebijakan, impor yang dilakukan pemerintah masih sangat tinggi. 

Ia pun menyoroti perubahan aturan pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia. Ia mengungkapkan, sebelum UU Omnibus Law Cipta Kerja disahkan, pemenuhan kebutuhan pangan wajib dipenuhi dari produksi dalam negeri. Namun dalam UU Omnibus Law Cipta Kerja, pemenuhan kebutuhan pangan bisa juga dengan impor pangan.

"Artinya tidak ada lagi opsi impor pangan itu sebagai opsi yang terakhir," ungkapnya.

Arif mengatakan, dengan fakta impor yang demikian besar, wajar jika akhirnya publik mempertanyakan keberpihakan pemerintah pada rakyat. Ia juga mengungkapkan penyebab utama maraknya impor di Indoesia adalah lemahnya political will untuk menghilangkan hegemoni asing.

"Faktanya, kita amati di Indonesia itu lebih banyak dimensi politiknya, yaitu impor karena kita lemah political will kita untuk mengimbangi, mengurangi, atau menghilangkan hegemoni politik dari negara lain terhadap kita sendiri," pungkasnya.[] Nurwati

Posting Komentar

0 Komentar