Banjir Impor Garam, Rakyat Jadi Geram

Masih ingatkah kalian dengan lirik lagu milik Koes Plus yang berjudul kolam susu? Di salah satu liriknya tertulis kalimat “Tanah kita tanah surga, Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Lirik tersebut menggambarkan keindahan dan kekayaan Indonesia yang melimpah ruah. Benarkah demikian?

Indonesia memang memiliki keanekaragaman hayati, lingkungan dan kekayaan maritim yang luar biasa. Bahkan, disebut sebagai salah satu negara terkaya di dunia dengan keadaan alamnya. Indonesia pun memiliki garis pantai terpanjang nomor dua didunia yakni 54.716 km. Tapi, predikat yang tersemat hanyalah sebatas isapan jempol belaka. Kenyataannya, banyak warga yang hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan kebijakan yang diambil pemerintah pun tak ada yang berpihak kepada warganya. Pemerintah kali ini akan membuka keran impor garam. 

Dilansir dari Tirto.id (17/03/2021), bahwa Keputusan yang diambil pada rapat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada tanggal 25 Januari 2021 menyebutkan, bahwa Pemerintah akan membuka keran impor garam sebanyak 3,07 juta ton. Menurut Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi Safri Burhanuddin menjelaskan, angka impor tersebut dihitung berdasarkan produksi 2021 yang diperkirakan hanya berkisar 2,1 juta ton, sementara kebutuhan terus naik tiap tahunnya dan mencapai 4,67 juta ton. Dan Jika terealisasi seluruhnya, impor 2021 ini juga akan menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Menurut data UN Comtrade, impor garam terbesar RI pernah dicapai pada 2018 sebanyak 2,839 juta ton dan pada 2011 sebanyak 2,835 juta ton.

Kebijakan yang diambil pemerintah tersebut banyak mendapat tanggapan dari beberapa pihak, salah satunya yakni Ketua Asosiasi Petani Garam Indonesia (APGI) Jakfar Sodikin. Beliau menyayangkan keputusan impor garam yang terus berlanjut, apalagi disertai pembatalan target swasembada. APGI menilai impor garam akan semakin membuat penambak terpuruk karena harga garam di tingkat petani akan semakin tertekan seiring membanjirnya pasokan garam impor.

Pemerintah yang seharusnya membuat kebijakan sistematis untuk memenuhi kebutuhan garam industri, justru melakukan pembatalan swasembada dan abai terhadap petani garam. Hal ini sesuai dengan keputusan impor garam dalam UU Cipta Kerja yang jelas merugikan rakyat. Panen garam melimpah yang seharusnya dapat menjadi keuntungan untuk petani, justru malah tidak laku di pasaran.

Jika hal ini berlanjut maka target pemerintah untuk swasembada garam yang direncanakan tahun 2022 pastilah gagal. Jika negara terus melakukan impor, hanya akan menambah luka di hati rakyatnya. Pasalnya, kebijakan tersebut hanya akan membuat petani dan penambak garam merugi serta gulung tikar.

Selain itu, apakah dengan impor bisa menjadi negara besar nan mandiri yang disegani negara lain? Justru hal ini dapat menyebabkan ketergantungan kepada negara lain dan membuka peluang intervensi pihak luar terhadap kedaulatan negara. Itulah yang akan terjadi jika sistem yang kita gunakan adalah sistem kapitalis seperti saat ini.

Namun, Islam memiliki solusi atas hal tersebut. Karena Islam tak hanya agama saja, tapi juga ideologi. Setiap sendi kehidupan telah diatur dan dipandu oleh Allah SWT melalui Al Quran dan Sunnah. Dan aturan tersebut pastilah akan membawa kemaslahatan bagi umat.

Dalam Islam kebutuhan pokok seperti pangan adalah suatu kebutuhan yang sangatlah penting dan utama. Negaralah yang harus memenuhi kebutuhan tersebut, serta menyediakannya dengan mudah, murah, tak membebani dan tak merugikan produsen maupun konsumennya. 

Negara juga harus menjaga kestabilan pangan dalam negeri yakni dengan jalan mengawasi produksi dan peredaran barang di masyarakat. Setiap barang yang diproduksi haruslah dapat beredar secara merata dan memenuhi kebutuhan seluruh rakyat. Negara melarang adanya penimbunan, penipuan, praktik riba dan monopoli serta mengawasi kestabilan harga barang, sehingga baik petani, penjual maupun pembeli tidak merugi.

Negara juga harus memberikan edukasi, ilmu yang mumpuni serta pemanfaatan teknologi bagi petani dan penambak, sehingga dapat mengoptimalkan produksi. Prediksi cuaca pun sangat diperlukan bagi petani dan penambak karena hal tersebut mempengaruhi keberhasilan dalam produksi. Negara juga haruslah menganalisis dan mempelajari kemungkinan terjadinya perubahan iklim, cuaca ekstrem bahkan fenomena alam itu.

Inilah solusi yang ditawarkan Islam. Solusi yang bersumber dari Sang Pencipta, yang Maha Mengetahui segalanya. Jika kita mengambil Islam sebagai solusi, boleh jadi negara kita akan menjadi negara besar yang mandiri. 

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. al-A’raf: 96)

Wallahu a’lam bishshawab.[]

Oleh: Deny Rahma
(Anggota Komunitas Setajam Pena)

Posting Komentar

0 Komentar