Direktur Eksekutif INDEF: Tidak Ada Alasan Impor Beras, Saat Produksi Mencapai Puncak



TintaSiyasi.com-- Direktur eksekutif INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) Tauhid Ahmad menegaskan, tidak ada alasan yang rasional untuk melakukan impor beras saat produksi dalam negeri mencapai puncak.

“Saya kira, tidak ada alasan yang rasional untuk impor beras dilakukan di tengah situasi produksi mencapai puncak, stok cukup banyak dan harga relatif stabil saat ini,” ujarnya dalam Focus Group Discussion: Kebijakan Impor Beras; Demi Apa & Untuk Siapa? Kamis (18/03/2021) di kanal YouTube PKAD.

Ia menjelaskan, menurut BPS (Badan Pusat Statistik) terjadi peningkatan produksi gabah kering giling yang luar biasa besar pada bulan januari sampai april 2021.

“Sementara disisi lain, BPS memprediksi bahwa terjadi peningkatan produksi yang luar biasa besar. Januari April 2021 produksi gabah kering giling mencapai 25,37 ton atau jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2020,” jelasnya.

“Jadi hipotetik bahwa kita kekurangan beras, menurut saya, terbantahkan oleh data BPS ini, kita masih punya stok di Desember 2020 itu sekitar 7 juta ton dan sampai diperkirakan januari-mei itu ada sekitar 12,56 juta, jadi secara total memang masih relatif aman,” imbuhnya.

Ia mengungkapkan, jika dalam harga, ada penurunan harga gabah dan produksi dibulan Januari, Febuari secara nasional. 

‘'Mengenai harga, kalau kita lihat sudah agak relatif turun di Januari Februari secara nasional sekitar 4758, masih lebih tinggi dari HPP (harga pokok penjualan) pemerintah 4200. Jadi sebenarnya masih dinikmati oleh petani sampai Februari,” ungkapnya.

Ia menambahkan, bahwa secara history juga, tidak ditemukan alasan yang rasional untuk melakukan impor beras. “Ketika tahun 2019 Impornya itu hanya di bawah 500 ribu ton, 2020 tidak ada impor dari data Kementerian Pertanian, pengalaman 2020 lebih baik dari 2019,” tambahnya.

Dierktur INDEF sebagai lembaga riset independen dan otonom ini menambahkan untuk tetap terus memperjuangkan nasib petani di tengah impor beras yang akan dilakukan oleh pemrintah.

“Ada dua hal, pertama, bagaimana petani mendaptkan harga yang pantas? Yang kedua, mengurangi harga cost petani, apakah mendapatkan harga subsidi pupuk dan lain sebagainya oleh pemrintah,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Posting Komentar

0 Komentar