Bom Bunuh Diri Makassar, Pengalihan Isu Lebih Besar?


Geger bom bunuh diri kembali terjadi di tanah air. Kali ini kota Daeng menjadi sasaran. Pada Ahad 28 Maret 2021 pagi terdengar sebuah ledakan hebat di depan gereja Katedral Makassar Sulawesi Selatan. Ledakan tersebut diduga kuat berasal dari bom bunuh diri sepasang pria dan wanita yang sempat tertangkap kamera CCTV. Aparat kepolisian memastikan bom yang digunakan pelaku memiliki daya ledak tinggi (high explosive).
(Liputan6.com, 28/03/2021) 

Sejauh ini jumlah korban luka akibat bom bunuh diri yang masih dirawat di rumah sakit tinggal 15 orang dari total 19 orang. Selebihnya sudah dipulangkan untuk rawat jalan. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, hari Minggu (28/03), mengungkapkan bahwa L sebagai terduga pelaku serangan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar punya kaitan dengan orang-orang yang melakukan serangan di Jolo, Filipina selatan (BBC.com, 28/03/2021).

Kecaman pun datang dari berbagai kalangan mulai dari tokoh masyarakat, pemuka agama hingga petinggi negeri. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir misalnya, mengecam serta mengimbau untuk tidak mengaitkan tindakan bom tersebut dengan agama dan golongan umat beragama tertentu karena bisa jadi aksi bom Makassar ini menjadi adu domba kepada rakyat Indonesia (Antaranews.com, 28/03/2021).

Sungguh amat disayangkan, modus bom bunuh diri masih terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang. Dikutip dari CNNIndonesia.com (28/03), Public Virtue Research Institute merilis daftar aksi teror berupa ledakan bom yang terjadi di Indonesia dalam dua dekade terakhir. Hasil kajian mereka menyebutkan ada sembilan kasus ledakan bom yang terjadi sejak 2000 lalu. Adapun rinciannya, yakni Bom Bali I (2002), Bom JW Marriot (2003), Bom Bali II (2005), Bom Ritz Carlton (2009), Bom Masjid Az-Dzikra Cirebon (2011), Bom Sarinah (2016), Bom Mapolresta Solo (2016), Bom Kampung Melayu (2017), serta Bom Surabaya dan Sidoarjo (2018). 

Namun beberapa hal dapat dianalisis dari rangkaian peristiwa bom bunuh diri di tanah air: 

Pertama, pola lama yang katanya serangan teroris masih terus berulang, ditambah lagi waktu dan tempat kejadian yang seolah sudah diatur karena selalu mengambil momentum besar umat tertentu seperti menjelang perayaan Paskah dan bulan Ramadhan. 

Kedua, kasus ini menjadi pengingat dan justifikasi bagi masyarakat terhadap isu terorisme yang seolah benar-benar masalah besar bangsa dan dunia, karena nyatanya jaringan teroris selalu ada dan tidak pernah diberantas tuntas.  

Ketiga, modus seperti ini berpotensi digunakan sebagai alat memecah belah dan mengarahkan opini demi kepentingan politik tertentu. Bahayanya lagi, banyak pihak yang mengklaim bahwa peristiwa menarik perhatian seperti ledakan bom tak lain merupakan upaya pengalihan isu yang lebih besar. Dilansir dari Liputan6.com (28/03), Ekonom Indef Enny Sri Hartati menilai adanya bom yang diduga bunuh diri tersebut hanya sebuah pengalihan isu-isu besar yang ada saat ini. Sebab tidak sedikit orang yang menduga akan ada isu baru setelah wacana impor beras menjadi sorotan.  

Lantas, bagaimana Islam memandang hal tersebut? Apalagi pelaku selalu dikaitkan dengan jaringan kelompok Islam. Tentunya Islam sebagai way of life (pedoman hidup) memiliki pandangan yang khas tentang permasalahan apapun sebagaimana firman Allah SWT: 

"...Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (TQS. An Nahl: 89) 

Islam pun diturunkan sebagai rahmat bagi sekalian alam: 

"Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta." (TQS al-Anbiya': 107) 

Islam amat menghargai nyawa seseorang sekalipun ia adalah non Muslim, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: 

"Sesungguhnya barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Mâidah: 32).

Rasulullaah Saw. pun bersabda: 

"Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non Muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.” (HR. At-Thabrani) 

Dari dalil-dalil tersebut amat jelaslah bahwa Islam memuliakan manusia baik Muslim maupun non Muslim. 

Adapun perkara jihad tak dipungkiri merupakan bagian dari ajaran Islam. Betapa banyak ayat yang membahas terkait jihad, baik dari secara bahasa (lughawi) maupun hukum (syar'iy). Di antaranya adalah bahwa jihad memerangi musuh Islam bertujuan agar agama Allah tegak di muka bumi: 

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti, maka tidak ada (lagi) permusuhan, kecuali terhadap orang-orang zhalim.” (TQS. Al-Baqarah: 193) 

Sayangnya, ajaran Islam yang mulia sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullaah Saw. dalam berbagai peperangan yang beliau lakukan telah dinodai oleh pihak tak bertanggung jawab sehingga jihad seolah menjadi perkara yang hina dan harus dihilangkan dari tsaqafah Islam. Padahal justru perkara jihad lah yang menjadi pemisah antara kebenaran dan kebatilan hingga Islam mampu menyebarkan rahmatnya ke berbagai pelosok negeri di dunia. 

Demikianlah, peristiwa bom bunuh diri Makassar hendaknya semakin membuat masyarakat khususnya kaum Muslimin sadar bahwa di balik skenario besar ini kuat diduga ada aktor utama di balik layar yang tengah berbahagia atas keberhasilannya mengadu domba antar umat beragama, menodai ajaran Islam serta melemahkan kelompok Islam ideologis. Siapa lagi kalau bukan musuh-musuh Islam? Sudah saatnya kita bersatu merapatkan barisan dan tak mudah terpedaya dengan tipuan mereka. Wallaahul musta'aan. 

"...Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya." (TQS. Ash-Shaff: 7-8). []

Oleh: Lely Herawati
(Praktisi Pendidikan)

Posting Komentar

0 Komentar