Bukan Kartini yang Feminis


Memasuki bulan april nanti, program-program di berbagai sekolah maupun instansi pemerintahan mulai marak dengan pernak pernik kartini. Bahkan hari lahirnya R.A. Kartini itu pun menjadi ajang perlombaan, seperti lomba busana wanita ala kartini yaitu kebaya nusantara, karya tulis yang berkaitan dengan kiprah Kartini sampai lomba olahraga sepak bola yang pemainnya wanita pun menjadi keseruan di hari kartini. Terkadang keseruan itu di sambut baik oleh para wanita saat ini. Terlepas mereka mengerti makna sebenarnya atau pun hanya ikut-ikutan untuk sekedar meramaikannya saja. Kebanyakan mereka menganggap bahwa sosok Kartini sebagai penolong kaum wanita dalam hal mencapai kesetaraannya di hadapan laki-laki. Kartini dianggap sebagai sosok emansipasi wanita yang menyamakan hak wanita sama dengan laki-laki. Dan mereka beranggapan posisi wanita dan laki-laki dalam mencari nafkah pun seimbang. Artinya bila laki-laki boleh bekerja, wanita pun bekerja. Tapi, fatalnya lagi sebagian dari mereka menuntut keseteraan yang melebihi dari sekedar bekerja. Misal dalam hal pembagian harta waris, adalah adil bagi mereka bila pembagian harta waris dibagi sama rata.

Euforia hari Kartini dijadikan para kaum feminis sebagai tunggangan untuk mencapai tujuan akan ide-ide kesetaraan gender. Mereka membisikkan kepada wanita-wanita Muslimah untuk setara di hadapan laki-laki. Jangan lemah dan harus memiliki kemandirian terutama dalam hal ekonomi. Karena mereka tahu kelemahan dari para wanita banyak terlihat dalam hal kecukupan materi. Para kaum feminis bukan hanya membisikkan ide-ide feminis tapi juga meracuni mereka dengan pemahaman yang sangat jauh dari tuntunan Islam sebagai pedoman hidup kaum Muslimah. Tentu saja ide-ide feminis tersebut berasal dari barat, yang asas kehidupannya sekularisme. Tak heran juga slogan Perancis mereka dengungkan pada hari kartini, yaitu, Liberte (kebebasan), egalite (kesetaraan) dan Fraternite (persaudaraan). 

Sangat disayangkan sekali apabila perayaan hari Kartini hanya untuk mengusung ide-ide murahan yang tidak bisa memuaskan akal  para kaum wanita terlebih lagi menentramkan jiwa para Muslimah. Para wanita harus hadir dan bangkit di mulai dari cara berfikirnya terlebih dahulu, bukan hanya tindakan yang mengacu kepada dukungan dari Barat yang hanya memuaskan nafsu dan ego mereka sebagai kaum wanita yang seharusnya dijaga kehormatannya. Berbicara jumlah, kaum wanita saat ini jumlahnya sampai empat kali lebih banyak dari kaum laki-laki. Artinya kaum wanita secara jumlah memang mendominasi populasi dunia. Hal ini lah yang sebenarnya menyebabkan pihak Barat hadir dan berperan sangat massif dalam ide-ide feminis. Kenapa? 

Dengan jumlah populasi yang banyak tersebut, mereka beranggapan bahwa wanita sebagai konsumen terbesar bagi produk-produk yang mereka hasilkan. Lihat saja, kosmetik, pakaian, tas, bahkan kendaraan, semuanya itu produk-produk yang dihasilkan untuk memanjakan kaum wanita dan bahkan wanita dipakai sebagai icon produk-produk mereka. Para kaum feminis berhasil meracuni pikiran kaum wanita bahwasanya standar wanita impian itu adalah mereka yang kaya dan mandiri. Wajar saja, pada akhirnya wanita dijadikan alat bagi kaum feminis untuk memuluskan nafsu para kapitalis dengan kemandiriannya secara ekonomi hanya untuk bisa mengkonsumsi barang-barang kaum kapitalis.

Selain dari nafsu kapitalis dalam hal memanfaatkan produk yang mereka hasilkan tadi, tentu saja racun Barat terhadap kaum wanita menjadikan wanita lengah terhadap fitrahnya sebagai seorang ibu pengcetak generasi peradaban dunia. Padahal, makna dan perjuangan R.A Kartini sendiri bukan lah untuk memperjuangan kesetaraan gender seperti apa yang mereka dengungkan. Dalam beberapa surat Kartini kepada teman-temannya di Belanda, Kartini sangat menyanjung ajaran Islam, dan mengatakan bahwa Allah satu-satunya yang harus dipuja. “Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Dan ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah.” (Surat Kartini kepada Nyoya Abendanon, 12 Oktober 1902).

Kemudian dalam surat lainnya jelas sekali sosok Kartini tidak pernah menyanjung negara Barat sebagai peradaban yang patut dicontoh. “Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Nyonya Abandenon, 27 Oktober 1902).

Sudah sangat jelas sekali bukan, bahwa sosok Kartini sebagai sosok emansipasi wanita sungguh maknanya sudah didistorsi oleh kaum feminis yang didukung oleh kaum kapitalis untuk memuluskan nafsu mereka menguasai peradaban dengan melemahkan peran wanita sebagai penghasil generasi-generasi pendobrak peradaban dunia dengan asas Islam yang dibawa. Islam hadir untuk memuliakan kaum wanita, di saat wanita mengalami penindasan di negeri-negeri Eropa yang menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu. Islam justru mendudukkan wanita sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya (al-madrasatul ula), dan sebagai manajer rumah tangga (wa rabbatul bayt). Wanita bukan dinilai dari kemandirian ekonomi selayaknya kaum kapitalis menilai mereka, tapi justru wanita dinilai dari tingkat ketakwaannya kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan apa yang sudah dilakukannya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Jadi, momentum hari Kartini ini seharusnya menjadi ajang muhasabah kaum wanita, bahwa Kartini bukan lah yang dicitrakan ala feminisme yang mengeksiskan dirinya lebih handal dari laki-laki dalam hal materi. Wanita saat ini harus mencerdaskan dan mengembalikan fitrahnya sebagai ibu yaitu sebagai pencetak generasi-generasi shaleh dan shalehah untuk dipertanggungjawabkan nanti dihadapan Allah SWT. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Hexa Hidayat, S.E

Posting Komentar

0 Komentar