Arus Moderasi Terus Menggerus Dunia Pendidikan

Pemerintah membuat kebijakan baru lagi mengenai pendidikan di negeri ini melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Kemendikbud, Nadiem Anwar Makarim  merancang Draf Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035. Waktu yang cukup panjang tapi kebijakan serampangan. Disebutkan visi pendidikan Indonesia di tahun 2035 adalah membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila (Tempo.co, 10/03/2021). 

Terlihat banyak yang tidak setuju dengan kebijakan tersebut, banyak muncul protes dari masyarakat, pakar pendidikan bahkan sampai ormas islam. Bahkan hilangnya frasa “agama” bertentangan dengan konstitusi yang dianut di negeri ini sendiri. Sebagaimana yang diungkapkan Haedar,“ hilangnya frasa agama dalam visi pendidikan bertentangan dengan konstitusi. Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 berbunyi: "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan Undang-Undang" (Tempo.co, 10/03/2021).

Polemik penghilangan frasa agama dalam peta jalan pendidikan yang terus bergulir di Kemendikbud, pemerintah ingin menghapus dengan berbagai dalih yang mereka ajukan. Dan supaya muatan agama khususnya islam benar-benar mereka hilangkan secara pelan tapi pasti. Alih-alih negeri ini mencari solusi bagi pendidikan di negeri ini, justru mereka mengabaikan nilai agama yang seharusnya dipedomani. Makanya pendidikan di negeri ini menjadi kacau, karena sudah salah dari asasnya.

Negeri yang mayoritas Muslim tetapi nilai agama mereka berangus, generasi yang haus akan nilai agama malah dihalangi untuk mendapatkannya. Lantas pendidikan seperti apa yang akan diharapkan di negeri ini? Apakah pendidikan seperti Barat yang nilai agama tidak mereka ambil dalam menjalani kehidupannya? Pendidikan Barat adalah sekularisme yaitu dikotomi ajaran agama dipisahkan sehingga menghasilkan generasi yang jauh dari ruh Islam. 

Sekularisme adalah ajaran yang sangat berbahaya dalam pendidikan, inilah akar masalah pendidikan di negeri ini karena membuang jauh-jauh nilai agama dalam kehidupannya. Sehingga kita tidak heran berbagai kebijakan yang selalu menyudutkan Islam selalu muncul, seperti SKB 3 Menteri tentang Jilbab ( kerudung ) dalam lingkungan pendidikan menjadi dilarang.

Tatanan pendidikan di Indonesia sekularistik dan materialistik terbukti gagal melahirkan manusia yang shaleh sekaligus menguasai IPTEK. Negeri ini sudah lama mengadopsinya sejak dua kurikulum pendidikan keluaran dua departemen yang berbeda yakni Depag dan Depdikbud. Sehingga sangat kuat sekali pemisahannya agama dan cabang ilmu lainnya memang terputus kaitannya dengan agama.

Generasi kita saat ini tidak memiliki kepribadian yang unik yaitu memiliki kepribadian yang menyatukan islam dalam kehidupannya. Kita tidak heran banyaknya generasi yang tawuran, pacaran, narkobaan dan lain-lainya, ini akibat membuang nilai agama dalam kehidupan yang seharusnya diambil untuk meningkatkan perilaku yang baik dalam diri anak didik malah akan dihapus. Sungguh terlalu.

Karena bahayanya kebijakan ini maka Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Muzammil Yusuf bahkan meminta draf peta jalan pendidikan yang sedang disusun agar dicabut oleh Kemendikbud. Dikutip dari laman (Republika.co.id (9/3/2021). Kebijakan ini sungguh mencoreng harga diri umat islam yang sangat mayoritas dinegeri ini. Dan dalam islam diperintahkan mengambil islam secara menyeluruh bukan separuh-separuh.

Karena itu penyelesaian problem pendidikan ini harus diselesaikan secara menyeluruh melalui perubahan paradigma pendidikan sekuler menjadi paradigma Islam. Yaitu menjadikan Islam sebagai dasar arah dan tujuan pendidikan. Yang berlangsung secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai perguruan tinggi. Pendidikan Islam akan mencetak generasi yang unggul, cerdas dan punya kepribadian yang khas yang berbeda dengan akidah yang lainnya. Islam sangat jelas menanamkan nilai agama ke
dalam diri anak didik dan mencegah siapa saja yang menyuarakan pemikiran selain Islam. 

Sehingga di sini pentingnya peran negara dalam mewujudkan itu semua. Negara akan melayani urusan umat sesuai dengan akidah yang terpancar di dalamnya apalagi perkara pendidikan. Karena pendidikan dalam Islam merupakan hal yang wajib didapatkan oleh masyarakat.

Kita tidak setuju frasa agama dihapuskan umat harus sadar dan berpikir tentu tidak menginginkan wajah pendidikan Indonesia hancur dan menghancurkan generasi tanpa didikan agama. Maka sudah seharusnya kita terus ikut andil menyuarakan penolakan keras terhadap wacana ini. Melakukan penyadaran umat bahkan pendidikan tanpa pengaruh agama akan menuai celaka di kemudian hari. Islam sebagai agama yang paripurna dan sempurna bukan hanya mengatur perkara kecil tentang ibadah tapi juga pembentukan karakter yang khas bagi peserta didik. Tujuannya agar mereka bukan saja pintar dalam perkara ilmu pengetahuan tapi juga beriman dan bertakwa kepada Allah.
 
Beda halnya jika dengan sistem Islam dalam membangun tujuan pendidikan yaitu untuk membangun kepribadian Islam yaitu memiliki akhlakul karimah. Peta Jalan Pendidikan dalam sistem Islam adalah upaya sadar, berstruktur serta sistematis untuk menyukseskan misi penciptaan manusia sebagai hamba Allah yang taat akan kepada aturannya. Asas pendidikan dalam Islam adalah akidah Islam. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah menguasai tsaqafah Islam dan membentuk syakhsiyyah Islamiyyah dan menguasai ilmu kehidupan. Visi pendidikan dalam Islam adalah membangun dan memajukan peradaban Islam. Negara bertanggung jawab penuh dalam mengarahkan potensi peserta didik dan calon intelektual, serta mengupayakan agar pendidikan dapat diperoleh rakyat secara mudah karena pendidikan merupakan kebutuhan pokok.

Negara akan memberikan fasilits yang lengkap agar anak didik sangat mudah mendapatkan ilmu, baik ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu yang dipelajari dan apa pun yang diteliti akan menghasilkan satu kesadaran prioritas dan urgensi dalam pandangan hukum syara’. Khalifah akan memperbanyak program studi dan mencetak SDM yang cukup agar segera dapat menyelesaikan masalah umat dan membatasi/menutup program studi yang berasas tsaqafah asing. Memanggil tenaga-tenaga pendidik yang bersedia mengajar di mana saja dan dibukakan sekolah agar tidak ada warga negara Khilafah Islamiyah yang tidak terdidik.

Sehingga semua masyarakat akan menikmati pendidikan dari negara dengan mudah akan berjalan optimal jika ada pembagian peran yang jelas antara kesadaran individu dalam beramal, kontrol dari masyarakat dan partai politik karena mereka memahami hukum syara dan yang paling penting adalah peran negara dalam membina akidah umat, menetapkan kebijakan, menyediakan sarana prasarana, pendanaan yang cukup dengan sistem ekonomi Islam dan suasana yang mendukung keoptimalan tersebut. 

Wal hasil apalagi yang diragukan dengan sistem Islam yang betul-betul menerapkan Islam secara menyeluruh, akan terwujud generasi yang tangguh yang siap menjadi pembela kebenaran. Sudah saatnya Islam memimpin negeri ini bahkan dunia karena aturan yang terkandung di dalamnya memberikan rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bish-shawwab.[]

Oleh: Nanti Manik, S.Pd.I

Posting Komentar

0 Komentar