Atasi Krisis Air Bersih dengan Solusi Islam


Saat ini sering kita jumpai pembangunan jalan atau gedung-gedung. Tidak sedikit pembangunan ini menimbulkan masalah di lingkungan sekitarnya. Salah satunya adalah krisis air bersih. Dikutip dari laman Notif.id, Maret 2021 bahwa ratusan warga di Kampung Lembur Tegal RT03- 04/O4, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengalami krisis air bersih.

Diduga penyebabnya adalah sejak pengelola Hotel Grand Shunsine Soreang membuat pengeboran Air Bawah Tanah (ABT). Padahal warga tidak pernah memberikan ijin pembuatan sumur artesis tersebut kepada pengelola hotel. Kejadian serupa seperti ini bisa juga terjadi di tempat yang lain. Air sangat penting untuk kehidupan. Terutama aktivitas rumah tangga seperti mandi, memasak, mencuci dan sebagainya. 

Terlebih dalam Islam, air amat penting karena digunakan untuk bersuci (thaharah). Namun, krisis air bersih ini banyak dialami oleh sebagian besar warga. Baik di komplek perumahan atau daerah terpencil. Kurangnya akses masyarakat dalam memperoleh air bersih tentu akan menimbulkan masalah. Diantaranya menimbulkan penyakit dan lingkungan yang kotor. 

Krisis air bersih ini pun sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia bahkan dunia. Padahal Indonesia adalah negara maritim yang kaya air. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data sumber air minum bersih dan sumber air minum layak. Tahun 2018, hanya 39,16 % rumah tangga yang memiliki sumber air minum layak (pdamtirtabenteng.co.id, 22/10/2019). 

Beberapa faktor penyebab krisis air bersih yaitu, pertama, berkurangnya daerah resapan air akibat maraknya pembangunan yang mengabaikan amdal. Selain itu, merugikan masyarakat seperti berkurangnya air sumur warga. Hal ini tidak terlepas dari mudahnya pemberian ijin usaha kepada perusahaan. Parahnya ketika musim hujan, malah banjir yang terjadi. 

Kedua, terjadinya eksploitasi mata air oleh pebisnis air minum kemasan. Akibatnya, masyarakat harus menganggarkan biaya lebih untuk membeli air minum. Ketiga, iklim ekstrem dan pemanasan global. Keempat, deforestasi atau pembabatan hutan secara masif. Faktor ini adalah yang paling utama dalam menyebabkan krisis air bersih karena mengurangi daya resap tanah. Bahkan menimbulkan bencana longsor jika curah hujan tinggi.

Dalam Islam, air adalah kepemilikan umum. Yakni, masyarakat dapat memperoleh air dengan mudah secara bersama-sama. Seperti air sungai, laut dan danau. Rasulullah saw. bersabda, "Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api." (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Negara tidak boleh membiarkan sumber-sumber mata air dikuasai individu atau swasta. Hanya negara yang berhak untuk mengelolanya. Kemudian didistribusikan air bersihnya kepada rakyat. 

Selain itu, negara harus memperbanyak daerah resapan air dan menghentikan pembangunan yang merugikan masyarakat dan lingkungan. Kemudian, membersihkan daerah aliran sungai, reboisasi dan mendorong masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan, tidak boros dalam menggunakan air.

Namun, sistem ekonomi kapitalisme dan politik demokrasi yang selama ini berkuasa, telah membuat perusahaan leluasa dalam mengeksploitasi alam yang berakibat pada kerusakan lingkungan. Untuk itu, perlu sistem Islam yang menggantikannya agar alam kembali lestari. Sesungguhnya Allah Swt telah menciptakan keseimbangan alam selama manusia tidak berbuat kerusakan. 

Hal ini telah dipraktikan pada masa keKhilafahan Islam. Saat itu, kota-kota tertata rapi dan asri dengan sistem manajemen dan pasokan air yang sangat maju. Air mengalir ke berbagai tujuan sebagaimana mestinya tanpa menimbulkan bencana. Kebutuhan air rakyat dapat terpenuhi. Begitu pun dengan kebun-kebun atau lahan yang dapat terairi karena sistem irigasi yang baik.

Tentu kita berharap agar kehidupan yang penuh berkah tersebut dapat terwujud kembali. Saatnya Islam kembali hadir memimpin dunia dalam menciptakan kesejahteraan dan kemaslahatan bagi seluruh alam. Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

Oleh: Nina Marlina, A.Md.
(Penulis Bela Islam)

Posting Komentar

0 Komentar